BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang masalah
Nusantara
memiliki kekayaan alam yang melimpah ruah dengan kesuburan tanahnya pel bagai
tumbuhan dapat hidup dan berkembang dari Sabang sampai Marauke. Namun karena
kekayaan itulah banyak negara yang berusaha menduduki guna menikmati kekayaan
nusantara.
Awal
abad ke-6 kekuasaan asing mulai masuk ke tanah air kita. Secara beruturut-turut
di tanah air kita masuk bangsa-bangsa Portugis, Spanyol, Inggris, Belanda
kemudian Jepang. Kita berhadapan dengan bermacam corak imperialisme. Khususnya
imperialisme Portugis, Belanda, Inggris dan Jepang walaupun masa penjajahan
Inggris itu masa kekuasaannya singkat saja. Yang dihitung berdasarkan
perhitungan waktu masa pendudukan pemerintah kolonial, Belanda merupakan urutan
paling lama menduduki bangsa ini.
Kalau
ditinjau berdasarkan Geografis, Belanda merupakan negara kecil, yang
berpenduduk jauh lebih sedikit dibangdingkan penduduk nusantara tetapi mengapa
bangsa Belanda mampu menancapkan kukunya dalam sehingga mampu bertahan selama
350 tahun, apa yang terjadi pada negeri ini? Strategi apa yang dijalankan
Belanda sehingga mampu menguasai bangsa ini ? Apakah Belanda didukung oleh
tentara yang kuat ataukah sistem yang mengatur akan semua ini?
Sejak
persekutuan dagang Belanda VOC (Verenigde Oostindische Companie) bangkrut dan
digantikan oleh pemerintah Hindia Belanda. Gubernur Jenderal Pemerintah Hindia
Belanda mengeluarkan suatu kebijakan baru tentang pengaturan sistem militernya.
Kebijakan baru tersebut sikeluarkan pada tahun 1830 yaitu dengan membentuk
satuan militer yang berasal dari putra-putra daerah yang di rekrut dari pel
bagai pelosok di tanah air. Nama dari satuan itu yaitu KNIL (het Koninklijke Nederlandsche Indische Leger) adapun tugas
utama kesatuan tentara ini adalah merampas pemberontakan dalam upaya membantu
pemerintah Hindia Belanda, memperluas wilayah kekuasaannya di nusantara.
“Untuk
menambah kekuatan pasukannya, Belanda akan mengambil putra-putra daerah.wilayah
yang sering direkrut penduduknya adalah, Ambon, Kepulauan Aru, dan Madura.
Ketika menumpas pemberontakan di Bali, Belanda mengambil barisan orang Ambon,
Jawa dan Belanda, (Suyono, 2003: 321).
Hal
ini menjelaskan bahwa Daerah perekrutan tentara KNIL yaitu dari Ambon,
Kepulauan Aru, dan Madura, Jawa dan Manado. Tidak kemungkinan daerah-daerah
lain sebagai pemasok tentara KNIL tetapi sangat disayangkan data-data belum
mengarah ke arah sana. Mengapa daerah seperti Ambon, Manado, Kepulauan Aru,
Jawa dan Madura sebagai pemasok tentara ? tawaran gaji yang tinggi ataukah
karena mata pencaharian penduduk yang sangat minim.
B. Pembatasan Masalah
Luasnya
materi situasi dengan judul penelitian maka perlu dibatasi “Tentara Het
Koninklijke Nederlansche Leger (KNIL) di Indonesia 1830-1950
C. Perumusan Masalah
1.
Apakah latar belakang pembentukan
Tentara KNIL di Indonesia
2.
Apakah peran Tentara KNIL setelah
proklamasi kemerdekaan Indonesia 17 Agustus 1945
D. Tujuan Penelitian
1. Untuk
mendeskripsikan latar belakang pembentukan Tentara KNIL di Indonesia
2. Untuk
mendeskripsikan peran Tentara KNIL setelah proklamasi kemerdekaan Indonesia 17
Agustus 1945
E. Metodelogi Penelitian
Yang
dimaksud dengan metode penelitian adalah (Wagiono, 1994:30) “urutan
langkah-langkah untuk melaksanakan penelitian berikut penjelasan tentang
alat-alat yang digunakan untuk melaksanakan langkah-langkah tersebut”.
Langkah-langkah
yang dilaksanakan harus logis dan sistematis, sehingga siapapun yang
melaksanakan penelitian dengan mengulang metode yang sama akan memperoleh hasil
yang sama atau dengan tingkat kesalahan yang dapat diperhitungkan.
Metode
penelitian yang digunakan dalam peneletian ini adalah metode penelitian yang
bersifat deskriptif, yang menurut Melly G. Tan (Koentjaraningrat, 1995:42)
adalah “Bertujuan untuk menggambarkan secara sifat-sifat suatu individu,
keadaan, gejala, kelompok tertentu atau frekuensi adanmya hubungan tertentu
antara suatu gejala dengan lain dalam masyarakat”.
1. Metode
Penelitian Data
Untuk
memperoleh data-data yang diperlukan dalam penelitian ini maka, digunakan
beberapa metode pengumpulan data sebagai berikut :
a. Mencari
dokumentasi atau resmi tertentu pada obyek penelitian , dengan tujuan untuk
memperoleh data yang akurat dalam pelaksanaan penelitian.
b. Membaca
literatur, ertikel, atau buku-buku catatan sejarah yang berkaitan dengan obyek
penelitian yang sedang diamati keberadaannya.
2. Jenis
Data
Data-data
yang digunakan dalam penelitian ini adalah merupakan data sekunder yang
dikumpulkan dari studi kepustakaan terhadap sejumlah pendapat para ahli
sejarah dalam dan luar negeri. Artikel
maupun literatur-literatur yang menurut keterangan berkaitan dengan obyek
penelitian yang sedang diamati.
F.
Tehnik
Analisis Data
Tehnik
analisis yang digunakan dalam penelitian ini adalah tehnik analisis deskriptif
yang bermaksud untuk menguraikan dengan fenomena sosial tertentu dengan
menghimpun fakta-fakta, tetapi tidak melakukan pengujian hipotesis. Dengan
demikian, maka tehnik analisis deskriptif dalam penelitian ini diarahkan pada
penggambaran profil antara konsep, yang dalam hal ini adalah kondisi peranan
tentara KNIL di Nusantara.
BAB II
HASIL PENELITIAN
A.
Deskripsi
Informasi Penelitian
1.
Kekuasaan
Hindia Belanda di Indonesia 1800
Sampai sekitar tahun 1800 sebagian
besar wilayah yang sekarang ini meliputi Republik Indonesia telah jatuh di
bawah kekuasaan Belanda. Gubernur Jenderal Van den Bosch (1830-1833) menanamkan
keuntungan sebagai prinsip utama pemerintah, dan merasa yakin bahwa oleh
karenanya Belanda harus membatasi perhatian mereka hanya terhadap Jawa,
Sumatera, seterusnya keterlibatan Belanda di seluruh wilayah luar Jawa semakin meningkat. Mengenai hal ini ada
banyak alasannya. Sering kali para pejabat daerah yang berkebangsaan Belanda
melakukan campur tangan karena adanya ambisi untuk kemuliaan atau kenaikan
pangkat. Walaupun dengan demikian mereka melawan kebijakan resmi Batavia yang
sebenarnya adalah menghindari perluasan kekuasaan Belanda. Ada dua pertimbangan
umum yang terdapar di mana-mana. Pertama, untuk menjaga keamanan daerah-daerah
yang sudah berhasil dikuasai maka Belanda merasa terpaksa menaklukan
daerah-daerah lain yang munkin akan mendukung atau membangkitkan gerakan
perlawanan. Kedua, ketika perjuangan bangsa Eropa untuk memperoleh daerah-daerah
jajahan mencapai puncaknya pada akhir abad XIX, pihak Belanda merasa wajib
untuk menetapkan hak mereka terhadap daerah-daerah di luar Jawa dalam rangkan
mencegah campur tangan kekuatan Barat lainnya di sana, juga di tempat-tempat
yang pada mulanya tidak diminati oleh pihak Belanda.
Pada perempat terakhir abad XIX
perimbangan kekuatan militer berubah secara menentukan terhadap negara-negara
Indonesia yang masih merdeka, dan inilah yang memungkinkan berlangsungnya tahap
terakhir perluasan kekuasaan Belanda. Pada zaman kapal layar yang terbuat dari
bidang teknologi militer antara bangsa Indonesia dan Eropa tidaklah menggunakan
senapan yang diisi peluru di bagian belakang, Mauser, kapal perang bertenaga
uap, dan hasil-hasil militer lain dari suatu perekonomian melawan dengan tekad
dan senjata-senjata api yang kuno. Beberapa penguasa yang masih merdeka
berusaha memperbaiki perimbangan itu dengan jalan membeli persenjataan modern,
tetapi mereka jarang sekali dapat menyamai kekuatan militer angkatan perang
penjajah untuk waktu yang lama.
a.
Pembubaran
VOC 31 Desember 1799
Pada
tahun 1598 sebanyak 22 kapal milik perorangan dan perserikatan dagang berlayar
dari Belanda menuju Nusantara. Bahkan, pada tahun 1602, sebelum VOC berdiri,
sebanyak 65 kapal pedagang-pedagang Belanda mengangkut hasil-hasil bumi,
terutama rempah-rempah dari Nusantara. Karena banyaknya perserikatan dagang
Belanda yang ikut mengirim kapal ke Indonesia, persaingan di antara mereka
tidak dapat di hindarkan. Akibatnya, harga rempah-rempah di Indonesia naik,
sedangkan di Eropa turun. Sehingga banyak perserikatan dagang menderita
kerugian. Untuk menghindari persaingan yang tidak sehat itu. Atas anjuran
seorang pembesar Belanda, Johan van Olddebarnevelt, beberapa perserikatan
dagang tersebut dilebur menjadi satu perserikatan dagang yang besar dengan nama
Verenogde Oost Indische Compagnie (VOC) pada tahun 1602 dalam menjalankan
kegiatan politik dan perdagangannya VOC menggunakan hak-hak istimewa antara
lain :
a. Hak
mengadakan perjanjian dengan negara lain tanpa melalui persetujuan Raja/Ratu
Belanda.
b. Hak
membuat dan mengedarkan uang sendiri.
c. Hak
menyususn dan memiliki angkatan laut dan angkatan darat sendiri yang dapat
bertindak tanpa harus tunduk kepada kerajaan Belanda.
d. Hak
menyatakan perang dengan negara atau kerajaan lain tanpa harus meminta
persetujuan Ratu/Raja Belanda.
Perdagangan
yang dijalankan oleh VOC tidak dalam pengertian transaksi biasa, tetapi dengan
cara-cara monopoli dan pemaksaan. Politik perdagangan seperti itu dapat
dilakukan karena didukung oleh kekuatan bersenjata. Sebagai badan yang memiliki
hak sebagai sebuah negara, VOC melakukan politik intervensi atas
kerajaan-kerajaan di Nusantara. Cara-cara berdagang seperti itulah yang menjadi
faktor penyebab timbulnya perlawanan dari sejumlah kerajaan di Indonesia.
Bagaimanapun
hebatnya, ternyata VOC pada akhirnya harus mengalami kehancuran dan kemudian
dibubarkan pada tahun 1799, kehancuran VOC disebabkan oleh perbuatan-perbuatan
korupsi yang dilakukan oleh para pedagang, para pelaut, dan prajurit-prajurt
yang beroperasi di Indonesia. Para pelaut membawa rempah-rempah milik pribadi
dengan menggunakan kapal VOC untuk dijual di Eropa bahkan sebelum tiba di
tempat tujuan di jual di tengah laut.
Hak-hak
istimewa yang dimiliki VOC memberi peluang kepada organisasi ini tidak
hanya menguasai perdagangan (terutama) rempah-rempah dengan sistem monopoli
yang disertai dengan kekerasan dan pemaksaan, tetapi juga sebagai lembaga
politik karena selalu mencampuri bahkan ingin menghancurkan kekuasaan dari
kerajaan-kerajaan local di Nusantara. Tomnulnya persaingan di antara
kerajaan-kerajaan local Nusantara memberi kesempatan kepada VOC melakukan
politik “Adu Domba” dan mengintervensi urusan politik kerajaan local yang
mendapat dukungan VOC itu .
Berdirinya
loji-loji dan kentor-kantor dagang VOC, selain untuk memperlancar kegiatan
pencaharian keuntungan ekonomi yang besar, juga sudah merupakan tanda-tanda
awal dimulainya penjajahan dan pengaruh politik atas kekuasaan
kerajaan-kerajaan setempat. Melalui loji-loji dan kantor-kantor dagang itu VOC
merentangkan bukan hanya wilayah perdagangan, melainkan juga kekuasaan local di
seluruh Nusantara. Sebelum mengalami kehancuran pada akhir abad ke-18, VOC
berhasil mebentuk satu wilayah kekuasaan politik yang oleh pemerintah Belanda
dipandang perlu dilestarikan. Sekalipun VOC kemudian bubar, ini tidak berarti
bahwa “cengkraman” Belanda di Nusantara berakhir. Bahkan, Belanda secara resmi
menjadikan kepulauan Nusantara sebagai daerah jajahan dengan membentuk sebuah
lembaga pemerintahan di wilayah ini dengan nama “Pemerintah Hindia-Belanda” di
mana wilayah-wilayah yang pernag di kuasi VOC termasuk berbagai infrastruktur
dilanjutkan dan dimasukkan ke dalam kekuasaan pemerintahan yang baru itu.
b.
Awal
Pemerintahan Hindia Belanda di Indonesia 1800-1811
Indonesia
yang oleh Multatuli sebagai “Untaian Jamrud di Khatulistiwa” dan merupakan
sebuah negara kepulauan yang subur dengan latar belakang kebudayaan yang kaya.
Kini sedang terlihat di dalam suatu upaya besar untuk memodernisasi ekonomi.
Pada awal abad ke-16. Para pencari rempah-rempah bangsa Belanda secara bertahap
menanamkan kekuasaannya atas wilayah ini dan kemudian menjadikannya jajahan
mereka, terkenal dengan nama Hindia Belanda.
c.
Kekuasaan
Inggris 1811-1816
Masa
penjajahan Inggris berlangsung antara tahun 1811-1816. Sebagai puncak pemimpin
penjajahan Inggris di Indonesia ialah Raffles. Ia berpangkat Gubernur Jenderal
di bawah komando Gubernur Jenderal Lord Minto di India. Pada zaman kekuasaan
Inggris, diberlakukan prinsip-prinsip liberal. Secara idealnya, Inggris
menghendaki penduduk koloni hidup makmur karena hal itu akan menguntungkan
negara Induk yaitu Inggris, di antara tindakannya yang terkenal adalah dilaksanakannya
Landrente. Landrente dilaksanakan
berdasar pokok pemikiran bahwa semua tanah dikenakan kewajiban bayar sewa
pemakaian tanah. Tanah itu boleh dibayar dengan uang atau natura. Kehidupan
rakyat petani. Sistem perpajakan ini gagal mencapai sasaran. Sebabnya adalah
sistem dilaksanakan Inggris, kecurangan-kecurangan pegawai pelaksana, belum
adanya kadaster serta penentuan luas tanah yang tidak akurat.
Beberapa
daerah menolak kekuasaan Inggris di antaranya Palembang di bawah Sultan
Baharuddin. Inggris dapat pula memaksakan kekuasaanya dengan kekerasan pada
tahun 1812. Banjarmasin ditundukan pula dengan kekuatan militer pada tahun
1815. Terhadap Surakarta dan Yogyakarta yang dianggap bersekongkol menentang
Inggris, Raffles bertindak keras.
Untuk
menangi berbagai persoalan di tanah jajahan, oleh pemerintah di negeri Belanda
dikirim sebuah komisi yang terdiri atas tiga orang, yaitu Cornelis Th. Elout
(sebagai ketua), A.A. Buyekes dan Van der Capellen (sebagai anggota), komisi
ini dihadapkan kepada dua alternatif : melaksanakan sistem lama (kolot)
mencontoh kompeni atau melanjutkan sistem yang dilakukan Inggris (leberal)
mencontoh Raffles. Pada tahun 1819 komisi ini dibubarkan, dan Van de Capellen
di angkat menjadi Gubernur Jenderal (1819-1926). Sesungguhnya Elout menegaskan
pendiriannya, bahwa tanah jajahan jangan melupaka kesejahteraan penduduk.
Ternyata Van der Capellen tidak mau melaksanakan sistem atau cara-cara leberal
seperti yang dikehendaki Elout. Penguasaan tanah-tanah oleh partikelir
dolarangnya. Ia juga mengeluarkan larangan persewaan tanah kepada orang Eropa
di daerah Yogyakarta dan Surakarta. Karena peraturan itu datang setelah para
penyewa membayarkan uang sewanya, maka banyak para pemilik tanah (bangunan)
terpaksa harus mengembalikan uang sewa yang terlanjur telah diterimanya. Mereka
merasa dirugikan. Mereka mememndam terhadap pemeriontah jajahan.
Semakin
lama semakin jelas arah politik kolonial Belanda setelah mereka menerima tanah
jajahan dari Inggris. Mereka semakin cenderung ke arah monopolistik kembali. Du
Bus de Gisiegnies yang mengusahakan perbaikan nasib rakyat yang sudah sangat
miskin itu dengan jalan membuka usaha baru, membuka danmemperluas tanah-tanah
usaha baru, mengembangkan sistem kerja upah kepada rakyat. Untuk itu diperlukan
modal. Hal ini pun tak dapat dilaksanakan karena petani di Jawa belum terbiasa
dengan sistem kerja upah demikian, lagi pula pada waktu itu belum ada
undang-undang Agraria. (Hasan. 1991:448).
Untuk
mengambil alih kembalinya koloninya, Belanda mengirimkan tiga orang utusan yang
disebut Commissarisen General. Ditunjuk sebagai Gubernur Jenderal yang baru
adalah Van Der Capellen. Dua anggotanya adalaj Elout dan Buyskens.
Banyak
kesukaran yang ditemui pemerintah Belanda pada awal kedatangan mereka ke
Nusantara. Karena pemerintahan Inggris yang jauh lebih manusiawi menorehkan
kesan baik di hati orang-orang di Nusantara. Kesukaran tersebut terasa sekali
di Sumatera. Meskipun Belanda berhasil mengambil Palembang tahun 1817, mereka
harus menunggu hingga tahun 1818 untuk daerah-daerah di Sumatera bagian Barat,
penyebabnya Raffles lalu melarang Belanda mengambil wilayah itu karena masih
dianggap sebagai kekuasaan Inggris.
Raffles
baru mau menyerahkan setelah diperintah oleh atasannya, yaitu Gubernur Jenderal
India. Kepada atasan Raffles ini, pemerintah Hindia Belanda menyampaikan
keluhan atas sikap Raffles, sebelum akhirnya turun perintah tersebut. Karena ia
melakukannya dengan terpaksa, ia tetap mencari seribu satu jalan dalam
menghalangi Belanda, di antaranya dengan menancapkan bendera Inggris di Teluk
Semangka, Sumatera Selatan. Juga ditematkannya sepasukan Inggris berjumlah
ratusan orang dipimpin seorang perwira untuk bergerak dari Bengkulu ke
Palembang, demikian pesannya, harus dinaikan bendera Ingggris di atas puncak tiang bendera keraton Sultan
Palembang.
Tak
Pelak lagi tindakan tersebut membuat Belanda tersinggung. Karena sudah
dipandang keterlaluan, komisaris kerajaan Belanda yang ada di Palembang,
Mutinghe, di perintahkan untuk menangkap para serdadu Inggris. Bendera Inggris
lalu diturunkan. Para serdadu ditangkap, lalu dikirim kembali ke Batavia
melalui Bengkulu.
2.
Kekuasaan
Hindia Belanda 1816
a.
Upaya
Hindia Belanda dalam pertahanan dan keamanan
Sejak
persekutuan dagang Belanda VOC (Verenigde Oostindische Companie) bangkrut dan
digantikan oleh pemerintah Hindia Belanda. Gubernur Jenderal pemerintah Hindia
Belanda mengeluarkan suatu kebijakan baru tentang pengaturan sistem militernya.
Kebijakan baru tersebut dikeluarkan pada tahun 1830 yaitu dengan membentuk
satuan militer yang berasal dari putra-putra daerah yang direkrut dari pel
bagai pelosok ditanah air, nama dari satuan itu yaitu KNIL (het Koninklijke Nederlandsche Indische Leger) adapun tujuan
utama dari pembentukan kesatuan tentara ini adalah menumpas pemberontakan dalam
upaya membantu pemerintah Hindia Belanda memperluas wilayah kekuasaannya di
Nusantara.
Menurut
Capt. Suyono dalam bukunya yang berjudul Peperangan Kerajaan Di Nusantara yang
diterbitkan oleh Grasindo tahun 2003 mengatakan bahwa :
“Untuk menambah kekuatan
pasukannya, Belanda akan mengambil putra-putra daerah. Wilayah yang sering
direkrut penduduknya adalah Ambon, Kepulauan Aru, dan Madura. Ketika menumpas
pemberontakan di Bali, Belanda mengambil barisan orang Ambon, Jawa dan Belanda”(Suyono,
2003:)
Rekrutmen
tentara dari kalangan pribumi mulai dilakukan. Hal ini juga dimaksudkan untuk
mengurangi risiko banyaknya tentara Belanda yang tewas dalam pertempuran. Pada
masa itu, angka kematian serdadu cukup tinggi, karena selain mati diterjang
peluru atau luka dalam peperangan, mereka juga diancam berbagai pepenyakit,
seperti kolera.
Di
samping itu, mendatangkan prajurit dari Belanda akan menanamkan biaya
mahal.prajurit pribumi jauh lebih murah. Kelebihan lain adalah orang-orang
pribumi ini relatif lebih tahan terhadap penyakit tropis. Pada abad ke-19,
wilayah kekuasaanya pemerintah kolonial Belanda di Nusantara masih terhitung
kecil. Mereka hanya berada dibeberapa pulau saja, masih belum menyebar luas.
Sementara itu, negara-negara Eropa lain sudah mulai berdatangan mendekati
Nusantara Inggris , musalnya, mengambil Singapura. Di khawatirkan, negara Eropa
lain akan mencaplok wilayah sekitar sebagiamana yang dilakukan Inggris.
Keberadaan
KNIL juga akan membantu kenaikan wibawa pemerintah Belanda, semenjak mereka
mengambil nusantara dari VOC. Pemerintah Hindia Belanda sudah mulai campur
tangan dalam pemerintahan lokal, terutama bila ada perebutan kekuasaan
regional. Karena pada umumnya, Belanda dapat mengambil untung dari perselisihan
itu. Strategi devide et Impera sangat tepat penggunaannya di daerah Aceh.
Khasanah lama masyarakat Aceh menampilkan adat-adat dan agama sebagai dua unsur
yang dominan dan mengendalikan gerak hidup rakyat yang berdiam di ujung utara
pulau Sumateraitu. Demikianlah, di dalam lapisan atas masyarakat tersebut di
satu pihak, Sultan dan Ulebalang merupakan dua pilar utama yang mendukung
kehidupan adat. Lebih dari itu, Sultan dan para Ulebalang bahkan menjadi simbol
keberadaan dan peranan adat di dalam masyarakat Aceh. Di lain pihak, dalam
lapisan yang sama, ulama masyarakat Aceh. Di lain pihak, dalam lapisan yang
sama, Ulama muncul msebagai pilar utama tang mendukung serta memperjuangkan
keberadaan dan peraan agama.
Akan
tetapi pemerintah kolonial Belanda selama hampir empat puluh tahun sebelum
pecahnya Perang Dunia II telah merusak suasana harmonis antara ketiga kekuatan
utama sosial politik Aceh itu, dan meninggalkan dampak masih terasa hingga
berpuluh tahun kemudian. Ada dud tindakan Belanda secara bersama dalam usahanya
untuk menguasai Aceh. Pertama ia menghapuskan kesultanan, sehingga tinggalah
para Ulebalang dan para ulama sebagai pilar. Pilar kekuasaan tradisional rakyat
Aceh. Kedua, Belanda mempertentangkan antara para Ulebalang dengan Sultan, dan
hal ini dilakukannya dengan jalan yang menarik para Ulebalang ke pihaknya
sendiri. Pertentangan ini memberikan keuntungan lain kepada Belanda. Dalan hal
ini, kaum ulama memandang para Ulebalang sebagai telah mengkhianati Sultan.
Demikianlah,
setelah kesultanan Aceh dihapuskan secara payah Belanda menciptakan suatu
sistem keseimbangan dalam kepolitikan Aceh masa itu. Di satu pihak, Belanda
tetap mempertahankan kehadiran kedua pilar, kedua pilar kekuatan politik
tradisional Aceh, dan sama sekali tidak memberi kesempatan bagi munculnya
kembali pilar yang pertama, yakni Sultan. Di lain pihak, ia menjadikan dirinya
sebagai teraji yang menyeimbangkan kedua kekuatan tradisional yang masih
tersisa itu. Untuk dapat memelihara keseimbangan tersebut, dengan liciknya
Belanda selalu mempertentangkan kaum bangsawan dengan kaum Ulama. Hal ini
dicapainya dengan menanamkan perasaan saling curiga antara keduanya. Sehingga
tumbuhlah suasana konflik yang tak ternodai di dalam sejarah tersebut. Dengan
berbagai cara Belanda senantiasa berusaha mencegah dan mematahkan setiap upaya
rekonsiliasi yang dilakukan oleh kedua kekuatan pribumi itu.
Dalam
bukunya Sjamsudin Nazaruddin, Revolusi si
Serambi Mekah. Perjuangan kemerdekaan dan pertarungan politik di Aceh
1945-1949. Secara politis, ketiga pilar itu, Sultan, Ulebelang, dan Ulama
saling berkaitan atau saling mempengaruhi. Di dalam mejalankan kekuasaannya
Sultan memerlukan kedua pilar lainnya sebagai pemghubung antara dirinya yang
bermukim di puncak struktur dengan rakyat biasa yang berada di struktur bawah.
Oleh sebab itu, Sultan terus bertindak sedemikian rupa, sehingga ia mampu
mengharmoniskan hubungan serta pengaruh para Ulebalang dan Ulama dalam
masyarakat. Sekaligus untuk mengendalikan pengaruh tersebut terhadap dirinya
sendiri.
Strategi
lainnya yang dilakukan bangsa Belanda dalam melemahkan kekuatan raja-raja
daerah yaitu dengan candu. Banyak yang tidak
mengetahui bahwa candu telah lama dilegalisasi di Nusantara oleh
pemerintah Hindia Belanda. Bahwa, candu adalah penyebab peperangan antara
kerajaan Lombok dengan Hindia Belanda. Karena kerajaan Lombok pada waktu itu
juga memperdagangkan candu di Nusantara. Hasil penjualan candu, jugaa dipakai
oleh pemerintah Hindia Belanda untuk pengeluaran-pengeluaran tidak resmi, yaitu
untuk menyogok para raja dan penguasa pribumi, dan juga sebagian untuk ongkos
operasi peperangan yang tidak dimasukan dalam neraca pendapatan dan pengeluaran
Hindia Belanda.
Di
pulau Jawa, berdasarkan ketentuan hukum yang dikeluarkan oleh pemerintah Hindia
Belanda, terdapat tiga golongan penduduk di Nusantara, yaitu golongan Orang
Barat, Inlander atau orang Pribumi, dan Vreende Oosterlingen. Sedangkan yang
dimaksud dengan Vreende Oosterlingen adalah orang-orang Arab, Cina , Hindia,
dan golongan lainnya yang tidak termasuk orang Pribumi. Golongan penduduk itu
sangat menentukan, apalagi berkaitan dengan masalah pengadilan. Kepastian etnik
suku sangat menentukan jenis pakaian mana yang boleh dipakai oleh penduduk
Hindia Belanda waktu itu di muka umum. Di Jawa, berdasarkan Staatsblad 1872,
Nomor 111 misalnya, adalah tindakan hukum jika berpakaian cara lain selain dari
yang biasanya dilakukan oleh etnik Jawa. Jadi, orang Jawa tidak boleh
berpakaian seperti orang Eropa, atau orang Cina tidak diperbolehkan memotong
buntut kuncinya.
Scandu
tidak diekspor ke Eropa, karena itu dimuat dalam neraca perdagangan . sehingga
seolah-olah tampak bahwa keuntungan pemerintahan Hindia Belanda hanya didapat
langsung dari hasil penjualan produk-produk Nusantara seperti kopi, gula,
timah, dan lainnya ke Negeri Belanda. Dalam neraca, hasilnya akan kelihatan
seolah-olah Pemerintah Hindia Belanda telah mengalami kekuarangan dalam neraca
Pembayaran. Seperti dalam kurun waktu tahun 1848-1866, pengeluaran di
Nusantara, Pemerintah Hindia Belanda telah melebihi 315 juta gulden dari
penerimaan. Kekurangan ini akan menjadi 156 juta gulden lebih tinggi, tanpa
keuntungan Hindia Belanda dari penjualan candu adalah 155,9 juta gulden. Hal
ini berarti hasil candu merupakan 8,2% dari penerimaan pemerintahan Kolonial,
atau 12,5% dari hasil jasa para pegawainya. Penerimaan dari Pemerintahan Hindia
Belanda.
Keuntungan
dari Pemerintahan kolonial, senagian besar berada di Negeri Belanda. Sedangkan
pengeluaran biaya operasinya, untuk memperolehnya ada di puncak pemerintah
Hindia Belanda. Oleh karena itu seolah-olah kelihatan bahwa Pemerintah Hindia
Belanda secara perlahan. Keuntungan dari penjualan candu sangat meringankan cah
flow dari pemerintahan di Batavia. Misalnya antara tahun 1860-1915, keuntungan
dari candu adalah 15 % dari seluruh penerimaan Hindia Belanda. Bagaimana hasil
yang demikian besarnya dapat hilang begitu saja dalam sejarah Pemerintahan
Hindia Belanda, telah menjadi suatu teka-teki sampai sekarang.
Pada
tahun 1894, di Pulau Madura telah dilakukan upaya percobaan dengan cara opium
regie atau pajak candu. Dengan cara ini, candu-candu dalam bentuk kasar oleh
Pemerintah telah dibuat menjadi “candu hisap”, dan dijual oleh para pegawai
yang ditentukan. Para pegawai itu, tingkatannya sama dengan pegawai pos. dengan
cara ini, maka para perantara penjual candu dari golongan Cina tidak dipakai
lagi sejak tahun 1894, opium regie dikembangkan oleh secara berangsur-angsur
untuk seluruh pulau Jawa dan kepulauan sekitarnya.
Candu
yang digunakan ternyata sangat efektif dalam penerapan strategi melemahkan
lawan, banyak menggunakan menimbulkan rasa ketergantungan bagi para
penggunanya. Efek lain dari penangkapan dan pembodohan rakyat menggunakan cara
ini.
b.
Strategi
Operasional KNIL
Dalam
pasukan KNIL yang paling mendapatkan keistimewaan adalah tentara Ambon.
Fasilitas mereka lebih baik daripada yang lainnya. Mereka akan mendapat
tambahan gaji lebih besar daripada serdadu lain bila mendapat kendali atau anda
jasa lainnya. Bila mendapat medali kuningan yang disebut Voor Moed en trouw
(untuk keberanian dan kesetiaan), seorang prajurit Ambon akan mendapat f10, 19
gulden. Sementara itu, prajurit Jawa san Sunda harus cukup puas dengan f6, 39
saja, diskriminasi itu berlaku untuk semua jenis pendapatan, baik gaji, uang
saku, makanan, uang pensiun, uang perjalanan, serta tingkat kelas bila
bepergian, termasuk juga bantuan kesehatan. Orang Ambon, dan Manado akan
mendapat jumlah yang lebih tinggi dibansingkan yang lain.
Namun,
terhadap prajurit Eropa, apa yang diapat oleh orang Ambon dan Manado itu
terhitung lebih rendah Prajurit Jawa, pada mulanya tidak boleh memakai sepatu.
Mereka sengaja direndahkan karena kesetiaan prajurit Jawa itu sering diragukan.
Disebutkan pula bahwa keunggulan berperang prajurit Jawa dibandingkan prajurit
Ambon dan Manado sebagai serdadu KNIL sering dipertanyakan.
Barulah
pada tahun 1905 mereka mulai bersepatu, sama seperti prajurit suku lain yang
sudah bersepatu terlabih dahulu. Izin menggunakan sepatu pada prajurit Jawa
keluar setelah ada protes dari perwira-perwira KNIL yang membela mereka. Dalam
menjajah militer Bayoney yang terbit tahun 1913, terdapat tulisan “Bila
dikatakan kepada seorang prajurit Ambon tiap hari bahwa dia jauh lebih rendah
dari pada Kromo, si prajurit Jawa, maka akhirnya ia akan merasa demikian”.
Salah
seorang yang membela prajurit Jawa adalah J Van der Weijden, menantu Jenderal
van Heutsz. Dalam majalah ketentaraan KNIL tahun 1915/1916, ia menulis
“Prajurit Jawa tidak rendah kualitasnya, tetapi direndahkan oleh kita sendiri ,
orang-orang Belanda.
Apakah
kita tidak belajar dari sejarah perang Jawa, di mana orang-orang Jawa dapat
berperang dengan gagah berani serta nekad, meskipun melawan kita, orang
Belanda, yang jumlahnya lebih banyak, karena ia tahu berperang untuk
kepentingan dan tujuan mulia.s
Kita
juga tidak boleh melupakan bahwa orang Jawa setelah orang Aceh adalah lawan
kita yang paling tangguh dan berani” (Suyono. 2003:328).
Di
dalam buku KMA atau Koniklijke Militaire Academie di Breda, terdapat tulisan
mengenai prajurit di bumi nusantara. Sebagai berikut : “Mempertimbangkan
nilai keprajuritan para prajurit pribumi
di Nusantara, kami berpendapat bahwa pengikatan cinta terhadap tanah air dan
nasionalisme tidak terdapat pada mereka. Mereka hanyalah merupakan
serdadu-serdadu yang disewa saja dan menganggap menjadi prajurit adalah sebagai
suatu pekerjaan yang harus dibayar”.
Akhirnya,
sesuai keputusan Pemerintah Hindia Belanda, 1 Maret 1921, segala doskriminasi
terhadap prajurit itu dihapuskan. Mereka diperlakukan sama sarana dan prasarana
KNIL.
1) Seragam
KNIL
Berkali-kali
KNIL berganti seragam. Hingga tahun 1894, seragam KNIL dinamakan syako dengan
topi helm dari gabus. Baru pada tahun 1910, topi sesungguhnya dibuat bagi
mereka. Terbuat dari bambu yang enteng. Pada tahun 1915, KNIL mendapat seragam
yang tebal dan susah dicuci. Perubahan radikal terjadi ketika KNIL berada di
Aceh, dari bahan yang berat mereka mendapat seragam baru dari bahan Linen
dengan celana yang tipis. Sesudah tahun 1936, seragam KNIL adalah kain hijau
yang dinamakan tenunan Garut. Topi tetap topi bambu.
2) Bintang
Jasa
Dekorasi
atau bintang jasa diberikan kepada serdadu KNIL yang dianggap berjasa. Bintang
jasa ini dinamakan Militaire Wllemsorde. Terdapat beberapa kelas bintang jasa.
Militaire
Wllemsorde kelas IV bintang jasa untuk keberanian tempur di Aceh. Terbuat dari
tembaga. Pada bintang jasa itu, terdapat tulisan Voor Moed en Trouw, karena
dianggap prajurit pribumi tidak mempunyai bakat kepemimpinan. Bintang jasa
diberikan di medan pertempuran, dihadapan para prajurit lainnya. Komandan
tertinggi bertugas menganugrahkannya dalam upacara itu. Penghargaan disampaikan
dalam dua bahasa, Belanda dan Melayu sesungguhnya sang komandan akan berpidato.
Bagi
tanda jasa yang tertinggi, akan disusul dengan defile pasukan KNIL yang hadir, sedangkan bagi prajurit Belanda,
bintang jasanya adalah Voor Moed, Beleid
entrouw, Beleid artinya memimpin. Arti lengkapnya adalah keberanian, pemimpin
, dan kesetiaan.
3) Barak
Inilah
tempat para militer KNIL hidup. Tidak peduli bujangga atau sudah berkeluarga,
semua berkumpul di tangsi. Biasanya, tangsi berkolasi di tengah kota. Pintu
masuk tangsi selalu dijaga 24 jam dalam sehari. Jam dinas militer di dalam
tangsi adalah pukul 06.15 hingga 11.30 terkadang hingga pukul 16.00.
Mereka
yang sudah berpangkat Sersan diizinkan berpakaian sipil di dalam tangsi. Bawahannya harus tetap berpakaian
dinas. Pada waktu apel malam, semua sudah harus masuk ke tangsi, terutama pada
tangsi yang berada di luar Jawa, sesudah lampu dimatikan, suasana sunyi senyap
akan langsung menyergap tangsi.
Serdadu
yang masih bujangga, tidur dibarak dengan tempat tidur yang berjajar, sedangkan
mereka yang sudah berkeluarga, baraknya disekat-sekat dengan ukuran 3x4 meter.
Hanya cukup untuk satu tempat tidur. Dari sanalah istilah anak kolong berasal.
Kamar mandi dan kakus dipakai bersama. Tentu saja, dipisahkan antara lelakai
dan perempuan. Memasak dilakukan di dapur umum, bagi keluarga prajurit
rendahan.
Bagi
perwira Bintara, disediakan perumahan di luar tangsi bila keadaan memang
memungkinkan. Untuk menempatinya, mereka akan dikenakan biaya 12% dari gaji.
Dengan demikian, mereka lenih bebas untuk menjalankan kehidupan rumah tangga
sehari-hari. Uang makan yang dibagikan KNIL bervariasi jumlahnya. Tergantung
dari jumlah keluarga, bangsa, dan suku. Dapat digambarkan sebagai berikut:
1. Serdadu
Eropa mendapat jumlah terbesar, karena beberapa kali dalam seminggu mereka
mendapat makanan Eropa. Mereka juga mendapat rodi untuk makan pagi dan malam.
2. Golongan
Ambon dan Manado mendapat hak istimewa berupa selingan makanan Eropa, yaitu
roti dan kentang.
3. Golongan
yang terendah adalah serdadu Jawa. Mereka hanya mendapat nasi. Untuk sarapan,
mereka mendapat ketan dan sesuatu yang manis.
4. Diskriminasi
oleh Belanda itu membuat prajurit tak pernah akur. Satu golongan merasa lebih
tinggi dari pada yang lain. Mereka mendapat gaji secara mengguan.
c.
Keberadaan
KNIL di Nusantara
KNIL
adalah tentara yang dipakai Belanda dalam menguasai dan mengatur nusantara.
Namun demikian, kehebatan KNIL tidak lagi terlalu berarti ketika Belanda ingin
kembali menjajah Indonesia sesudah Perang Dunia II, pada tahun 1946 hingga
1950. Kerena pada saat itu, Indonesia sudah mulai merasa perlu bersatu.
Keseluruhan Nusantara telah berwujud dalam Negara Kesatuan Republik Indonesia
(NKRI).
Secara
resmi, KNIL berada di Nusantara dari tahun 1830 sampai dengan 1950. Kesatuan
ini hilang seiring dengan perginya Belanda dari Indnonesia. Sebelum KNIL berdiri
resmi dengan tugas sebagai tentara Hindia Belanda di Indonesia, peperangan di
Nusantara ditumpas oleh prajurit Belanda sendiri. Untuk menambahkan kekuatan
pasukannya, Belanda akan mengambil putra-putra daerah. Wilayah yang sering
direkrut penduduknya adalah Ambon, Kepulauan Aru, dan Madura. Ketika menumpas
pemberontakan di Bali, Belanda mengambil berusan orang-orang Ambon, Jawa, dan
Manado.
Pemberontakan
yang terjadi di Nusantara mulai gencar ketika Inggris meninggalkan nusantara.
Sebagaimana diketahui, Inggris sempat memegang kendali jajahan Belanda
sepanjang tahun 1811-1916. Pemerintahan Inggris yang lebih menusiawi membuat
banyak daerah memberontak ketika Belanda datang lagi.
Dapat
disebut beberapa pemberontakan, misalnya pemberontakan Patimura, pemberontakan
Kerajaan Palembang, dan lainnya. Belanda memerlukan kesatuan tentara yang dapat
bertindak cepat dan lugas dalam menangani pemberontakan itu. Ketentraman itu
haruslah bersifat tetap dan diambil dari pel bagai daerah di Nusantara. Karena
berbagai pemberontakan tersebut menjadi pelajaran berharga yang memberikan
kesimpulan kepada Belanda bahwa Hindia Belanda harus membentuk pasukan
tersendiri. Oleh karena itu, pada tahun 1831, KNIL resmi dibentuk.
Dalam
upayanya kembali menjajah nusantara yang telah menjadi Republik Indonesia,
Belanda mencoba menerapkan kemampuannya memecah belah bangsa ini. Sebagaimana
yang dahulu mereka lakukan karena itu, didorongnya semangatprimordialisme putra
daerah dengan membentuk negara kedaerahan. Misalnya Negara Indonesia Timur,
Republik Maluku Selatan, dan lain-lain.
Politik
Belanda itu dikenal dengan Divide et Impera, membagi dahulu baru kemudian
memerintah.
Van
Huetsz menjadi Gubernur Jenderal (1904-1909) dan dalam jabatan ini dia
bertanggungjawab atas penaklukan-penaklukan terakhir di seluruh Indonesia.
Daerah kekuasaan Belanda di Nusantara bagian Barat disempurnakan dengan
pendudukan militer atas kepulauan Mentawai dari sekitar tahun 1905, walaupun
ada perlawanan lokal yang berlangsung lama. Pada sekitar tahun 1910 perbatasan
negara Indonesia yang sekarang ini telah ditentukan secara kurang lebih oleh
angkatan bersenjata kolonial dengan banyak korban jiwa, uang , kerusakan,
kepaduan sosial, dan martabat serta kebebasan manusia. Akan tetapi, perasaan
benci terhadap penaklukan dan eksploitasi kolonial tidak akan membuat seorang
buta akan akibat-akibat yang lebih positif dari perluasan kekuasaan Belanda.
Sistem-sistem politik feodal, perbudakan, pembakaran janda,
peperangan-peperangan saudara, pengayauan kepada kanibalisme, perampokan , dan
praktek-praktek lain yang tidak dapat diterima di hapuskan di bawah kekuasaan
Belanda. Tentu saja bentuk-bentuk kejahatan yang baru dan lebih modern mengantikan
praktek-praktek tersebut ketika pihak baru dan lebih modern menggantikan
praktek-prektek tersebut ketika pihak penjajah yang hidup dalam alam
industrialisasi mulai mengeksploitasi rakyat yang dijajahnya. Akan tetapi,
dalam hal-hal yang penting banyak orang Indonesia telah dipaksa memasuki zaman yang lebih modern.
Dasar-dasar telah diletakan bagi pembentukan suatu bangsa harus yang dsatukan
oleh tradisi-tradisi budaya dan politik selama berabad-abad dan oleh pengalaman
terakhir dari penaklukan dan pemerintah Belanda. Belanda tidak menciptakan
Indonesia, tetapi mereka telah menciptakan luas wilayahnya dan menciptakan
suatu lingkungan yang dimana kekuatan-kekuatan kaum nasionalis akhirnya dapat
tumbuh dan berkembang.
Bagaimanapun
juga, memang bijaksana apa;agi kita memperhatikan cara-cara yang
diselenggarakan untuk membangun neara jajahan baru ini. Karena rakyat Indonesia
masih terpecah-pecah, maka mereka tidak saja dapat ditaklukan oleh kekuatan
penjajah yang relatif kecil tetapi juga secara aktif ikut serta dalam
penaklukan satau sama lain. Pada tahun 1905 penduduk asli Indonesia
diperkirakan berjumlah sekitar 37 juta jiwa. Orang-orang Eropa yang bertugas di
dalam angkatan darat dan angkatan laut kolonial di Indonesia pada waktu itu
seluruhnya hanya berjumlaj 15.866 orang perwira dan prajurit. Akan tetapi ,
orang Indonesia yang dalam angkatan darat (24.522) dan 68% di antaranya adalah
orang Jawa, 21% orang Ambon, dan sisanya adalah orang-orang sunda , Madura,
Bugis, dan Melayu (kebanyakan) dari ti,or
.
perasaan tentang identitas Indonesia atau tujuan-tujuan bersama belum ada.
Sebagian besar orang Jawa, misalnya, tidak mengatahui maupun tidak memperduikan
apa yang terjadi di Aceh, kecuali mereka yang bertempur di pihak Belanda untuk
menghancurkan kemerdekaannya. Tumbuhnya suatu identitas Indonesia yang menjadi
milik bersama harus mengunggu terjadinya peristiwa-peristiwa yang menggemparkan
pada abad XX.
d.
Pola
kekuatan dan Komposisi TentaraKNIL
Kalau
ditelusuri bahwa perwira-perwira Belanda adalah tamatan KMA Breda, sebuah
akademi militer ternama di negeri itu. Tetapi, serdadu mereka di abad ke-19 itu
adalah bintara dan tamtama yang direkrut sebagai sukarelawan. Atau paling tidak
mereka dibujuk untuk menjadi serdadu Kompeni. Jumlah mereka seluruhnya mencapai
109.000 orang. Jadi, selama masa kekuasaan pemerintahan Hidia Belanda , telah
dikirim sekitar 1.500 sampai 1600 orang tiap tahun dengan kapal/ jumlah itu
masih kurang karena yang dibutuhkan adalah 2000 orang per tahun.
Tidak
semua serdadu yang dikirim itu orang-orang Belanda. Bila dihitung orang-orang
Belanda hanya mencapai 61% saja. Dari 39% sisanya adaalh orang Belgia (30%),
orang Jerman (30%), orang Swiss (20%), dan orang Perancis 12%. Mereka diambil
di Harderwijk dengan segala bujukan dan pemberian uang panjan karena itu, agar
mereka tidak lari, pengawalan akan dilakukan dengan ketat hingga mereka naik ke
kapal yang akan membawa mereka.
Belanda
juga mengambil serdadu dari koloni mereka di Afrika Barat (sekarang dikenal
sebagai Ghana). Belanda melakukan itu samapai dengan tahun 1967. Karena
berkulit hitam, mereka di Sebut Belanda Hitam atau Mardjikers.
Orang-orang
Indo berkulit hitam di tanah air, boleh jadi berasal dari keturunan mereka.
Peranakan Indo-Belanda di Indonesia, banyak juga yang diambil menjadi seradadu.
Jumlah mereka mencapai 14% pada mulanya. Tetapi kemudian meningkat hingga 25%
terutama yang diambil adalah anak-anak yang lahir di tangsi. Pendaftaran
menjadi prajurit Hindia Belanda sebagian besar dilakukan di Pulau Jawa,
Sulawesi Utara, dan Kepulauan Maluku, terutama Ambon. Sementara itu, rekrutan
pemuda pribumi lainnya dilakukan bekerja sama dengan kepala desa atau lurah
setempat.
Salah
satu daerah yang menyediakan serdadu-serdadu VOC yaitu Savu, Nusa Tenggara.
Sifat budaya oleh perluasan kekuasaan Belanda. Savu relatif terkecil sebelum
abad XIX, menolak Islam maupun Kristen, walaupun telah terjadi perpindahan
penduduk Savu ke Sunda. Mulai sekitar tahun 1860 Savu dipaksa membuka diri bagi
dunia luar. Salah satu di antara akibat-akibatnya yang pertama adalah
berjangkitnya wabah cacaar yang menewaskan antara sepertiga samapai separuh
penduduk Savu pada tahun 1869, juga mulai beroperasi misionaris Kristen di
sana. Orang-orang yang masuk agama Kristen ditolak oleh masyarakat Savu, yang
sangat berbeda dengan keadaan di Roti, dan orang-orang Savu yang beragama
Kristen tersebut kinmi mendapat dorongan dari pihak Belanda untuk menetap di
Sumba dalam jumlah yang lebih besar dalam rangka untuk menghambat penyebaran
agama Islam di sana, dan Timor (tetapi dalam jumlah yang lebih kecil). Pada
waktu yang bersamaan orang-orang Roti yang beragama Kristen mendapat dorongan
untuk menetap di Timor. Dengan demikian, ekonomi penyadapan lotar orang-orang
Roti dan Savu dipindahkan ke Sumba dan Timor. Di kedua pulau tersebut kaum
pendatang membentuk suatu elite yang terpercaya dan terpelajar yang oleh pihak
Belanda dilingdungi dari serangan penduduk setempat. Paa abad XX orang-orang
Roti dan Savu yang beragama Kristen itu mendominasi dinas pemerintahan maupun
gerakan-gerakan anti penjajah di Timor. Perubahan-perubahan yang penring juga
menyertai pengenalan ternak Bali di Timor mulai sekitar 1910,
perkembangan-perkembangan itu dianalisis secara rinci oleh Fox.
Bial
lulus dan menjadi serdadu, kepada mereka akan diberikan langsung uang panjar.
Mereka yang direkrut dari luar Jawa akan langsung dinaikan ke kapal untuk
dibawa ke Jawa. Pada tahun 1916, jumlah prajurit di aknil terdiri dari 17.854
orang Jawa, 1.792 orang Sunda, 151 Madura, 36 Orang Bugis, dan 1.066 orang
Melayu. Terdapat juga 3.519 orang Ambon, 5.925 orang Manado, dan 59 orang
Arafuru. Jumlah tersebut masih dilengkapi lagi dengan 8.649 orang Eropa.
Sebanyak 6.061 di antaranya didatangkan langsung dari Belanda. Sisanya 1815
orang berasal dari Hidia Belanda.
Jumlah
ini kemudian meningkat. Pada tahun 1929, serdadu KNIL sudah mencapai jumlah
37.000 orang yang terdiri dari beragam ras. Sebanyak 18% adalah orang Eropa.
Sisanya terdiri dari orang pribumi dari berbagai suku (Jawa, Sunda, Manado,
Ambon, Timor).
Bila
pun ada suku lain di luar itu, jumlahnya tak signifikasi. Hanya sekitar hampir
1% mereka adalah orang Melayu, Aceh, batak, Madura, dan Bugis. Persentase
terbanyak adalah orang jawa, mencapai 45% dengan 5% orang Sunda. Komposisi
orang Jawa pada umumnya mencapai 50%. Menuerut Belanda, orang jawa akan lebih
menonjol sebagai militer bila mereka dicampur dengan suku-suku lain. Hal ini
terbukti pada Brigade Marsose di Aceh. Dalam satu Kompi Marsose, 20 Orang serdadunya
terdiri orang Ambon, Manado, dan Jawa.
Orang-orang
Manado mengambil porsi 15% di KNIL, sedangkan orang Ambon, di luar perkiraan
umum, hanya mencapai 12% saja. Sekitar 4% adalah orang Timor yang berasal dari
pulau Savu dan Rote. Kesatuan KNIL membagi organisasi dalam berperang sesuai
dengan sifat dan karakter masing-masing suku. Pada sebuah batalion infanteri
empat barisan perang.
Kompi
pertama adalah orang Ambon atau Timor. Kompi ketiga dan keempat adalah Sunda
dan Jawa. Setiap kompi mempunyai tugas masing-masing. Kompi pertama berhadapan
langsung dengan musuh, menyerang, menembak, kemudian membuat lubang
perlingdungan. Bila mungkin harus berusaha berada di belakang musuh untuk
menghitung kekuatan mereka.
Kompi
kedua merupakan pasukan pengembur, bertugas melibas musuh, tetapi, harus segera
di tarik kembali sebelum membuat semuanya hancur kompi ketiga dan keempat
bertugas melakukan pendudukan dan menciptakan perdamaian. Ini karena orang Jawa
dan Sunda dipandang mempunyai sifat tenang dan mampu menahan diri.
Dalam
sistem pengajian, Belanda melakukan diskriminasi. Ini selaras dengan politik
divide et impera yang dijalankan Belanda. Yang paling terkena diskriminasi
adalah orang Jawa. Mungkin karena mereka cenderung nrimo, diam saja dan tidak
banyak protes.
3.
Peranan
tenyata KNIL dalam penumpasan pemberontakan di Indonesia
Dalam pelaksanaan tugasnya tentara
KNIL banyak berjasa terhadap pemerintah Hindia Belanda. KNIL di Jawa melakukan
operasi secara terpencar, sesuai pola peperangan modern untuk menghindari
kekalahan yang besar namun, di luar Jawa, mereka beroperasi dengan sistem
patroli. Pola operasi itu sangat spesifik, tergantung kebutuhan tiap daerah.
Pada daerah yang dikuasai oleh pemerintah Hindia Belanda, ditempatkan sebuah
detasemen atau garnisum. Besar garnisum atau biasa juga disebut tangsi akan
disesuaikan dengan luas wilayah yang dikuasai. Sebuah garnisum akan terdiri
dari beberapa brigade infanteri. Pada mulanya, satu brigade terdiri dari 20
orang tetapi, dengan alasan penghematan, jumlah itu kemudian diciutkan menjadi
15 orang garnisum terkecil dipimpin ole seseorang letnan satu.
Bebagai ekspedisi dijalankan oleh
tentara KNIL yang pada intinya hanya untuk menggerogoti daerah sendiri. Pada
tahun 1816, kekuatan KNIL berjumlah 12.600 orang. Sebanyak 6.000 di antaranya
adalah prajurit Belanda atau Eropa. Dalam Perang Diponegoro, kekuatan pasukan
ini ditambah dengan 19.500 orang lagi, namun usia perang jumlah pasukan hanya
tinggal 13.555 orang saja terlihat jelas, betapa besar kerugian yang ditimbulkan
di pahak Belanda. Lebih dari 15.000 prajuritnya tewas. Sebanyak 8.000 di
antaranya adalah pribumi. Tetapi, lawan KNIL, yaitu orang Jawa, tewas dengan
angka yang lebih fantastis, yaitu 200.000 orang.
a.
Ekspedisi-ekspedisi
KNIL di Indonesia 1930-1941
1) Ekspedisi
Puputan Bali
Pada
bulan September 1906 belanda menjalankan kebijakan politiknya yang baru tahun
1893 dilaksanakan terhadap daerah-daerh diluar pulau Jawa. Yaitu mengirimkan
pasukan tentara di pantai SanurBali dengan alasan, Raja Badung di Bali tidak
bersedia membayar kerugian atas perampokan sebuah kapal milik orang Cina yang
kandas di pantai Bali. Sebelumnya, tentara kolonial atau KNIL dikirim hanya
untuk memadamkan pemberontakan di daerah luar pulau Jawa. Menurut Sejarawan
Inggris yaitu M.C.Ricklefs dalam bukunya Sejarah Indonesia Modern.
“pada
akhir 1840 ada dua faktor yang menyakinkan pihak Belanda bahwa Bali harus
ditempatkan di bawah pengaruh mereka, yaitu perampokan dan perampasan yang
dilakukan oleh orang-orang Bali terhadap kapal-kapal yang terdampar dan adanya kemungkinan
kekuatan Eropa lainnya akan menguasai Bali”(Ricklefs, 1991:203).
Keterangan Ricklefs memberikan gambaran bahwa Bali
memiliki suatu peranan yang besar di mata bangsa Eropa. Protes pelaksanaan
ekspedisi terhadap Bali dapat dilihat dari sebuah laporan resmi KNIL
mengungkapkan ,bahwa artileri menempatkan diri di perempatan pada waktu puputan
dilakukan oleh Raja beserta keluarga Kerajaan Pamecutan
“pukul
7 pagi serdadu berangkat dari Puri Kesiman akan menyerang Denpasar di kali Ungu
dijaga oleh beberapa rakyat Badung yang bersenjata tombak dan keris,
diantaranya ada juga bersenjata bedil, soldadu tidak berhentinya membuang pelor
sampai-sampai banyak pasukan Badung mendapat kematian luka-luka, sedang dari pihak
Kompeni seorang Kompeni seorang luka kena tembak. Pukul 11 tengah hari soldadu
masuk di Taen Siat berperang Cuma 1.30 jam lamanya, lalu musuh mundur sampai
dimana jalanan muka Pura Satria di mana Raja Badung tinggal menunggu duduk di
atas joli (tandu) yang dipikul orang serta diiring oleh beribu orang lelaki
perempuan dengan senjata tombak dan keris, soldadu tidak berkeputusan membuang
pelornya sehingga rakyat Badung mati bertumpuk-tumpuk karena mapuputan” (Creese
2006:118).
Peristiwa
yang terjadi beberapa jam sebelumnya terulang kembali , dengan perbedaan bahwa
jarak antara pasukan Belanda dan para orang-orang Bali lebih jauh, di aman
kebanyakan dari orang Bali dengan sembunyi dan memulai tembok ke Belanda.hanya
beberapa orang Bali dengan sembunyi dan melalui tembok ke tembok mencoba
mendekat, meskipun akhirnya ditewaskan oleh infanteri Belanda. Di sini mereka
juga tidak ingin menyerah. Mereka yang terluka dibunuh oleh orang-orang Bali
sendiri sedang keris-keris mereka. Sedangkan kebanyakan dari mereka bunuh diri
dengan menikamkan keris ke ke dirinya
Laporan
dari arteri KNIL mencatat, bahwa setelah kelompok yang berada pada jarak 250
meter dari meriam-meriam Belanda sebagian besar telah ditewaskan. Akhirnya
menarik diri. Kemudian, tembakan diarahkan kepada kelompok-kelompok yang
berbaris rapat yang pada jarak 600 meter dari meriam-meriam Belanda. Mereka ada
yang berhenti berjalan, dan ada juga yang secara perlahan-lahan maju ke arah
artileri sebanyak 101 kali, semua musuh dapat ditewaskan di antaranya Raja
Pamecutan.
Seorang
perwira Belanda bernama Van Kol, yang kemudian menjadi anggota parlemen
Belanda, menceritakan bahwa serdadu-serdadu Belanda, veteran-veteran perang
peperangan kolonial, dan yang sudah sering mengalami pertempuran berdarah dan
kejam di beberapa daerah, pada saata kemenangan di Bali tidak ada yang
meneriakkan sorak kemenangan. Banyak di antaranya berwajah pucat, mengucurkan
air mata, dan mereka mengakui bahwa karena keadaanlah yang memaksa, mereka
harus melakukan tugasnya. Meskipun yang tewas adalah musuh Tentara Hindia
Belanda, namun atas nama Parlemen Belanda ia menyampaikan hrmat dan penghargaan
atas sifat kepahlawanan yang mereka perlihatkan di perlihatkan di saat
menghadapi kematian.
Sedangkan
dalam sebuah laporan resmi dikatakan, bahwa pada saat menyerah dan menduduki
Denpasar (Badung), telah meninggal seorang Belanda berpangkat Sersan, dan tiga
prajurit. Sedangkan dari pihak Bali, yang tewas adalah Raja Denpasar dan Raja
Pamecutan bersama keluarga intinya, juga para penggawa, wanita-wanita, dan beberapa
anak, jumlah keseluruhan yang meninggal diperkirakan berjumlah 600 orang. Dalam
peristiwa puputan Peranan KNIL/Kompeni menggunakan Batalion 11,12,13.
2) Ekspedisi
Aceh
Ekspedisi
terbesar yang dilakukan oleh pemerintah Hindia Belanda yaitu penaklukan Aceh, hal
ini berdasarkan M.C. Rcklefs dalam bukunya yang berjudul sejarah Indonesia
Modern yang diterbitkan oleh Gadjah Mada University press tahun 1991 yang
mengatakan.
“ekspedisi
Belanda yang kedua dikirim pada akhir tahun 1873. Ekspedisi ini adalah yang
terbesar di antara ekspedisi-ekspedisi yang pernah mereka himpun di Indonesia:
8500 orang serdadu, 4300 orang pelayan dan kuli, dengan pasukan cadangan
berjumlah 1500 orang serdadu yang segera ditambahkan” ( Ricklefs, 1991:220).
Ketegangan
antara Aceh dengan Belanda mulai timbul pada tahun 1858, antara Aceh dengan
Belanda mulai timbul pada tahun 1858, ketika Belanda mengadakan perjanjian
dengan Sultan Siak yang berisi ketentuan bahwa Siak menyerahkan daerah-daerah
Deli, Serdang, Langkat, dan Asahan kepada Belanda. Aceh menganggap bahwa
daerah-daerah tersebut adalah wilayah Aceh sejak pemerintahan Sultan Iskandar Muda.
Pada
tahun 18871 antara Inggris dan Belanda diadakan perjanjian yang terkenal dengan
nama Traktat Sumatera. Dari Isi traktat itu yang dirasakan mengamcam Aceh, ada
ketentuan bahwa Inggris memberi kebebasan kepada Belanda untuk mengadakan
perluasan di Sumatera, termasuk didaerah Aceh. Aceh merasa terancam, dan
karenanya segera kerajaan ini memperkuat diri. Dengan luar negeri diantaranya
menjalin hubungan dengan Turki, Amerika Serikat dan Italia, pembicaraan itu
dilakukan Di Aceh.
Ternyata
Belanda sudah siap melakukan serangan. Mereka bertindak sepat. Pada tahun 1873
Belanda mengirimkan pasukan yang berjumlah lebih dari 3000 prajurit, di bawah
pimpinan J.H.R. Kohler. Pertempuran berkobar disekitar Masjid Raya dapat
direbut Belanda, tetapi hal ini dapat ditebus dengan tewasnya jiwa Jenderal
Kohler disekitar masjid raya tersebut. Serangan gagal menundukkan Aceh, Belanda
melancarkan Blokade.
Ekspedisi
kedua datang di bawah Jenderal Van Switeen dengan 8000 pasukan. Belanda
berhasil merebut Istana. Rakyat Aceh melawan Belanda dipimpinoleh panglima
Polem. Perlawanan rakyat bergeser ke luar Kota Belanda menemui kesulitan untuk
mendudukan rakyat Aceh disebabkan banyak faktor diantaranya sistem
ketatanegaraan Aceh yang berbeda dengan daerah lain di Indonesia seringkali
menyesatkan operasi-operasi militer Belanda. Perlawanan tidak tergantung kepada
figure pemimpin. Rakyat berjuang dengan perang Sabil. Luasnya medan perang
serta daerah yang berhutan lebat mengulitkan gerak maju pasukan Belanda.
Untuk
mengetahui rahasia perjuangan rakyat Aceh belanda mengirimkan Dr. Snouck
Hurgronje. Ia datang di Aceh perpura-pura menjadi muslim yang taat. Dari
penelitiannya dapat diketahui bahwa sebenarnya Sultan Aceh tidak mempunyai
apa-apa tanpa sepertujuan kepada wilayah di bawahnya. Pengaruh Ulama
diwilayahnya sangat besar. Saran Hurgronje kepada pemerintahan jajahan adalah
bahwa pemerintahan jajahan harus menggunakan untuk taktik memecah belah
kekuatan, kaum ulama harus dihadapi dengan kekuatan Militer, sementara itu
keluarga kaum bangsawan harus didekati, dengan diberikan jabatan di pamong
praja di lingkungan pemerintahan Belanda.
Untuk
mempercepat penaklukan daerah Aceh kembali Belanda melaksanakan
tindakan-tindakan licik. Selain melaksanakan saran Snouck Hurgronje seperti
termuat dalam bukunya De Atjehers, Belanda menyarankan keluarga Sultan dan para
pejuang Isteri Sultan,Isteri anak-anak dan ibu Panglima Polem diculik memaksa
Sultan dan Panglima Polim menyerah. Harus diakui bahwa perlawanan Aceh pada
abad ke-19 merupakan perlawanan paling berat yang dialami Belanda. Lebih dari
30 tahun Belanda terlibat dalam perang yang sangat berat, setelah perlawanan
surut, Belanda memaksakan penandatanganan perjanjian Singkat (Korte Verklaring)
kepada kepala-kepala wilayah Aceh. Perlawanan baru terhenti pada awal abad
ke-20.
3) Ekspedisi
Tanah Batak
Sejak
pertengahan abad ke-19 Belanda melancarkan ekspedisi-ekspedisi perluasan daerah
kekuasaan di Jantung Tanah Batak (tanah batak melalui Madailing dan Angkola). Ekspedisi ini
dimaksudkan untuk membulatkan kekuasaan Belanda atas daerah-daerah di pulau
Sumatera. Pada tahun1867 Si Singamangaraja XI meningggal dan digantikan oleh
Patuan Bosar. Ompu Pulo Batu yang terkenal dengan nama Si Singamangaraja XII.
Pada waktu ia menggantikan kedudukan ayahnya, Belanda sudah mempunyai pos,
Militer di Sibolga. Dari Sibolga Belanda berusaha memperluas daerah
kekuasaannya ke daerah Silindung. Sisingamangaraja XII mencoba mencari jalan
dmai, diharapkan agar Belanda tidak mengganggu kemerdekaan Tano Batak. Tetapi
tawaran damai ditolak Belanda walaupun upaya tersebut melalui perantara pendeta
terkemuka bernama Ludwing von Nommense. Sikap keras Belanda dibalas
Sisingamangaraja XII dengan mengadakan kempanye mengobarkan semangat
perlawanan. Rakyat siap membantu pemimpinnya yang di cintai itu.
Perlawanan
rakyat Batak tetap mampu menahan gempuran Belanda. Kemudian Belanda bersiasat
lain. Dianturnya taktik serangan langsung ke pusat kedudukan Si Singamangaraja
XII di Bakkara. Dilirimkan pasukan kuat dipimpin oleh Letnan Kerchner, Letnan
Schmidt dan Letnan Reest van Limburg. Tugas utamanya adalah menangkap Si
Singamangaraja XII hidup atau mati. Benteng Bakkara dapat di tembus, tetapi Si
Singamangaraja XII telah mengingkir ke Parnginan dan mengadakan serangan balik.
Sampai
tahun 1889 pertempuran besar tejadi di daerah Silindung. Humbang dan Tobe
Holbung (di mana terdapat Balige, Tambunan , Laguboti dan Porseas). Sejak tahun
1900 Si Singamangaraja mengambil sikap bertahan, karena banyak prajuritnya yang
gugur dalam perang. Ia menyingkir ke arah Pakrak-Pairai. Pada tahun 1904
kedudukan Si Singamangaraja XII semakin terjepit dipimpin oleh kapten Hans
Christoffel, bawahan van Daelen berhasil mengurung ruang gerak Si
Singamangaraja XII. Si Singamangaraja XII. Dalam usaha memaksa Si
Singamangaraja XII keluar dari tempat pertahanannya, pasukan Chritoffel
menembak putri SI Singamangaraja XII, bernama Lopian. Pada waktu itulah ia
keluar dari pertahanannya dan berhasil ditembak Belanda. Beliau gugur pada 17
Juni 1907.
4) Ekspedisi
Bone, Sulawesi Selatan
Pada
tahun 1905, menurut catatan pemerintah Hindia Belanda, tentara Belanda
mengadakan ekspedisi lagi ke Bone, Sulawesi Selatan, sebab Raja dari daerah
Bone, yaitu Lapawawooy, oleh Belanda di anggap kurang memperdulikan kekuasaan
Belanda. Karena itu pemerintah Belanda bermaksud untuk menghukumnya. Pada
tanggal 28 Juli 1905, pasukan Belanda mendarat di pantai Sulawesi Selatan.
Sebelum mendarat, kapal-kapal perang Belanda melakukan tembakan-tembakan meriam
dengan gencar ke pantai , yang ternyata tidak dibalas.
Menurut
berbagai sumber, ketika benteng diserang, para prajurit Bone hanya duduk
termenung dan memandang tanpa ekspedisi ke depan. Pada tanggal 18 Oktober 1905,
pasukan Belanda menemukan tempat Raja Lapawawooy susah berjalan, dan harus di
gendong. Rochussen, untuk selanjutnya diasingkan ke Bandung, dengan
demikian.Sulawesi Selatan telah diduduki secara keseluruhan oleh Belanda .(Suyono,
2005:93).
5) Ekspedisi
Sulawesi Tengah
Pada
tahun 1850 Belanda mengirimkan ekspedidi Militer ke Sulawesi Tengah di pimpin
Kapten C Van den Hart, terdiri atas dua buah kapal bernama Argo dan Bromo.
Ekspedisi ini memaksakan pemandangan pengakuan raja Para Iskandar Abd Muhammad.
Kemudian Gubernur di Makasar juga memaksa raja Kaili (Banawa, Palu, dan
Tawaeli) mengakui kekuasaan Belanda atas daerahnya walaupun sudah
menandatangani pengakuian tersebut, pada umumnya raja-rajaj Sulawesi Tengah tak
mau mematuhinya
Oleh
karena itu pada tahun 1888 Gubernur Belanda di Makasar datang membawa pasukan
dengan tiga buah kapal perang pecah di pantai kayumalue. Akan tetapi perlawanan
rakyat Sulawesi Tengah di daerah ini tak mampu mengimbani kekuatan militer
Belanda yang datang dengan pasukan dan persenjataan kuat. Satu persatu
raja-raja di daerah ini terpaksa harus menandatangani pengakuan Kekuasaan
Belanda atas wilayah kkerajaan-kerajaan si Sulawesi Tengah.
6) Ekspedisi
Kalimantan
Seperti
halnya di daerah-daerah laninya, Belanda selalu memaksakan campur tangannya
dalam urusan pebggantian Sultan, setelah mereka mempunyai kedudukan kuat. Di
Banjarmasin pemerintah Sultan Adam (182-1857, sementara itu putranya yang
tertua , Pangeran Abdurrahman diangkat menjadi Sultan Muda. Pada tahun 1851
Belanda mengangkat Pangeran Tamjidilah sehingga menjadi Mangkubumi. Ia seorang
pangeran yang sangat menyenangkan Belanda. Banyak memberikan bantuan bagi
kelancaran perdagangan Belanda. Tamjidilah memberikan harapan baik bagi Belanda
jika pada suatu ia diangkat menjadi Sulta. Pada tahun 1852 Pangeran Abdurrahman
meninggal dunia. Belanda kemudian mengangkat Tamjidilah menjadi Sultan Muda,
terhadap tindakan Belanda ini timbul reaksi keras, baik Sultan Adam sendirir
maupun dari rakyat yang tidak mengakui Tamjidilah yang memihak Belanda. Rakyat
menuntut agar Pangeran Hidayat, cucu Sultan Adam, diangkat menjadi Sultan Muda,
dan Pamannnya Prabu Anom diangkat menjadi Mangkubumi. Ternyata Belanda
bertindalk lai. Belanda mengangkat Tamjidilah sebagai Sultan Muda. Belanda
setuju mangangkat Pangeran Hidayat sebagai Mangkubumi. Ketika pada tahun 1857
Sultan Adam meninggal, maka Belanda melantik Tamjidilah sebagai Anom, pamannya
yang selama ini dikenal anti-Belanda dan Tamjidilah.perlakuan Belanda yang tidak
adil ini menimbulkan perlawanan rakyat. Pangeran Hidayat memihak rakyat.
Pada
tahun 1858 Prabu Anom diasingkan ke Bandung, perlawanan rakyat menentang
Tamjidilah dan Belanda berkobar pada tahun 1859 di pimppin oleh pangeran
Antasari, tokoh-tokoh perlawanan lainnya adalah Kyai Demang Leman, Haji Nasrun,
Haji Bayusin dan Kyai Langlang. Pangeran Hidayat juga aktif memimpin pasukan
melawan Belanda. Akibatnya Belanda memecatnya sebagai Mangkubumi. Pada tahun
1860 jabatan Sultan Kosong. Tamjidilah tidak mampu lagi memerintah dan
menyerahkan kekuasaan urusan pemerintah kepada Belanda, yang kemudian dikirim
ke Batavia. Kerajaan Banjar dihapuskan oleh Belanda dan langsung diperintah
pemerintah Belanda. Perlawanan berlangsung terus. Akan tetapi karena kekuatan
militer Belanda jauh lebih kuat, maka satu demi satu pemimpin perlawanan dapat
di tangkap, diasingkan . Pada tahun 1862 Pangeran Hidayat di tangkap, dibuang
ke Jawa. Pangeran Antasari berjuang terus sampai meninggal, namun, teman-teman
seperjuangannya masih berjuang melawan Belanda, seperti Gusti Matseman, Gusti
Acil, Gusti Arsat dan Antung, Durakhman. Perlawanan kecil-kecilan terus
berlangsung sampai abad 20.
7) Ekspedisi
Palembang
Pada
tahun 1818 suatu ekspedisi Belanda dikirim ke Palembang dan Najaruddin
diasingkan ke Batavia. Karena tindakan ini tidak dapat mengakhiri kemerdekaan
Palembang, maka dikirim lagi suatu ekspedisi pada tahun 1819, tetapi ekspedisi
tersebut dikalahkan oleh Badaruddin. Pada tahun 1821 pihak Belanda menghimpun
suatu pasukan yang besar yang terdiri lebih dari 4.000 orang serdadu, yang
dapat dipukul mundur dalam serangan pertamanya. Serangan yang kedua berhasil,
dan Badaruddin diasingkan ke Ternate. Palembang kini mendekati akhir
kemerdekaannya. Putra sulung Najamuddin (1821-1823) Belanda menempatkan
Palembang di bawah kekuasaan langsung mereka, dan Sultan dipensiunkan.dia dan
pengikut-pengikutnya di istana mereka tidak puas. Pertama-tama mereka mencoba
meracun garnisun Belanda pada tahun 1824, dan serangan mereka berikutnya
terhadap garnisun tersebut dapat dipukul mundur dengan mudah. Sultan melarikan
diri namun menyerah pada tahun 1824 dan diasingkan ke Bandarm kemudian dia
dipindahkan ke Manado pada tahun 1841. Pemberontakan yang terakhir meletus pada
tahun 1849 yang dapat ditumpas pihak Belanda.
8) Ekspedisi
Jambi
Jambi
telah menjalin hubungan dengan VOC sejak abab XVII , tetapi pada tahun 1724 VOC
di sana telah ditinggalkan. Belanda mulai dilibatkan diri lagi pada tahun 1833
ketika Sultan Muhammad Fakhuddin (1833-1841) meminta dan mendapat bantuan
Belanda dalam melawan para bajak laut, tetapi sesudah itu dia menyerang
wilayah-wilayah Palembang. Dia dipukul mundur oleh pasukan Palembang, dan pihak
Belanda memanfaatkan kesempatan ini untuk memaksa Sultan menandatangani suatu
perjanjian yang mengakui kedaulatan Belanda (1834). Suatu garnisun kolonial
didirikan di muara sungai di Muara Kumpe. Pada tahun 1855 Sultan Abdul Rahman
Nasiruddin (1841-1855) digantikan oleh ratu Taha Saifuddin (1855-1858) yang
tidak mau menandatangani perjanjian dan dengan demikian mengakibatkan
kelancarannya suatu serangan oleh Belanda pada tahun 1858. Taha melarikan diri
ke wilayah pedalaman dengan membawa serta tanda kebesaran kerajaan yang paling
penting. Para pengantinya. Yang mendapat dukungan Belanda, mengakui kedaulatan
Belanda, tetapi Taha dan para pendukungnya menguasai sebagian besar wilayah
pedalaman dan membangkitkan pelawanan selama beberapa dawarsa. Dia akhirnya
terbunuh oleh suatu patroli pemerintah di wilayah pedalaman pada tahun 1904.
Pada tahun 1899 Sultan terakhir yang diakui oleh Belanda, Ahmad Zainuddin
(1885-1899), mengundurkan diri. Oleh karena pihak Belanda dan kalangan elite
Jambi tidak dapat mencapai kesempatan mengaenai penggantinya, maka Presiden
Belanda di Palembang diserahi kekuasaan atas Jambi pada tahun 1901. Meletuslah
perlawanan baru yang tidak dapat ditumpas oleh ekspedisi-ekspedisi militer yang
dikirim ke daerah-daerah pedalaman Jambi samapai tahun 1907.
9) Ekspedisi
Nusa Tenggara
Lebih
jauh ke Timur pulau-pulau Nusa Tenggara lainnya (kepulauan Sunda Kecil), suatu
istilah yang mengcangkup Lombok. Baru berhasil diletakkan di bawah kekuasaan Belanda yang efektif pada dasawarsa
pertama abad XX. Pulau-pulau yang penting adalah Sumbawa, Flores, Sumba, Savu,
Roti, Timor, serta gugusan-gugusan Pulau Solor dan Alor.
Dalam
bukunya MC.Ricklefs sejarah Indonesia
Modern. Daerah Flores merupakan sasaran utama kegiatan Belanda pada abad
XIX. Perdagangan budak dan perampasan terhadap kapal-kapal yang terdampar di
kawasan ini mengakibatkan datangnya ekspedisi-ekspedisi ke Flores pada tahun
1838 dan 1946. Orang-orang Portugis masih tetap menguasai Timor-Timor dan
mengajukan tuntutan atas wilayah-wilayah lainnya, tetapi pada tahun 1859 mereka
mengakui tuntutan Belanda atas Flores. Pada tahun 1890 suatu ekspedisi militer
Belanda lebih lanjut dikirim ke sana untuk melindungi suatu misi eksplorasi
timah. Suatu pemberontakan yang meletus pada tahun 1907 menyebabkan bergeraknya
suatu pasukan ekspedisi kolonial yang menyapu bersih seluruh Flores pada tahun
1907-1908 dan berhasil menumpas perlawanan disemua tempat, tetapi tentu saja
tidak menghapuskan perasaan dendam penduduk di daerah itu terhadap kekuasaan
Belanda. Daerah-daerah Nusa Tenggara lainnya juga dapat ditundukkan dibawah
kekuasaan Belanda secara definitif pada tahun 1905-1907, akan tetapi pihal
Portugis tetap menguasai Timor-timur.
b.
KNIL pada perang kemerdekaan 1945-1949
Selama
masa perang kemerdekaan tahun 1945-1949, perjuangan bangsa Indonesia masih
lebih banyak di tandai oleh perjuangan fisik untuk mempertahankan
kemerdekaannya terhadap bahaya dari luar. Bahaya ini terutama datang dari
Jepang, Inggris dan Belanda. Namun, selain itu perjuangan melalui ajang
diplomasi pun memiliki andil yang cukup menegakkan kedaulatan negara.
Negara-negara
sekutu yang menang terhadap Jepang bermaksud kembali ke daerah bekas
jajahannya. Mereka membentuk Southest
Asia Command (Komando Asia Tenggara) di bawah laksamana Lord Luis
Mountbatten. Komando khusus untuk di Indonesia bernama Allied Forces
Netherlands East Indies (AFNEI) di bawah Letjen Sir Philips Christison.
Tugasnya adalah menerima penyerahan dari tangan Jepang, membebaskan tawanan
perang dan Interniran sekutu, menegakkan dan mempertahankan keadaan damai untuk
kemudian diserahkan kepada pemerintah sipil dan menghimpun keterangan tentang
penjahat perang serta menuntutnya ke depan pengadilan sekutu.
Tentara
Hindia Belanda menggunakan taktik penyerangan terhadap Indonesia secara
bertahap. Tahap pertama adalah tehap penghancuran (Istilah Clausewitz:
Niederwerfungs), dengan menyerang, merebut, menduduki dan mendayagunakan segala
keunggulan daya tembak, daya gerak dan keunggulan udaranya.tahap kedua adalah
tahap pasifikasi, tahap pembersihan daerah, di mana pasukan-pasukan disebar di
daerah yang telah dikuasai dan gerakan pembersihan dilakukan dengan tehnik yang
pernah diterapkan tentara Kolonial Hindia Belanda (KNIL), yang dikenal dengan
taktik dan tehnik VPTL (Voorschrift voor
de uitoefening van de politiek-politionele Taak van het Leger “buku
Petunjuk kepolisian bagi tentara”), sebelum perang Dunia II di Hindia Belanda”
(Soetanto 2006:365)
Pasukan
sekutu mendarat di Tanjung Priok dengan kapal Cumberland di bawah laksamana
Muda Patterson. Kedatangan mereka diterima oleh bangsa Indonesia tanpa rasa
curiga dan bermusuhan. Akan tetapi, setelah diketahui Belanda membonceng, sikap
bangsa Indonesia berubah terhadap mereka. NICA merupakan badan pemerintahan
yang akan menegakkan kembali penjajahan di Indonesia. NICA dipersenjatai
kembali KNIL yang telah dilepaskan dari tawanan.
Kedatanga
pasukan-pasukan serikat itu disambut dengan sikap netral oleh pihak Indonesia.
Akan tetapi setelah bahwa pasukan serikat Inggris itu datang membawa
orang-orang NICA (Netherland Indies Civil Administratio) yang dengan
terang-terangan hendak menegakkan kembali kekuasaan Hindia Belanda, sikap
Indonesia berubah menjadi minimal curiga, maksimal bermusuhan, situasi keamanan
dengan cepat merosot menjadi buruk sekali. Sejak NICA mempersenjatai kembali
orang-orang NICA dan KNIL di Jakarta, Bandung, dan kota-kota lain kemudian
memancing kerusuhan dengan cara mengadakan provokasi-provokasi bersenjata.
(Poesponegoro 1993:122).
KNIL
juga telah menyediakan pasukan yang sementara itu sudah berteriak untuk Belanda
di Indonesia. Mereka dari militer yang dibebaskan dari Kamp tawanan perang dan
kondisi fisiknya masih cukup baik, tetapi juga ada orang-orang pribumi dari
suku Ambon, yang sejak dulu memang sudah direkrut KNIL. Batalyon-batalyon KNIL
inilah yang dimanfaatkan Belanda antara November 1945 dan Maret 1946 untuk
serangan pertama, yaitu menduduki pulau We 9 di ujung Utara Pulau Sumatera.
Pulau bangka, Pulau Bali, dan Pulau Lombok. (Heijboer 1998:24).
Adapun
ekspedisi-ekspedisi setelah kemerdekaan 1945-1949
1) Pendaratan
di Pantai Timur Jawa
Ujung timur Pulau jawa yang sepi,
berkedudkan sangat religius, dan berabad-abad berkehidupan, tentang
turun-menurun sebagai petani dan nelayan. Di balik ketenangan itu ia menyimpan
segudang kepentingan ekonomis yang tercantum dalam rencana Operasi “produk”
yang dilaksanakan pada tanggal 30 Juni 1947.
Demi merebut sawah dan perkebunan
gula serta kopi yang sangat berharga di eilayah ini, pimpinan militer Belanda
memