Rabu, 10 April 2013

Runtuhnya komunisme Eropa Timur dan Hegemoni Amerika Serikat (tesis)

BAB I
PENDAHULUAN
A.  Latar Belakang
Periode kekaisaran Rusia berakhir tahun 1917. Selama periode itu, pemerintahan otokrasi Rusia hanya berpihak pada kaum Feodal. Dengan masuknya kapitalisme di tangan Tsar, kesenjangan sosial terasa semakin bertambah berat. Dari kondisi inilah Kaum Liberal dan Sosialis-Komunis lalu mengakhiri Tsar dan menggantinya dengan pemerintahan yang sama sekali baru. Revolusi sosial tahun 1917 telah mengubah Rusia menjadi komunis dalam imperium Union of Sonyet Socialist Republics (USSR). Dari Rusia mulailah komunisme disebarkan ke seluruh dunia dan mengancam negara-negara kapitalis Barat. Pemimpin komunis mulai dari Lenin, Stalin sampai Chornenco adalah sosok proletar yang mendogmakan Optimisme Marxisme-Laninisme yang terus direvisi. Ironisme, dogma itu disampingkan dengan teror dalam praktek rezim yang totaliter.
Pada Perang Dunia II, duet Amerika Serikat dan Uni Sovyet menunjukkan posisi dominasinya. Tetapi kemudian keduanya saling bersaing berebut supremasi adidayanya dalam Perang Dingin antara Blok Komunis dan Kapitalis-Demokrasi. Sejak Presiden AS Truman sampai George Bush penyebaran komunis ditentang dengan aksi pembendungan dan penangkalan. Setelah berkali-kali terlibat konflik, langkah-langkah détente terus direalisasikan, walau ketegangan itu masih ada. Akhirnya kekalahan berada di pihak Uni Sovyet. Keadaan ekonominya terkuras dan ideologinya tak dapat menjawab kenyataan zaman. Gorbachev (1985-1991) ingin memperbaiki kerusakan Uni Sovyet melalui Glasnost dan Perestroikanya. Ternyata programnya itu hanya menjadi dadakan runtuhnya komunis Uni Sovyet dan menandai berakhirnya Perang Dingin selama 40 tahun.
Amerika Serikat sekarang menjadi Superpower tunggal. Hegemonitasnya dapat dilihat dan dirasakan setiap tindakannya menjadi polisi dunia. Nilai-nilai Americana dijadikan tatanan global, sehingga setiap negara bahkan Perserikatan Bangsa-bangsa (PBB) ditempatkan berada dibawah kemauannya. Dominasi (AS) luar biasa meliputi segala bidang. Padahal yang dilakukan Amerika Serikat (AS) tidak lebih dari dalih-dalih untuk menguasai minyak dunia. Akibatnya ini muncul jaringan terorisme internasional. Sasarannya jelas, AS dan kawan-kawannya. Sekarang AS mendapat lawan baru, oleh karena itu As memimpin Perang Global membasmi terorisme.
B.  Pembatasan dan Perumusan Masalah
Pembatasan Masalah
Pembahasan ini hanya membatasi pada masalah mengenai “Runtuhnya Komonisme di Eropa Timur, dan Hegemoni Amerika Serikat”.
Perumusan Masalah
1.    Bagaimanakah perkembangan Uni Sovyet yang pernah menjadi adidaya menyaingi kekuatan Amerika Serikat.
2.    Bagaimanakah hegemoni Amerika Serikat dan dominasinya atas Uni Sovyet sehingga Uni Sovyet mengalami keruntuhan.
3.    Bagaimanakah sejarah kontemporer Amerika Serikat mengingat peran yang demonitasnya mempengaruhi perkembangan dunia.
C.  Tujuan Penelitian
1.    Untuk mengetahui perkembangan di Uni Sovyet yang pernah menjadi adidaya menyaingi kekuatan Amerika Serikat.
2.    Untuk mengetahui hegemoni Amerika Serikat dan dominasinya atas Uni Sovyet sehingga Uni Sovyet mengalami keruntuhannya.
3.    Untuk mengetahui sejarah kontemporer Amerika Serikat mengingat peran yang dimainkan mempengaruhi perkembangan Dunia.
D.  Metode Penelitian
Yang dimaksud metode penelitian adalah (Wagiono, 1994:30) “urutan langkah-langkah untuk melaksanakan penelitian berikut penjelasan tentang alat-alat yang digunakan untuk melaksanakan langkah-langkah tersebut”.
Langkah-langkah yang dilaksanakan harus logis dan sistematis sehingga siapapun yang melaksanakan penelitian dengan metode yang sama akan memperoleh hasil yang sama atau dengan tingkat kesalahan yang dapat diperhitungkan.
Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode historis. Metode Historis dalam penelitian manurut Winarno Surakhmad (1989:132) “berusaha mencari penjelasan mengenai sesuatu gejala pada masa lampau dan masih memungkinkan diadakan penelitian pada masa sekarang”.
Tujuannya adalah untuk melakukan rekonstruksi fenomena masa lalu secara sistematik, obyektif dan akurat dan menjelaskan fenomena masa sekarang atau mengantisipasi fenomena masa yang akan datang. Selanjutnya pendekatan metode penelitian yang digunakan bervariasi.
1.    Library Research (penelitian pustaka)
Mengadakan penelitian terhadap data-data sekunder pada buku-buku perpustakaan atau dokumen. Tujuannya untuk memperoleh informasi tentang pendapat pakar dan teori dari jenis karya ilmiah. Aplikasinya adalah mencatat kutipan pendapat-pendapat pakar dari buku dan tulisan lainnya.
2.    Heuristik
Metode Heuristik adalah (Louis Gottschalk, Terj. Nugroho Notosusanto, 1986:46) “pengumpulan sumber tertulis yang didapat berupa dokumen tidak langsung seperti buku sejarah, artikel dan publikasi lain yang pada dasarnya sebagai sumber sekunder”.
Sumber sekunder dikasudkan untuk memudahkan analisis informasi kejadian masa lampau yang berarti bagi masa sekarang dan mendatang. Aplikasinya melakukan pengkajian dari berbagai sumber buku yang relevan sebagai data sekunder.
3.Kritik Sumber
Dalam menentukan kredibilitas informasi dan kelayakan materi maka dilakukan pengujian eksternal dan internal terhadap sumber-sumber sejarah yang menurut Winarno Surakhmad (1989:134-136)
a.    Kritik eksternal yaitu suatu penetapan dan kelayakan informasi yang diterima dengan menetapkan keaslian atau otientik data dengan melakukan kajian otentitas tunggal, waktu dan tahun pembuatannya.
b.    Dengan menetapkan apakah informasi yang diterima ada unsur keterpaksaan atau kritik internal yaitu suatu proses penetapan kelayakan yang diterima tidak dapat memberikan informasi.
Kritik sumber dalam penelitian ini mengandung kredibilitas dan kalayakan informasi yang bersifat eksternal artinya sumber-sumber informasi tertulis keabsahan dan keaslian. Dengan lain perkataan sumber yang berupa dokumen tertulis baik dari buku atau informasi tertulis lain bisa dipertanggung jawabkan sebagai sumber yang kredibel.
Aplikasinya penelitian ini hanya menggunakan kritik eksternal karena pembahasannya menggunakan data sekunder dari kajian pustaka.
4.    Herneneutika
Dalam melakukan penelitian ini sumber informasi tertulis dikumpulkan, dianalisis, kemudian diinterpretasikan. Cara yang dilakukan adalah informasi dari kajian pustaka ditafsirkan sesuai dengan kemampuan dan pemahaman yang maksimal. Oleh karena itu seorang peneliti harus berpikir kritik dan memiliki pemahaman yang cermat terhadap pembahasan topik masalah yang diteliti. Aplikasinya peneliti ini melakukan analisis secara kritis terhadap hasil kajian sumber data sekunder kemudian diinterpretasikan sebagai satu kesimpulan.

5.    Metode Diskriptif
Metode diskripsi adalah suatu metode yang dapat digunakan untuk meneliti sekelompok manusia, suatu set kondisi, suatu sistem pemikiran atau suatu kelas peristiwa pada masa sekarang.
Tujuan dari penulisan ini adalah (Muh. Nazir, 1985:63) “untuk membuat diskripsi, gambaran atau lukisan secara sistematis, vaktual dan akurat mengenai fakta-fakta, sifat-sifat serta hubungan antara venomena yang diselidiki”.
6.    Historiografi
Pada tahap akhir metode penelitian yang dilakukan adalah (Arief Furham, 1982:51) “mencoba mensintesakan peristiwa sejarah yang diperoleh melalui hasil rekaman sejarah serta diuraikan secara bertahap dan berturut-turut”.
Pada dasarnya peristiwa sejarah telah direkam dan ditulis oleh para sejarawan dan terus dilakukan analisa sehingga buku-buku kajian sejarah selalu mengalami perubahan.
Aplikasinya bahwa hasil penelitian sebagai bagian dari kajian yang relevan, karena penelitian sejarah terus berkembang dan hasilnya dapat dijadikan reverensi pada masa sekarang dan yang akan datang.




BAB II
HASIL PENELITIAN
A.  Diskripsi Informasi Penelitian
1.    Komunis Rusia dan Perkembangannya
a.       Pemerintahan komunis Rusia
1)      Rusia pada masa akhir Tsar Nicholas II
Di zaman yang sudah berkembang liberalisme di Eropa Barat, kaisar Nicholas II (1896-1917) masih mempertahankan sistem kekuasaan pemerintah yang absolud. Paham liberalisme adalah paham Revolusi Prancis yang telah meluas pengikutnya di Eropa. Paham ini mulai masuk di Rusia maka tradisi pemerintahan absolud mendapat kecaman dari kaum leberalisme dan sosialisme. Sebab sistem pemerintahan semacamini kaum Feodal bangsawan menindas rakyat jelata sebagai yang tertindas. Kepemilikan tanah hanya dimonopoli kaum Feodal Bangsawan. Rakyat kecil hanya menjadi petani pengarap tidak berbeda dengan sistem perbudakan. Kalaupun rakyat punya tanah, hanya dimiliki secara kolektif (mir) akhirnya tanah mir ini dikuasai oleh satu orang diantara mereka yang disebut petani kulak. Persoalan ini telah ditentang kaum liberal sejak zaman Tsar Alexander II (1855-1881). Pada waktu itu lalu dikeluarkan Undang-Undang Emansipasi tahun 1861 tentang kepemilikan tanah dan Undang-Undang Zemtvo tahun 1864 tentang otonomi daerah maka untuk
pertamakali di Rusia ada keterwakilan golongan rakyat (Duma) dimana rakyat dilibatkan dalam urusan kekuasaa. Tetapi dizaman Tsar Nicholas II ini masalah monopoli tanah dan pembentukan wakil rakyat tidak ada realisasinya. Sementara itu Rusia memasuki zaman dibangunnya industrialisasi dan modernisasi modal kapital diperoleh dari pinjaman Tsar dengan Prancis. Industrialisasi dalam perkembangannya dimaksudkan untuk mengejar ketinggalannya dengan negara barat. Untuk menjaga setabilitas industrinya dilakukan proteksi industri. Kaum buruh di Rusia sudah mulai tumbuh dan juumlahnya semakin bertambah. Kemajuan industrialisasi di Rusia ternyata membawa kritik kaum Sosialis Marxis. Paham sosialisme telah mulai dipopulerkan George Plekhanov tahun 1898. Pada intinya kritik kaum Marxis adalah kecaman-kecaman terhadap ekses-ekses dalam industrialisasi sistem kapitalis yang dikelola oleh kaisar yang berpikiran feodalisme dan kapitalisme.
Tentunya masih moderat yaitu (Soebantardjo, 1956:102) “persamaan dalam hukum, kemerdekaan pers, berbicara, berkumpul, dan perbaikan nasib buruh dan tani”.
Tetapi tuntutan itu semakin bertambah keras setelah kaum Marxis mengadakan kongresnya di London tahun 1903. Tuntutan barunya adalah bermaksud mengganti secara total pemerintahan otokrasi menjadi sistem yang sama sekali baru masyarakat sosial-komunis. Bagi kaum leberal tidak sekeras itu tuntutannya, yang dikehendaki adalah pengurangan kekuasaan raja dengan sistem Undang-Undang Dasar dan perbaikan nasib kaum buruh. Hal tersebut disampaikan kepada Tsar dalam suatu Petisi Leberal yang disampaikan oleh Gapon dalam suatu demonstrasi damai tanggal 22 Januari 1905. Petisi itu disambut dengan rentetan tembakan menyebabkan ratusan buruh tewas. Suasana berubah menjadi revolusi. Revolusi menghasilkan persetujuan bahwa Tsar Nicholas II bersedia membentuk Duma (wakil rakyat). Antara tahun 1906-1912 pembentukan Duma terjadi tarik ulur antara Tsar disatu pihak dengan kaum liberal dan sosialis dilain pihak. Tsar hanya menginginkan anggota Duma itu diisi oleh mayoritas kaum koservatif yang reaksoner (pendukung Tsar).
Pada tahun 1914 pecah Perang Dunia I. rakyat Rusia dilibatkan dalam perang tersebut dan jumlah biaya sangat besar untuk kepentingan Tsar yang kecil. Kepentingan Tsar adalah hanya karena keterikatannya pada Pripel Etente 1907 dengan Prancis serta obsesinya tentang gerakan Pan Slavisme mengenai Serbia Raya. Rakyat sudah jemuh perang, pernang politik air hangat sudah membebani rakyat. PD I akan lebih membebani lagi. Perang ini banyak ditentang oleh rakyat terutama Lenin yang selalu meneriakkan Slogan anti perang sebab itu hanya perangnya kaum kapitalis. Rakyat dalam keadaan sudah lapar butuh makanan tetapi tentara hanya disuruh perang. Akhirnya terjadilah revolusi sosial pada bulan Februari sampai Oktober 1917. Dalam revolusi ini Kaisar melarikan diri dan akhirnya dibunuh. Dengan demikian kekuasaan pemerintah sistem absolud telah berakhir. Zaman akan berganti yaitu terbentuknya masyarakat komunis oleh kelompok kecil revolusioner yang dikenal dengan Bolsyewik.
2)      Pengaruh Marxisme Leninisme di Rusia
Karl marx (1818-1883) adalah cendekiawan Jerman. Bersama dengan Friederich Engels, ia menjelaskan perlunya mengubah sistem masyarakat yang dinilainya telah rusak, pemikirannya itu dituangkan dalam tulisan bukunya yang berjudul Manifesto Komunis dan Das Kapital. Ajran Karl Marx adalah hukum dialektik yang mengupas tentang sosialisme ilmiah yang berisi hukum perkembangan masyarakat. Oleh pengikutnya (Marxis) ajaran Karl Marx ini mendapat Revisi dan inovasi terutama Lenin, Lenin dikenal seorang revisionis Marxisme. Ia mengadopsi pemikiran Karl Marx tetapi diberi tafsiran khusus. Tujuannya adalah sebagai strategi untuk mewujudkan masyarakat Komunis seperti yang dicita-citakan Marx. Dari sinilah maka ada ajaran Marxisme-Laninisme atau Komunis. Dari ajaran ini revolusi sosial Rusia berhasil dan pemerintah komunis dapat dipraktekkan.
Berdasarkan hukum dialektik. Dalam Manifesto Komunis Marx menandaskan (William Ebenstein, Terj. Alex Jemadu, 1985:7) “bahwa sejarah seluruh masyarakat hingga sekarang merupakan sejarah perjuangan kelas”.
Mengenai gerak dialektik akan berjalan dengan tahapan masyarakat tahap premitif, perbudakan, feodalis, kapitalis dan komunis. Untuk mencapai masyarakat komunis, kaum proletar merebut dari tangan kapitalis. Lalu ada tahap transisi yang dinamakan diktator proletar,akhirnya tercapailah masyarakat komunis.
Dalam pandangan Karl Marx yang disebut masyarakat komunis adalah (Miriam Budiardjo, 2001:82) “suatu masyarakat dimana tidak ada kelas sosial dimana manusia dibebaskan dari keterkaitannya kepada hak milik pribadi dan dimana tidak ada eksploitasi, penindasan dan paksaan. Dan komunisme merupakan tahap akhir dimana tidak ada kelas lagi”.
Tetapi yang aneh disini bahwa untuk mencapai masyarakat komunis itu melalui kekerasan yang memperebutkan kekuasaan antara kaum buruh dan kekuasaan kapitalis. Marx pecaya bahwa revolusi akan terjadi lebih dulu di negara-negara yang kapitalisnya telah maju, sebab kaum proletar sudah cukup banyak. Untuk menjalankan revolusi, kaum proletar dipandang akan menjadi tiang utama. Sebab kaum buruh suatu saat akan tahu dan sadar sendiri dengan penderitaan yang dialami akibat dari keserakahan kaum kapitalis.
Tetapi Lenin menyimpang dari Marx. Lenin setuju tentang revolusi tetapi bila keadaan telah mendesak revolusi tidak perlu menunggu matangnya kapitalisme. Revolusi dapat saja terjadi di negara seperti di Rusia, walaupun jumlah kaum buruhnya masih sedikit. Dalam hal ini Lenin menilai bahwa Rusia saat itu telah mulai memasuki tahap kapitalisme awal.
Mengenai kesadaran kaum buruh, dikatakan bahwa (Saiful Amri, 2004:54) “kesadaran itu dapat ditanamkan kepada kaum buruh hanya dari luar melalui organisasi revolusioner. Oleh sebab itu konsep diktator proletar yang dikatakan Marx dapat diperbaharui menjadi diktator buruh dan tani”.
Sumbangan Lenin dalam teori komunisnya adalah pamfletnya yang berjudul “What To Be Done” tahun 1902. Pamflet itu merupakan konsep revolusioner yang profesional didalamnya ada langkah-langkah.
Langkah pertama adalah membentuk organisasi buruh revolusioner dengan agen-agen minoritas revolusioner yang bersifat rahasia dan dikendalikan dari pusat. Yang kedua adalah membentuk Partai Komunis yang bertugas merekrut anggota partai yang berasal dari kalangan apapun yang berfikiran revolusioner, profesional dan sanggup menjalankan tugas. Kemudian ketiga, mendidik dan menanamkan kesadaran sosialnya, sehingga bisa menjadi mentor, pemadu kaum sosial untuk menjadi agitator, organizer, propagandis dan menyebarluaskan leteratur. Kemudian keempat, Partai komunis akan beroperasi secara terbuka bila sistem lama dalam kondisi mencapai titik terlemah melalui infintrasi, inteljen dan sabotase. Terakhir kemudian mengambil kekuasaan bila kesempatan ada.

3)      Revolusi Sosial di Rusia tahun 1917
Menurut Ian Birchall (Muh. Sallh, 2002:1), “Revolusioner Rusia adalah terjadinya pengambilalihan kekuasaan secara paksa oleh rakyat karena pertentangan antara yang menginginkan perubahan baru dengan yang ingin mempertahankan sistem yang sedang berjalan setiap hari”.
Revolusi sosial di Rusia disebabkan oleh penolakannya terhadap konsep-konsep liberalisme. Tetapi yang menjadikan penyebab langsung terjadi revolusi adalah tertunda-tundanya pemilihan anggota Duma, ikut sertanya Rusia dalam PD I yang akhirnya memberatkan rakyat dan terkurasnya bahan makanan untuk rakyat yang digunakan untuk perang.
Revolusi di mulai dengan aksi-aksi pemogokan umum pada bulan Februari 1917. Kemudian Tsar Nicholas II dianggap kaum revolusi di Istana Musim Salju. Lalu pemerintahan sementara dipimpin oleh Pangeran George L Vov dari kaum liberal. Akibat tidak ada pengalaman menjalankan pemerintahan, pemerintahan sementara ini akhirnya jatuh. Merikutnya Karensky dari kaum sosialis (Mensyewik) mengambil alih pemerintahan sementara. Ia membentuk pemerintahan republik dan rezim barunya dengan melibatkan semua unsur-unsur golongan Liberal dan Bolsyewik. Tetapi Karensky tidak didukung oleh kaum sosialis lain (Bolsyewik) yang berhaluan komunis. Ia dianggap tidak mempunyai konsep komunis yang jelas. Selain itu Karensky juga menghadapi Karnilov dari tentara putih yang masih setia pada Tsar Nicholas II. Kemudian Karensky mengahdapi Karnilov bersama-sama dengan kaum Bolsyewik. Paa saat itu kaum Bolsyewik diperbolehkan mempunyai sejata untuk menghadapi Kanilov. Inilah yang terjadi awal mula Bolsyewik mempunyai tentara merah. Kesempatan ini sigunakan oleh kaum Bolsyewik untuk menjatuhkan Karensky. Karensky jatuh pada tanggal 25 Oktober 1917 kemudian pemerintahan diambil alih oleh kaum Bolsyewik yang dipimpin Lenin dan Trotsky.
Langkah-langkah Lenin menjalankan revolusi melalui pembentukan partai, melakukan propaganda, infiltrasi, tidak kekerasan dan pengambil alihan kekuasaan. Dalam langkah yang terakhir itulah Karensky digulingkan pada tanggal 25 Oktober 1917. Untuk menghadapi intervensi asing yang bermaksud menggagalkan revolusi. Lenin mempertahankannya dengan tentara merah. Tentara ini telah dibentuk mulallui kegiatan infiltrasi kedalam tubuh teentara Tsar sehingga tentara tersebut mengalami demoralisasi pada waktu menjalankan Perang Dunia I maupun pada waktu awal-awal revolusi.
Negara Sekutu paa Perang Dunia I tidak mengakui perjanjian Brest Litovsk dengan pihak Jerman. Sebab negara sekutu menudukung Kaisar dan anti komunis Bolsyewik, sedangkan Perang Dunia I juga belum selesai, kemenangan Jerman terhadap Rusia masih bersifat sementara.
Selain itu ada tentara yang masih setia kepada Tsar (Joesoef Soy’yb, 1996:215) ‘akhirnya pecah perang saudara (1918-1920) antara pihak kontra revolusi Rusia Putih dengan Rusia Merah atau Komunis.
Rusia Putih dibantu negara-negara Eropa dan Amerika yang anti komunis dipimpin Jendral Denikin dan Wrangel. Karena tidak ada koordinasi yang baik dan tempatnya saling berjauhan usaha intervensi revolusi ini gagal. Dalam peristiwa ini Tsar Nicholas II dan seluruh keluarga dipenggal kepalanya.
Keberhasilan Revolusi Sosial di Rusia ini telah menyebabkan lenyapnya pemerintahan otokrasi Tsar. Dilain pihak keberhasilan Revolusi telah mengantarkan Lenin menjadi peminpin komunis tertinggi di Rusia. Selanjutnya nama baru Rusia adalah Federasi Republik Sosialis Rusia. Pemeintah ini dipegang oleh satu partai Komunis saja dari Pemimpin Tertinggi di Dewan Komisaris Rakyat. Revolusi sosial Oktober-Novermber di Rusia menjadi model dan basis perekayasaan revolusi di seluruh dunia.
Menurut (William Ebenstein. Terj. Alex Jemadu, 1985:24) “partai komunis di seluruh dunia harus melakukan revolusi meniru partai komunis Rusia yang berwatak rahasia, kepemimpinan oleh minoritas revolusioner profesional, kewenangan yang tersentralisasi dan penggunaan cara-cara ilegal”,
Propaganda yang mesti didengungkan dalam revolusi adalah slogan-slogan, hak-hak rakyat jajahan untuk menentukan nasib sendiri, mendukung gerakan kemerdekaan di seluruh dunia dibawah cengkraman imperialis dan menggabungkan petani dan buruh sebagai pilarnya.
Untuk itu pada tahun 1917 dilaksanakan Komintern (Komunis Internasional) . Badan ini bertugas memimpin dan mengembangkan komunis ke seluruh dunia. Dari sinilah penyebaran komunis ke seluruh dunia dimulai dengan kegiatan-kegiatan yang disebut komintern. Dan sebagai pusat komintern tersebut adalah terletak di Rusia.
4)      Komunisme dalam Prateknya di Uni Sovyet
Setelah berhasil memimpin revolusi tahun 1917, Lenin mendirikan suatu negara yang menerapkan prinsip-prinsip komunis ajaran Karl Marx. Ia mengeluarkan Undang-Undang Dasar baru Rusia tahun 1918 yang masih mencerminklan tahapan awal komunis. Berdasarkan Undang-Undang Dasar itu Lenin mulai memusnahkan golongan-golongan yang dianggap penindas. Mereka terdiri dari tuan-tuan tanah, pejabat negara, penguasa dan polisi Tsar. Selama dalam tahapan awal ini maka kekuasaan dapat dipusatkan pada pemerintahan pusat.
Dalam menerapkan prinsip-prinsip komunis pada tahap awal ini, pertanian dijalankan secara kolektif yang dikerjakan bersama-sama, milik, bersama, biaya bersama dan hasilnya dibagi menurut berat ringannya tugas masing-masing.
Tanah milik negara dan perseorangan tidak diperbolehkan dimiliki secara perorangan. Adapun seluruh hasil yang diperoleh para pekerjja dari tanah negara diperuntukkan untuk umum. Caranya hasil produksi itu semuanya diserahkan kepada negara dan nanti negara yang membagi dengan adil.
Industri dan pabrik-pabrik itu milik negara dan hasil barang pabril itu digunakan untuk umum oleh sebab itu hasil produksi semuanya diserahkan kepada negara dan negara yang membagi dengan adil. Namun demikian ekonomi dan pertanian komunis belum dapat terlaksana dengan baik. Kaum bulak enggan menyerahkan hasil bumi untuk negara. Petani juga tidak mau menanam yang lebih dari yang dibutuhkan. Tetapi kebijakan perekonomian baru atau New Economic Policy (NEP) selama tujuh tahun berjalan baik hasil bumi boleh dijual bebas tetapi disamping itu diadakan pertanian kolektif dan pertanian negara untuk menyaingi  pertanian bebas dari kaum kulak. Dengan demikian kaum kulak makin terdesak dan makin banyak kaum tani yang bergabung dalam pertanian kolektif.
Setelah Lenin wafat tahun 1924 terjadi perebutan kekuasaan diantara Pimimpin Partai di elit Politbiro Sentral Komunis. Mereka adalah Stalin, Trotsky, Zinovyev dan Kamenev. Akhirnya Stalin yang memenangkan perebutan itu selama Stalin menjalankan kekuasaannya, ia bertindak diktator dengan melakukan pembersihan terhadap semua lawan-lawan politik dan penentang gagasannya. Pada tahun 1924 Stalin punya gagasan tentang “sosialisme dalam satu negara”.
Intinya menurut (Saiful Amri, 2004:31) “bahwa sosialisme dapat dibangun di Rusia secara independen dari revolusi dunia sebagai pengabdian akan revolusi di seluruh dunia”.
Gagasan ini mendapat kecaman dari lawan-lawan politiknya yang berpikiran tentang revolusi komunis itu bersifat permanen. Kaum Komunis boleh menggunakan kapital asing, ahli ilmu pengetahuan asing untuk mencapai tujuan komunisme. Dalam meneruskan kepemimpinan Lenin, Stalin meneruskan kebijakan ekonomi NEP sampai tahun 1927. Kemudian ia menerapkan prinsip-prinsip komonis dalam rencana 5 tahun (1927-1932). Rencana ini dijalankan dengan pertanian secara kolektis. Tetapi pelaksanaannya dijalankan dengan paksa dibawah ancaman pembersihan. Lenin meniadakan petani kulak (penguasa tanah kolektif). Semua menjadi petani berjalan baik. Industrialisasi dipusatkan pada industri berat untuk perang. Industri ini digunakan untuk kesiagaan dalam Perang Dunia II. Pada tahun 1936 UUD yang  baru diberlakukan dan nama negara yang baru adalah Union Of Soviet Socialist Republics (USSR). UUD tersebut sebagai tanda berakhirnya revolusi tahap I dan dimulailah tahap II. Pada tahap ini masalah transportasi dikenalkan dengan angkutan masyarakat komunis. Tentang perburuan merupakan wakil-wakil pemerintah. Mengenai upah buruh bukan berdasarkan jam kerja tetapi kualitas pekerjaan.
Khruschev (1953-1964) berhasil menjadi pemimpin Sovyet setelah suruhannya membunuh kepala Komite Gesudartts Venoy Bezopasnopti- KGB (Dinas Rahasia Inteljen Uni Sovyet) lauranty Baria. Selanjutnya ia mengecam pemerintah totaliterisme Stalin. Ia beralasan bahwa keberhasilan sosialisme tidak semata-mata tergantung pada pihak kediktatoran dari seorang pemimpin, bahkan ia merupakan kesempatan bahwa negara komunis itu dapat hidup berdampingan dengan negara-negara yang lain yang sistemnya berbeda-beda. Akibat destalisasi ini Hongaria dan Polandia menuntut kemersekaan. Hongaria lalu diserang Uni Sovyet. Dewan Keamanan PBB hanya bisa protes.
Pada tahun 1960 terjadi krisis nuklir Kuba. Kapal nuklir Sovyet dipaksa kembali ke pengkalannya. Dari kejadian ini Leonit Braznev memimpin (1964-1982). Uni Sovyet langsung membangun kekuatan militernya secara besar-besaran. Biayanya mencapai 15% dari anggaran nasional, di AS hanya 7 %. Sampai tahun 1983 kekuatan persenjataan Sovyet telah mengungguli kekuatan AS. Dengan demikian Uni Sovyet benar-benar menunjukkan adidayanya atas rivalnya Amerika Serikat.
Dalam menjaga stabilitas negara, Breznev bertindak represif. Ia mengembalikkan kepemimpinan yang stalinis setelah sempat distalisis dimasa Khruschev. Tetapi tidak sampai melakukan pembersihan lawan, melainkan pengusiran, penomoran migrasi dimasukkan ke rumah sakit jiwa dan penjara. Di zamannya terjadi eksodos pengarang, musisi, politikus dan rakyat ke luar negeri untuk minta suatu politik di negara lain.
Dalam pengendalian negara-negara satelitnya di Eropa, Breznev bertindak tegas. Di Cekoslovakia tahun 1968 Sovyet menghentikan eksperimen Alensander Dubcek tenntang komunisme totaliter menjadi sosialisme berwajah kemanusiaan sebab liberalisme akan menggantikan monopoli Partai komunis.
Pada tahun 1979-1989 Breznev menyerang Afganistan untuk memperluas anggota Blok Timur. Tetapi Afganistan dibantu oleh negara-negara Islam dan AS membantu persenjataannya. Ternyata perang ini memakan waktu yang panjang sehingga menghabiskan senjata, tentara dan biaya yang besar bagi Uni Sovyet. Dampaknya terhadap perekonomian, Sovyet mengalami keterpurukan. Selain itu di Polandia pada tahun 1989 terdapat gerakan solidaritas pimpinan Lech Walesa yang didukung Paus Yohanes Paulus II. Gerakan ini menuntut Gomulka yang bertindak penindas mundur dari jabatannya dan diganti Eduardo Gierek.
Setelah Lionit Breznev meninggal lalu diganti oleh Constantin Cornenco kemudian Andrey Gromico. Selama masa pemerintahannya tidak banyak perubahan. Pergantiannya Mikhail Gorbanchev (1985-1991). Ia tidak menjalankan prinsip-prinsip komunis seperti pemimpin sebelumnya. Ia mencanangkan program Glasnost dan Perestroika untuk memperbaiki keterpurukan ekonomi Sovyet. Tetapi program ini hanya menjadi penyebab langsung runtuhnya Uni Sovyet tahun 1991.



b.      Uni Sovyet dan Amerika Serikat pada Perang Dunia II
1)      Kerjasama USSR dan AS pada masa Perang Dunia II
Uni Sovyet memulai kontak hubungan dengan Amerika Serikat sejak tahun 1933. Lalu dimantapkan lagi tahun 1936 Amerika mengakui Uni Sovyet. Hubungan ke dua begara yang berbeda faham ini dapat membaik setelah meningkatnya ancaman dari Jerman yang melakukan ekspansi  ( Labenctroum) dengan menuntut Sedetan dan Danzig. Keserakahan Hitler dipandang menjadi ancaman bagi kepentingan ke dua negara di Eropa barat. Demikian pula di Asia Pasifik Jepang sudah menunjukkan tanda-tanda ingin meluaskan perangnya dengan Tiongkok ke negara-negara Asia dan Pasifik.
Setelah Jerman merobek-robek Perjanjian Versailes, Uni Sovyet beraliansi dengan Prancis yang juga merupakan sekutu Amerika Serikat. Amerika berusaha menjaga kenetralannya dalam PerangDunia II. Tetapi Amerika tetap mensuplai senjata ke negara-negara aekutu Eropa termasuk Rusia. Amerika Serikat menjadi gudang senjata dengan pembelian tunai setelah itu sewa. Peran Rusia cukup besar ketika Perang Dunia II tahun (1939-1945) berlangsung. Rusia di front timur dapat mengusir Jerman dari wilayah Stalingrat, Rumania, Bulgaria, Polandia, Jerman Timur, dan Berlin. Bahkan Rusia dapat memaksa Jerman menyerah dihadapannya 7 Mei 1945. Di Front Barat setelah pendaratan tentara Amerika Serikat di Normandia dibawah Dwight Eishenhower 6 Juni 1944 tentara sekutu baru dapat mengembalikan keadaan selain itu AS menjadi penentu kemenangan dengan waktu yang lebih cepat termasuk di Asia Pasifik Amerika menjatuhkan bom atomnya di Jepang tahun 1945. Selama perang berlangsung ke dua negara bekerja sama membuat rancangan siasat perang dan membuat draf rencana perdamaian perang dan merintis berdirinya Perserikatan Bangsa-Bangsa tahun 1945.
Strategi pemenangan perang dibicarakan pada konferensi Casa Bianca tahun 1943 termasuk rancangan penyerahan tanpa syarat jerman. Konferensi Teheran membicarakan penaklukan Jerman dan pembebasan Pahlevi. Konferensi Kairo 1943 membicarakan rencana penyerahan Jepang harus tanpa syarat kepada sekutu. Konferensi Posdam 2 Agustus 1945 membicarakan tentang pembagian pendudukan sekutu atas Jerman dan kota Berlin yang dibagi empat (Inggris, Amerika Serikat, Perancis, dan Sovyet). Konferensi Yalta than 1945 menyepakati tentang bentuk pemerintahan Polandia mendatang dan garis batas 380 LU di Korea sebagai batas penempatan pasukan Amerika d Rusia melawan Jepang.
2)      Munculnya dua Negara Adikuasa Paska PD II
Setelah Perang Dunia selesai nama Amerika Serikat dan Uni Sovyet sebagai penentu kemenangan posisi politiknya menjadi sangat kuat bagi negara-negara lainnya. Keduanya membuktikan kedikdayaannya khusunya Amerika telah mampu membuat senjata nuklir di Jepang. Dominasinya atas negara lain berpengaruh terhadap keadaan dalam negeri negara lain. Uni Sovyet muncul menjadi negara raksasa dengan menganut faham komunisme. Amerika menjadi raksasa dunia menganut faham kapitalisme dan demokrasi leberal. Setelah Perang Dunia II Amerika Serikat berjasa banyak karena mendukung negara-negara yang berjuang mencapai kemendekaan. Kekuatan Amerika Serikat adalah kedudukan Materinya, dengan kekayaan yang besar menjadi kreditur negara terbesar didunia terutama diperuntukkan oleh negara-negara yang hancur akibat perang. Kekuatan Rusia terletak pada psikologinya yang memberi rasa kekuatan terhadap negara lain.

2.    Perang Dingin dan Uni Sovyet Menuju Keruntuhannya (1949-1991)
a.       Perang Dingin / Cold War (1949-1989)
1)      Timbulnya Blok Timur (komunis) dan Blok Barat (demokrasi)
Di akhir Perang Dunia II, Amerika Serikat dan Uni Sovyet melalui permusuhannya. Oleh karena itu Amerika Serikat bertekat akan memainkan peran pentingnya di dunia . hal tersebut karena agitasi dan ekspansi komunis ke beberapa negara. Selama Perang Dunia II berlangsung Uni Sovyet sudah menggunakan kekuatan militernya untuk mengembangkan komunis di Eropa Timur. Pada tahun 1947 Uni Sovyet melakukan ekspansi komunis ke Yunani dan Turki tetapi digagalkan AS, kemudian USSR mempersalahkan draf Konferensi Yalta tentang bentuk pemerintahan dan batas-batas negara komunis di Eropa. Selain itu Uni Sovyet telah mampu mengembangkan senjata nuklirnya dan melakukan uji coba tahun 1946. Pada tahun 1948 Uni Sovyet membantu partai komunis merebut kekuasaan di Yugoslavia tanpa dapat dicegah.
Pada tahun 1948 terjadi krisis Berlin pertama. Pasalnya Amerika Serikat, Inggris dan Perancis ingin memperkuat penduduknya di kota Berlin. Uni Sovyet dengan memblokade jalan barat antara kota Berlin dan Keseluruh Jerman. Kemudian dibalas dengan blokade jembatan udara, sejak itu Uni Sovyet mengakhiri blokadenya. Dari berbagai peristiwa ini maka Amerika Serikat memutuskan untuk melakukan pembendungan dan penangkalan ekspansi komunis ke seluruh dunia. Pada bulan April 1949 membentuk organisasi pakta pertahanan militer dengan nama Nort Atlantic Treaty Organization (NATO), untuk pertama-tama anggotanya II negara. Dengan berdirinya pakta pertahanan tersebut maka negara-negara didunia banyak yang menggabungkan diri dengan Amerika. Maka berdirilah blok barat yang berkaitan kapitalis-demokrasi dipimpin Amerika Serikat. Kemudian yang berhaluan komunis dikatakan Blok Timur atau Blok Komunis yang dipimpin Uni Sovyet pada tahun 1954 barulah berdiri pakta pertama militer komunis yaitu pakta warsawa.
2)      Aksi-aksi Komunis dan Pembendungan \
Berdirinya Blok Barat dan Blok Timur yang ditandai dengan terbentuknya Pakta militer merupakan bentuk perang provokasi. Suasana ini membawa ketegangan dunia, yang mengingatkan orang akan terjadi perang nuklir. Ketegangan dunia ini dikatakan sebagai Perang Dingin.
Perang Dingin melibatkan kegiatan spionase perang ideologi, perlombaan senjata termasuk program nuklir dan ruang angkasa aliansi anggota blok dan bidang ekonomi. Kegiatan spionase berupa jaringan mata-mata yang terbesar ke seluruh dunia untuk mengetahui rencana dan kemanapun masing-masing lawan. Jaringan mata-mata Uni Sovyet ialah KB (Komilet Gesudarts Venoy Bezopasnopti) dan Amerika Serikat CIA (Central Intelligence Agency).
Dalam perang ideologi adalah penyebaran faham demokrasi dan komunis ke seluruh dunia. Pendekatannya melalui ancaman militer, bantuan ekonomi, senjata, dan ilmu pengetahuan. Pendekatan militer adalah perang dan sering mengakibatkan terjadinya perang saudara seperti di Indonesia, Cina, Korea, Vietnam, Ethiopia dan Afganistan. Perang Dingin juga mengakibatkan  pecahnya nagara menjadi dua bagian, seperti Korea, Cina dan Jerman sebelum Uni Sovyet bubar. Tetapi tidak semua aksi-aksi komunis dapat di bendung. Ketika Nikita Khruschev menyerang pemberontakan kaum demokratik di negara-negara satelitnya, ternyata Amerika tidak berbuat apa-apa.
Dalam perlombaan senjata, ke dua negara berlomba ingin menunjukan kemampuan produksi persenjataan kutakhirnya, penjualan senjata, parade senjata, penggunaan senjata di daerah konflik samapai uji coba nuklir baik di laut, di darat dan di anngkasa. Sejauh ini belum pernah terjadi penggunaan senjata pemusnah masal di daerah konflik.
Persaingan dibidang ekonomi ditunjukan kegiatan mereka mendekati di Timur Tengah, misalnya pada waktu Perang Irak-Irak (1980-1986). Krisis Suez tahun 1956. Peristiwa yang paling mengkhawatirkan dunia adalah krisis nuklir Kuba tahun 1962. Sebab dua kekuatan sudah saling berhadapan di wilayah dekat Amerika Serikat. Situasi di Eropa yang paling rawan sebab Uni Sovyet sudah dikepung persenjataan nuklir dari berbagai arah.
3)      Upaya Détente dan Intervensi Amerikla Serikat
Sejak Perang Dingin dimulai, upaya peredaannya (detente) pun juga sudah di mulai. Komitmen Eisenhawer adalah mambatasi komunis.
Menurut (Richard Hosfstadter. Teri. Yusi A Pareanom. 2004:179 ‘ Ia berfikir akan melindungi fasilitas senjata nuklirnya bisa diserang USSR. Ia membawanya dikonferensi Jenewa tahun 1955 dan Perserikatan Bangsa Bangsa untuk membalas perlombaan dan pengawasan senjata, dan penghentian pengembangan senjata agar antara AS dan USSR saling mengijinkan kepengawasan lebih dekat sampai ke pusat-pusat militer. Gagasan itu divito. Sebab sudah dianggap sudah melanggar kedaulatan nasional).
Tetapi sikap Khruschev mulai lunak, setelah terjadi krisis Berlin tahun 1958 tentang pengosongan tentara di Berlin. Pada tahun 1959 Khruschev datang di gedung putih mulai ada kesepahaman bahwa masalah perlucutan senjata, masalah internasional yang menonjol harus diselesaikan di meja perundingan kahkan kekerasan.
Hubungan memanas lagi ketika krisis Berlin ketiga, di bangun tembok Berlin. Bahkan dibarengi USSR atas percobaan nuklirnya di atmosfir. Amerika dan sekutu membalas dengan lebih dasyat. Ketegangan dunia lebih memanas lagi ketika terjadi krisis nuklir Kuba tahun 1962 suasana hampir terjadi perang. Dari semua kejadian Uni Sovyet dibawah tekana AS untuk menandatangani perjajian  Non Pralifiasi Nuklir, lalu diikuti 107 negara. Untuk lebih menjamin agar tidak terjadi Perang Nuklir antara Gedung Putih dan Istana Kremlin di pasang Telex langsung “Hotline”..
Kemajuan hubungan kedua negara meningkat ketika tahun 1972 Nixon ke Moskow menemui Breznev. Hasilnya adalah adanya persetujuan untuk membatasi jumlah tempat peluncuran peluru kendali dan peluru serangan strategis.
Pada tahun 1974 di Wladiwostok, Presiden Gerald Ford dan Leonit Breznev mematangkan persetujuan mengenai perjanjian pembatasan senjata strategis (SALT) yang telah aktif dijalankan tahun 1972 hingga tahun 1979. Untuk itu tahun 1975 bersama 33 negara barat Ford dan Breznev mengikuti perjanjian keamanan bersama Eropa.
Di zaman Jimy Carter, perundingan-perundingan dengan Breznev dikaitkan dengan pelaksanaan hak azasi manusia. Breznev yang memerintah dengan menghidupkan stalimis mendapat kecaman.
Pada tahun 1985 melaksanakan perjanjian di Jenewa antara Ronald Reagan dan Gorbachev. Perundingan itu terlaksana dibawah tekanan Reagan yang memiliki program strategis. Suatu program yang mahal tak terjangkau biayanya oleh Sovyet yang sedang terperosok ekonominya. Akhirnya Gorbachev menyetujui pengurangan senjata nukllir jarak pendek dan jarak menengah mencapai 50%. Dalam perundingan tahun 1987 di Reykyavile Reagan dan Gorbachev menyetujui pemusnahan semua senjata nuklir dalam bentuk apapun.
Pada tahun 1990 George Bush dan Michail Gorbachev bertemu di Malta. Ditengah suka cita perubahan demokrasi tiba-tiba diumumkan pasukan AS di Eropa tinggal 195.000. persetujuan penjatuan Jerman, pengendalian senjata. Pembubaran paktawarsawan sampai pembubaran Uni Sovyet 31 Juli 1991.
b.      Runtuhnya Komunisme Uni Sovyet
1)      Merosotnya Kondisi Ekonomi Uni Sovyet
Di awal-awal kepemimpinan Lenin dikeluarkan kebijakan New Economic Policy (NEP) tahun 1921. Perekonomian terbukti berjalan dengan baik. Sesudah itu diteruskan lagi dengan program lima tahun (1927-1932). Pada lima tahun kedua (1932-1937) Stalin berhasil meningkatkan taraf hidup rakyat. Pembangunan industri juga meluas, tetapi setelah Perang Dunia II secara berangsur-angsur perekonomian Sovyet menurun karena dibebani pembangunan militer untuk mengimbangi Amerika. Sistem perekonomian di Uni Sovyet tidak bisa disamakan dengan negara-negara non komunis, disana tidak ada pasar. Padahal pasar itu merupakan tempat menusia saling bertukar kebutuhan untuk memenuhi hidupnya. Dan dalam ekonomi pasar mengalir ke wilayah-wilayah yang memberikan keuntungan yang lebih besar. Para produsen menanggapi serela konsumen. Tetapi di Uni Sovyet yang berlaku adalah sistem distribusi yang ditentukan dari atas ke bawah. Sistem perekonomian seperti itu bersifat komando birokratik. Kalau ekonomi komunis menanggapinya atas dasar pertimbangan politik.
Ekonomi seperti ini akan boros. Sistem distribusi bisa berbuat sewenang-wenang. Dalam sistem ini Lionit Breznev menggunakan sifat komando ekonominya dengan memprioritaskan pembangunan dibidang militer mencapai 15% dari total anggaran nasional termasuk untuk biaya-biaya perang. Sebagai perbandingan di Amerika Serikat pada saat yang sama membangun militernya hanya 7%.
Itulah sebabnya ekonomi Sovyet mengalami kemerosotan paling buruk seperti yang dituliskan (William Ebenstein, Terj. Alex Jemadu, 1995:64) “Breznev mewariskan kepada penggantinya perekonomian yang merosot yang memerlukan perubahan secara besar-besaran”.
Kemerosotan ekonomi ini diucapkan juga pada pidato perpisahan Gorbachev , menurut (Abdul Halim Mahally, 2003:54) “Masyarakat kita dicengkram sistem komando birokratik terpimpin. Masyarakat harus sepenuhnya mengabdi pada ideologi dan menanggung beban berat perlombaan senjata”.
2)      Galsnost dan Perestroika yang Gagal
Glasnost (keterbukaan) dan Perestroika adalah Jargon politik yang digunakan Michail Gorbachev untuk memimppin selama 6 tahun dari tahun (1965-1991) di Uni Sovyet. Glasnost Perestroika diperlukan Gorbachevuntuk mengadakan perubahan yang mendasar bahkan radikal didalam sistem politik dan ekonomi komunis.
Kondisi Rusia saat itu merupakan Uni Sovyet yang sedang mengalami krisis ekonomi akibat peninggalan Breznev yaitu terkurasnya kekuatan ekonomi karena memproduksi senjata dan perang di Afganistan, serta korupsi oleh aparaturnya. Kondisi demikian masih harus menanggung beban berat Perang Dingin dengan perlombaan Senjata. Di pihak Amerika Serikat kondisi ekonominya sangat mendukung untuk melanjutkan perlombaan senjata. Bahkan Ronald Reagan untuk memprovokasi Sovyet ia mempunyai program Perang Bintang tahun 1983 yang biayanya tinggi dan tidak mungkin Uni Sovyet sanggup meladeninya.
Mula-mula Gorbachev mendahulukan krisis ekonomi yang jadi perhatian utamanya. Ia memulai dengan merestrukturisasi ekonomi yang rusak dengan cara meningkatkan kedisiplinan buruh, menindak tegas dan memecat pejabat yang korup dan berbuat kriminal, membentuk inspektorat kontrol-kualitas. Semua untuk menciptakan pemerintahan yang bersih. Ia pun tadinya enggan melakukan kesempatan mengenai pembatasan-pembatasan senjata dengan Amerika Serikat, kecuali kalau Reagan bersedia menghentikan inisiatif pertahanan strategisnya (perang bintang). Tetapi dalam pertemuan di Jenewa tahun 1985 dan di Reykyvik tahun 1987 dicapai kesepakatan tentang dihentikannya perang dingin. Ke dua pemimpin menyepakati rencana penghancuran rudal-rudal jarak pendek dan jarak menengah secara menyeluruh.
Mengenai Glasnost (keterbukaan), Gobachev bekerjasama dengan Reagan melakukan pemindahan sistem leberal masuk ke Uni Sovyet. Tetapi tidak bermaksud membubarkan Uni Sovyet. Dengan demikian dapat mengakhiri Perang Dingin dan pembangunan ekonomi Sovyet akan pulih itu merupakan harapan Gorbachev.
Proyek pemindahan demokrasi itu sudah dijalankan Reagan sejak tahun 1987 yang bekerjasama dengan Yayasan “ Soros Fondation” melalui LSM-LSM bentuknya barat. LSM-LSM tersebut lalu menyebar luaskan ideologi Pro Barat dan Slogan-Slogan pro demokrasi dan anti komunis yang dilakukan dengan berbagai mas media. Glasnost-Perstroika belum sempat memberi kemakmuran kepada rakyat tetapi rakyat Sovyet dapat belajar tentang demokrasi walaupun Uni Sovyet menemuhi keruntuhannya.
3)      Peristiwa Runtuhnya Uni Sovyet (1989-1990)
Serangkaian kesepakatan untuk mengakhiri perang dingin, antara Michail Gorbachev dengan Ronald Reagan tahun (1985-1988) dan dilanjutkan dengan George Bush tahun (1988-1991) hasilnya sungguh mencengangkan.
Antara tahun (1985-1987) terjadi kesepakatan penghancuran rudal jarak pendek dan mencegah. Tahun 1988 Gorbachev dan Bush menyepakati penghancuran rudak jauh untuk Uni Sovyet diimbangi janji Bush pengurangan tentaranya di Eropa tinggal 195.000. tembok Berlin lembang kekokohan komunis di runtuhkan, kemudian ditetapkan kembalinya Jerman bersatu tahun 1989. Kemudian penghancuran seluruh persenjataan NATO dan Pakta Warsawa dan pembubaran Pakta Warsawa.
Munculnya Boris Yeltsin pemimpin Rusia yang terpilih pada tanggal 14 Juni 1991 mempercepat diakhirinya perang dingin. Ia menyetujui pengahancuran persenjataannya besar-besaran. Sambutan negara-negara yang menginginkan merdeka mendapat dorongan dari Amerika Serikat tanpa dapat dicegah. Setelah itu patung Lenin yang melambangkan kekokohan komunis di kota Moskow diruntuhkan. Pada tanggal 11 Maret 1990 tiga negara Baltik Lituania, Estonia, Latvia di merdekakan. Pada bulan Agustus 1991 ada kudeta yang mencurigakan. Gorbachev diculik di semenanjung Krim. Tiba-tiba muncul Boris Yeltsin mengatakan tidak akan menyerah kepada pelaku kudeta. Setalah itu Gorbachev dilepas, munurut Yeltsin pelakunya sudah ditangkap. Sejak itu Yeltsin menjadi orang penting di Rusia, sementara dibeberapa wilayah ada gejala Perang Etnis tanpa bisa dikendalikan. Setelah itu tanggal 23 Desember 1991 Gorbachev disingkirkan dari jabatannya sekjen Partai komunis pada tanggal 25 Desember 1991 Gorbachev mengundurkan diri dari presiden. Maka secara resmi negara komunis Uni Sovyet dinyatakan bubar dan pecah menjadi 16 negara. Pecahan Uni Sovyet yang menjadi merdeka penuh tahun 19902 adalah Latvia, Lithuania, dan Estonia. Yang tergabung Republik Federasi Rudia atau Persemakmuran Negara-negara Merdeka adalah Rusia, Belarus, Ukraina dan Georgia. Negara-negara yang merdeka pada tahun 1991 adalah Moldovia, Armenia, Armenia, Azerbaijan, Turmenistan, Uzbekistan, Kirgistan dan kazastan.

3.      Hegemoni Amerika Serikat Didunia
a.       Dominasi Negara Superpower Tunggal
Setelah Amerika Serikat dapat meruntuhkan Uni Sovyet maka Perang Dingin berakhir, Amerika menjadi satu-satunya kekuatan di dunia. Dunia telah kehilangan keseimbangan kekuatan (balance of power). Selama perang Dingin, bila salah satu pihak mengeluarkan ancaman, maka pihak yang lainnya akan mengimbanginya, itu yang terjadi antara Uni Sovyet dan Amerika.
Mengenai hal itu dituliskan (Soebantardjo, 1956:208) “selama kedua pihak berimbang selama itu perang tidak akan pecah, dan perdamaian terjamin meskipun perdamaian yang diliputi ketakutan atau dengan perkataan lain perdamaian formil bukan perdamaian materiil”.
Demikian pula ancaman-ancaman hak veto di forum Perserikatan Bangsa Bangsa ke dua negara ini sling yang saling sering menggunakan hak-hak vetonya sebagai bentuk permusuhannya. Setelah perang dingin selesai maka menyisakan satu kekuatan besar yaitu Amerika Serikat. Setiap tindakan Amerika maka tidak ada lagi kekuatan yang cukup besar untuk mengimbangi aksi-aksi Amerika. Ketika perang dingin berakhir Amerika Serikat menyerang Irak pada tahun 1991 karena kesalahan Irak menganeksasi Kuwait tahun 1990.
Ketika itu sudah tidak ada lagi gangguan-gangguan yang datang dari Uni Sovyet. Hak-hak veto Sovyet sudah tidak ada lagi, Amerika Serikat secara sendirian berfungsi sebagai polisi dunia. Oleh sebab itu serangan Irak ke Kuwait sama saja menantang hegemoni Amerika. Hal tersebut karena kepentingan-kepentingan Amerika di Timur Tengah dapat terganggu.
Dunia melihat dan mengakui kehebatan Amerika Serikat sebagai superpower tunggal. Semua tindakannya berpengaruh besar terhadap semua negara. Maka telah terjadilah pergeseran sistem dunia yang bipolar pada waktu perang dingin maenjadi unipolar paska perang dingin.
P. Samual Huntington menyatakan bahwa unipolar adalah (Abdul Halim Mahally, 2003:217) “ sebuah sistem dengan satu penguasa tunggal tidak ada kekuatan-kekuatan besar yang terlalu penting, dan hanya ada kekuatan-kekuatan yang banyak namun kecil”.
Amerika Serikat sekarang berasumsi, bahwa dunia saat ini merupakan dunia yang tidak sesuai dengan keinginannya. Oleh karna itu Amerika Serikat berusaha untuk merubah tata dunia setelah perang dingin selesai. Namun demikian tata dunia baru yang ditampilkan Amerika akhir-akhir ini yang menonjol adalah untuk kepentingan nasionalnya sendiri. Kemudian yang dilakukan Amerika sering diartikan sebagai tindakan hegemoni dari sebuah negara yang paling kuat. Untuk mempertahankan kepentingan global di bidang politik, Amerika sering bertindak berlebihan. Dengan alasan demokratisasi merasa berhak mempengaruhi kedudukan pemimpin bahkan menggantikan rezim yang sedang berkuasa. Ini terjadi pada Sadam Husein di Irak, Muhammad Umar di Afganistan dan di Venezuela serta di negara-negara pecahan Uni Sovyet. Dibidang keamanan, dengan alasan menjaga keamanan internasional, Amerika paska runtuhnya Uni Sovyet ini tetap menempatkan pasukan dibeberapa negara. Tujuannya menjaga kelangsungan eksistensi AS diwilayah lain, tetapi yang terjadi untuk memudahkan Amerika Serikat mengontrol wilayah lain. Penempatan militer dibangun dan mesin-mesin perang didatangkan untuk memajukan superioritasnya. Pos-pos ini dibangun di Timur Tengah, Afganistan, dan lainnya. Amerika dapat meraih kepentingan ekonomi juga tidak bisa dilepaskan dari kekuatan militer.
Di dalam pola interaksi dengan negara-negara yang kuat seperti di Amerika selalu mendapat  dukungan terutama dari Inggris, Australia, Perancis, Jerman, Italia, Kanada dan Jepang. Ketika terjadi Perang Teluk II Perancis dan Jerman Tidak ikut mengirim pasukan,tetapi belakangan diketahui ternyata mereka justru mengirimkan badan-badan inteljen mereka untuk membantu AS. Dengan negara-negara lain Amerika dapat memburu siapa saja yang dianggap musuh AS. Hambali yang dituding sebagai dalang teroris internasional ditangkap di Indonesia, tetapi dibawa ke AS.
Permusuhan antara Israel dengan Palestina atau negara-negara Arab, Amerika selalu membela Israel, sedangkan Israel adalah penjajah Palestina. Israel yang punya senjata nuklir selalu dilindungi baik di Dewan Keamanan PBB maupun ditempat kawasan itu. Berbeda debgab Iran-Iran dan Korea Utara, tiga negara ini dideskriditkan sebagai “Axis of Evil” poros kejahatan. Sebab punya senjata masal, setelah tuduhan itu dialamatkan, Irak dihancurkan dan Sadam terguling. Padahal menurut Hans Blix dari anggota Team Inspeksi senjata PBB, senjata pemusnah masal itu belum ditemukan. Ini merupakan pesan bagi rival-rival baru AS yang akan menyulitkan Amerika dimasa-masa yang akan datang. Kehadiran Amerika Serikat di Cina Taiwan sangat diperlukan Taiwan sebab Cina komunis tidak pernah menarik klaimnya atas wilayah Taiwan.
Hegemoni Amerika Serikat atas negara lain selalu menggunakan jalur kekerasan. Serangan ke Afganistan tahun 2002 dan Irak tahun 2003 telah mengabaikan seruan masyarakat internasional agar menyelesaikan masalah menggunakan cara-cara damai bukan cara kekerasan. Bahkan tindakan Amerika ini telah melanggar hukum internasional. Sebab kenyataannya senjata pemusnah masal yang dituduhkan itu tidak pernah ditemukan. Baik Irak maupun Afganistan tidak sedang dalam mengancam negara lain.
Didalam piagam PBB 1945 artikel 2 (3) PBB dijelaskan (Abdul Halim Mahally, 2003:327) “seluruh anggota PBB harus menyelesaikan segala macam konflik melalui cara-cara yang damai, dimana perdamaian, keamanan dan keadilan internasional terancam”.
Pada waktu tragedi gedung WTC diserang teroris 11 September 2002, Bush terlalu cepat menyatakan Perang Salip. Ini artinya menyinggung perasaan umat Islam. Diberbagai negara akibat ucapan itu mendapatkan perlakuan kasar, walaupun Bush telah menarik ucapannya. Sekarang Amerika telah mengeluarkan Doktrin Bush atau National Security Concept 2002 (NSS-2002). Doktrin ini diartikan sebagai cara mengekalkan Superpower tunggal Amerika Serikat.
b.      Terorisme Internasional Melawan Amerika
Perang Dingin Blok barat dan Blok Timur telah berakhir dengan memunculkan Amerika Serikat menjadi Superpower tunggal. Dominasi Amerika Serikat dalam tatanan ekonomi, politik dan militer global memunculkan pihak-pihak yang menolak hegemoni Amerika ini. Tindakan-tindakan sebagai polisi Dunia sering bersifat ganda dan hanya mengutamakan kepentingan nasionalnya. Ada fakta-fakta yang dapat menghubungkan antara keterlibatan Washington dalam masalah internasional dengan serangan teroris yang berkala internasional akhir-akhir ini.
Sejak Perang Teluk II tahun 1991 telah terjadi eskalasi tindak kekerasan antara Gedung Putih dengan aksi-aksi teror terhadap tentara dan warga sipil AS di negara-negara asing. Amerika telah melakukan aksi militer yang menyebabkan terjadinya tragedi kemanusiaan. Aksi-aksi itu adalah tindakan militer di Serbia, Irak, Sudah sampai Yugoslavia oleh angkatan darat, laut dan udara. Demikian pulan tindakan embargo blokade ekonomi Irak dan Serbia menimbulkan kesengsaraan rakyat setempat. Masalah sengketa Palestina sebagai pihak terjajah dengan Israel, Amerika membela Israel naik di forum PBB maupun ditempat negara tersebut. Demikian tindakan provokatif seperti penambahan pesawat terbang atau kapal laut negara lain yang dikatakan tidak sengaja. Jauh sebelum itu Amerika sudah sering ikut campur tangan dalam suatu negara yang menyebabkan terjadinya pergantian kekauasaan.
Aksi-aksi teror sebagai balasan atas semua keterlibatan tindak kekerasan ini, kemudian ada bentuk-bentuk serangan balik berupa penyanderaan tentara, warga sipil Amerika Serikat dan juga penembakan peasawat komersil Amerika. Kemudian aksi penghadangan, aksi bom bunuh diri dan pemboman di barak-barak militer. Dan peristiwa yang terbesar adalah Tragedi 11 September 2001, gedung kembar Ward Trade Center dan gedung Pentagon hancur akibat ditabrakannya pesawat bajakan boing.
Kurban yang begitu besar, aksi balas-membalas ini menimbulkan ketakutan baru sehigga dikatakan sebagai Perang Dingin II. Aksi inisudah begitu menggobal, sebab Amerika juga mempunyai kepentingan global.
Tempat aksi-aksi kekerasan terus berlanjut, di Indonesia terjadi bom Bali. Bom Mrreiot serta aksi-aksi di negara Eropa sendiri misalnya di Inggris dan Perancis. Setiap tindak kekerasan semua negara mengutuk, sebab itu tindakan yang tidak bermoral dan menimbulkan kurban rakyat yang tidak berdosa.
c.       Perang melawan Terorisme Internasional
Presiden George Bush menanggapi tragedi 11 September 2002 yang menewaskan lebih dari 10.000 orang itu dengan spontan mengatakan bahwa itu Perang Salip. Ucpan itu kemudian ditarik lagi setelah dampaknya luas. Melalui pidato 1 Juni 2002, Bush mengatakan untuk melindungi rakyat dan nasional AS maka siap berperang melawan terorisme dan akan membasmi seakar-akarnya. Perang melawan terorisme global, telah mendapat sambutan luar biasa. Ditingkat diplomasi telah ditanda tangani resolusi Dewan Keamanan PBB 1368 dan 1373 yang mewajibkan ke 189 anggotanya untuk mengakhiri semua aksi teroris dan bantuan terhadap teroris serta membawa pelaku teror untuk diadili.
Menurut Amerika dalang semua terorisme internasional ini adalah usamah Bin Ladin warga Arab Saudi yang tinggal di Afganistan dan organisasinya Al-Qaidah. Atas tuduhan itu secara sepihak itu Amerika kemudian menyerang Afganistan tanggal 7 Oktober 2001, sebab menolak menyerahkan Usamah Bin Ladin. Afganistan menolak karena Amerika dituntut dapat membuktikan atas tuduhannya itu. Bahkan disebutnya sebagai poros kejahatan negara Irak ini bersana Iran dan Korea oleh Amerika karena kepemilikkannya senjata pemusnah masal.
Menurut anggota Hans Blix dari anggota Team Inspeksi senjata PBB tuduhan AS itu belum ditemukan. Amerika tetap menyerang Irak tanggal 2 Maret 2003 yang menyebabkan hancurnya Irak oleh ganasnya bom-bom AS yang dijatuhkan tetapi senjata pemusnah masal tidak ditemukan. Akibat serangan AS ini pemerintah kedua negara jatuh diganti dengan rezim yang dikendalikan oleh AS. Dalam perang melawan terorisme ini juga merupakan perilaku hegemoni Amerika Serikat dan kehancuran gedung Word Trade Center (WTC) adalah sebuah kritik keras atas wacana hegemoni yang dikembangkan dalam periode yang panjang. Sikap hegemoni Amerika Serikat terbaru adalah dikeluarkannya Doktrin kebijakan keamanan terbaru yaitu Doktrin Bush atau NSS-2002. Intinya adalah tekad Amerika untuk mengontrol semua negara-negara di dunia agar selalu berada di bawah kemauan AS.
B.     Diskripsi Temuan Penelitian
Sistem kekuasaan absolud yang berlaku di Rusia dilatar belakangi oleh nasionalisme bangsa suku Slavia atau keterikatan suku Rusia, tetapi sistem itu dinamis sesuai dengan cita-cita dan pengalaman bangsanya.
Pada zaman kekuasaan negara dipegang oleh Tsar, negara Rusia didasarkan pada faham nasionalis Slavia yang sempit. Faham ini dianut Tsar sebagai pembedaannya dengan faham leberal nilai-nilai demokrasi revolusi Perancis yang dianut barat. Faham Nasionalis Slavophil di gunakan juga sebagai isolasinya Tsar terhadap pengaruh masuknya faham-faham barat masuk ke Rusia. Pada periode kekuasaan komunis, walaupun ciri-ciri komunis itu bersifat internasional tetapi tidak sampai menghilangkan rasa nasionalisme Rusia.
Demikian pula negara-negara pecahan Uni Sovyet. Beberapa negara kecil masih mau bergabung dengan Republlik Federasi Rusia sebagai keterikatan masa lalunya.
Mengenai sistem komunis yang menggantikan pemerintahan otokrasi, karena lambangnya Tsar mengadakan perubahan leberal. Kesempatan ini diambil dimanfaatkan oleh gerakan konsperasi politik dari segolongan kecil revolusioner yang dikenal dengan kaum Balsyewik pimpinan Lanin. Mengenai sistem pertanian kolektif pada zaman komunis berkuasa, bagi rakyat kecil hal itu sudah terbiasa. Pada masa Tsar berkuasa, sistem mir (petani kolektif) mengerjakan tanah garapan itu sudah ada.
Sejak ada ancaman ekspansi Jerman tahun 1933 dan akhirnya pecah Perang Dunia II (1939-1945) Amerika Serikat memandang Jerman sebagai musuh bersama.
Ekspansi jerman atas tanah (ruang gerak) Sudentenland tahun 1936 dan penyerangan atas Polandia tahun 1939 akan mengancam wilayah Eropa. Bagi Uni Sovyet telah kehilangan daerah pengaruh komunis. Amerika Serikat juga terganggu hubungan perdagangan di laut maupun di Eropa. Fasisme Jerman dengan watak nasionalismenya, komunis berciri internasional dan kapitalisme bebas berusaha tidak mungkin bersat, tetapi fasisme telah mengancam keduanya.
Kerjasama Uni Sovyet dan Amerika Serikat telah dibina sejak tahun 1936 dan membuka hubungan diplomatik tahun 1936. Amerika dan Uni Sovyet beradadalam satu aliansi Blok Sekutu, dengan penempatan di Frnt barat dan Fron Timur. Kerjasama itu menghasilkan kemenangan bagi sekutu, berkat keterlibatan mereka tahun 1945. Negara-negara fasis telah dikalahkan. Giliran berikutnya adalah pertentangan negara Superpower Amerika Serikat yang beriodologi Kapitalis-Demokrasi dan Uni Sovyet berideologi Komunis. Duniapun kembali tegang sebab keduanya seimbang senjata nuklirnya.
Berlarut-larut penyelesaian soal status Polandia, pemecahan masalah nuklir Uni Sovyet, ekspansi komunis di Yunani dan Turki serta krisis Berlin I memicu dimulainya ketegangan baru. Ketegangan ini memastikan bahwa komunis dan kapitalis adalah musuh yang saling ingin menghancurkan. Kejadian serupa terus berulang, bertambah diberbagai wilayah konflik. Suasana demikian dikatakan sebagai Perang Dingin. Perang ini baik Amerika Serikat maupun Uni Sovyet tidak pernah terlibat langsung dalam konfrontasi seperti Perang Dingin II.
Amerika bertekad menyebarkan demokrasi. Kemerdekaan dan persamaan tetapi Uni Sovyet bertujuan menyebarkan komunis dan menghancurkan kapitalis. Amerika memutuskan untuk membendung dan menangkal komunis dimulai dengan Doktrin  Truman tahun 1947. Sedangkan Uni Sovyet tetap meneruskan agresinya ke negara lain. Perang Dingin telah menyebabkan perang saudara dan terpecah belahnya suatu negara menjadi dua negara.
Berlangsungnya Perang Dingin antara Blok Barat dan Blok Timur, sejak tahun (1949-1989) telah dilibatkan Perang Ideologi Komunis dan Kapitalis, jaringan inteljen CIA dan KGB, perlombaan senjata berbagai jenis, perluasan anggota Blok Barat dan Blok Timur, serta persaingan ekonomi global. Perang Dingin berlangsung selama lebih dari 40 tahun, sebab persaingan telah dimulai sejak Konferensi Yalta tahun 1945.
Perang Dingi juga melibatkna strategi menghancurkan dan pengurasan lawan secara sistematis. Strategi provokasi yaitu memancing lawan untuk masuk dalam jebakannya. Kelihaian diplomasi dalam perundingan détente yang lebih menguntungkan. Provokasi agar lawan memproduksi senjata dengan biaya yang besar, Provokasi dengan mengajak lawan dalam Perang Bintang, penghancuran senjata lawan di medan konflik melalui pihak yang di bantu, atau penghancuran senjata sebagai hasil kesepakatan bersama dan memanfaatkan kelengahan pemimpin yang kurang menyakini ideologi negaranya, penyebarab ideologi yang anti ideologi lawan di negara lawan. Dengan strategi penghancuran dan pengurasan Uni Sovyet runtuh tahun 1991.
Dengan kemenangan Superpower Amerika Serikat atas lawannya Uni Sovyet dalam Perang Dingin, maka Amerika Serikat muncul sebagai adidaya tunggal. Sistem dunia yang Bipolar pun berubah menjadi Unipolar. Maka keadaan dunia yang berubah ini harus ditata kembali, dab Amerika berkepentingan membentuk tatanan dunia baru.
Dilihat dari perspektif hegemoni Amerika paska Perang Dingin,lalu mengacu pada pengertian program besar sebagai strategi politik luar negeri AS menurut Lovell 1975 adalah rencana dari suatu negara untuk mencapai kepentingan nasional dengan mencegah aktor negara lain dalam meraih kepentingan tersebutu.
Pripsip utama politik luar negeri AS adalah mempertahankan kepemimpinan global. Hal itu tercermin dalam Doktrin Bush dalam NSS-2002 yang isinya Amerika dapat menyingkirkan ancaman keamanan nasional dengan melalui penyerangan terlebih dahulu kepada musuh, tujuannya untuk perdamaian internasional. Hal tersebut berarti politik pembendungan dan pengangkalan di era Perang Dingin telah bergeser kepada penyerangan terlebih dahulu terhadap musuh. Tetapi dalam penerapannya AS memperlihatkan hegemoninya dengan menyerang Afganistan pada tahun 2002 dan Irak pada tahun 2003. Sedangkan ancaman dua negara tersebut kepada AS belum pasti adanya. Politik pembendungan dan penangkalan ternyata diterapkan untuk mengidentifikasi sikap-sikap negara lain terhadap pelaksaan demokrasi liberal, kepemilikan dan pembuatan senjata destruktif, dan anti terorisme disuatu negara.
Untuk itu Irak, Iran dan Korea Utara mendeskreditkan sebagai poros kejahatan, Afganistan, Palestina dan Indonesia sebagai sarang teroris. Selanjutnya Irak diserang dengan tuduhan kepemilikan senjata pemusnah masal yang menurut anggota Team Inspeksi Senjata PBB Hans Blix tidak ditemukan.
Dibidang ekonomi Amerika tetap menerapkan ekonomi kapitalis dan berusaha menjadi kiblat ekonomi dunia. Sikap hegemoni ini relevan dengan isi Doktrin Bush 2002 bahwa tujuan nasional dapat di capai bila dilakukan dengan cara menerapkan kebebasan mendirikan usaha.
(Abdul Halim Mahally, 2003:201) “hanya ada satu model untuk kesuksesan nasional yang sifatnya berkesinambungan; kebebasan, demokrasi, dan kebebasan dalam mendirikan usaha, Amerika Serikat akan berupaya membawa harapan berupa demokrasi pengembangan, pasar bebas dan perdagangan bebas keseluruh penjuru dunia………”.
Oleh sebab itu merupakan tantangan bagi sistem ekonomi Sosial-Komunis di negara Republik Rakyat Cina, Kuba dan Korea Utara.
Dibidang keamanan Amerika akan tetap memproduksi senjata nuklir hal tersebut AS telah menarik kembali perjanjian pemusnahan senjata rudal jarak jauh ABM 1972 pada tahun 2002. Hegemoni AS selanjutnya adalah penempatan pasukannya di negara asing walaupun Uni Sovyet telah bubar, monopoli produksi, penggunaan senjata serta, pelarangan penggunaan dan embargo senjata. Oleh sebab itu Cina dituduh mencuri ilmu Amerika, Indonesia diembargo senjata dan pesawat terbang.
  
C.     Penyajian Pola dan Alur Tema
Periode kekaisaran Rusia berakhir tahun 1917. Selama periode itu, kaisar Rusia berpihak pada kaum Feodal. Dengan masuknyua kapitalisme di tangan Tsar. Kesenjangan sosial terasa semakin bertambah berat. Dari kondisi inilah kaum liberal dan sosial-kounis lalu mengakhoro Tsar dan mengganti dengan pemerintahan yang sama sekali baru, Revolusi sosial tahun 1917 telahmengubah Rusia menjadi komunis dalam emperium Union of Sovyet Socialist Republics (USSR). Dari Rusia mulailah komunisme disebarkan ke seluruh dunia dan mengancam negara-negara kapitalis barat. Pemimpin komuns mulai dari Lenin, Stalin sampai Chornenco adalah sosok proletar yang mendogmakan Optomosme Marxisme-Leninisme yang terus direvisi. Ironisnya, dogma itu disampaikan dengan teror dalam praktek rezim totaliter.
Perang Dunia II, duet Amerika Serikat dan Uni Sovyet menunjukkan posisi dominasinya. Tetapi kemudian saling menancapkan persaingan supremasi adidayanya dalam Perang Dingin antara Blok Komunis dan Blok Kapitalis-Demokrasi. Sejak presiden AS Truman sampai George Bush menyebarkan komunis ditentang dengan aksi pembendungan dan penangkalan. Setelah berkali-kali terlibat konflik ,langkah-langkah détente terus direalisasikan, walau ketegangan itu masih ada. Akhirnya kelelahan berada di pihak Uni Sovyet. Kekuatan ekonominya terkuras dan ideolginya tak dapat menjawab kenyataan zaman. Gorbachev (1985-1991) ingin memperbaiki kerusakan Uni Sovyet melalui Glastnost dan Perestroika. Ternyata programnya itu hanya menjadi dadakan runtuhnya komunis Uni Sovyet dan menandai berakhirnya Perang Dingin antara tahun 1949-1989.




KESIMPULAN

1.      Menurut Marx komunis merupakan masyarakat tanpa kelas, tanpa hak milik semua jadi milik bersama. Sesudah ajaran Marx direvisi Lenin maka berubah menjadi Marxisme-Leninisme atau komunis. Marxisme-Leninisme kemudian menjadi ideologi perjuangan Kaum Balsyewik untuk merebut dan menenangkan revolusi tahun 1917. Komunis lalu menjadi dasar Legitimasi sistem kekuasaan yang paling totaliter di seluruh negara Uni Sovyet (1917-1991) Ideologi komunis kemudian disebarkan keseluruh dunia untuk merevolusi dunia melalui badan komunis dunia komentern yang dibentuk tahun 1919, tetapi setiap ekspansinya di pecah Amerika Serikat sejak selesai PD II hingga keruntuhannya tahun 1989-1991. Karena parahnya ekonomi dan tentangan rakyatnya, Uni Sovyet runtuh. Negara komunis setelah Rusia runtuh yang lepas berdiri sendiri dibawah  Rusia Ertonia, Ltvia , Lithuania, Bella Rusia, Ukrania, Bella Rusia, Cekronia, Georgia, Armenia, Azerbaijan, Furmenia, Tajikistan, Kergistan, Kazakstan, Federasi Rusia, Sponsor USSR. Sekarang masih ada yaitu Cina, Korea Utara , Vietnam, Laos dan Kuba.
2.      Keunggulan Amerika Serikat atas Uni Sovyet selama Perang Dingin adalah kepercayaan diri yang kuat selain nilai-nilai demokrasinya lebih dapat diterima dari pada komunis yang menebar teror. Anggota-anggota aliansi Blok Barat juga lebih kuat dan secara geografis letaknya strategis sekarang dapat menggurung Uni Sovyet dari berbagai arah. Senjata nuklirpun telah siap ditembakan ke jantung Ibukota Moskow. Kekuatan ekonomi dan senjata AS juga sangat membantu upaya negara-negara yang terancam invasi komunis. Yang sangat menentukan adalah kekuatan diplomasi AS atas semua kekuatan yang dimiliki lebih mempunyai daya tekan. Taktik provokasi dan pengurasan ekonomi, serta keragan Gorbachev terhadap komunis adalah situasi yang mempercepat ambruknya Uni Sovyet tahun 1991.
3.      Amerika Serikat telah menjadi superpower tunggal. Tekatnya sekarang adalah menciptakan tata dunia baru mulalui Dontrin Bush NSS-2002. Dominasi Amerika Serikat atas masalah internasional sekarang dan yang akan datang sangat menentukan perkembangan dunia ke arah masadepan.amerika Serikat menjadi superpower tunggal. Hegemonitasnya dapat dilihat dan dirasakan setiap tindakannya menjadi polisi dunia. Nilai-nilai Americana dijadikan tatanan slobal, sehingga setiap negara bahkan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) ditempatkan dibawah kemauannya. Dominasi Amerika Serikat (AS) luar biasa meliputi segala bidang. Dunia tetap berubah, maka Amerika menyusun tata Dunia Baru ditandai dengan Doktrin Bush NSS-2002. Tindakan Amerika berlebihan akibat ini muncul terorisme internasional. Sasarannya jelas AS dan kawan-kawannya. Sekarang AS mendapat lawan baru, oleh karean itu AS memimpin dunia dimulai perang global membasmi terorisme.

KATA PENGANTAR

Dengan memanjatkan puji Syukur kehadirat Allah SWT yang telah melimpahkan rahmat dan Karunia-Nya sehingga saya dapat menyelesaikan penyusunan penelitian ini.
Pada kesempatan yang baik ini, izinkan saya menyampaikan rasa hormat dan ucapan terima kasih kepada semua pihak yang dengan tulus ikhlas telah memberikan bantuan dan dorongan kepada saya dalam menyelesaikan penelitian ini, terutama kepada: Dr. Sumaryoto, Rektor Universitas Indraprasta PGRI, Bapak Heru Sriyono, MM , Dekan Fakultas Ilmu Pendidikan dan Pengetahuan  Sosial Universitas PGRI, Bapak ketua LP2M dan Staffnya.
Dan berharap semoga semua pihak telah membantu senantiasa Allah SWT membalas dengan berlipat ganda amin ya robbal alamin. Semoga penelitian ini bermanfaat hendaknya.


Jakarta,  April 2006

Peneliti 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar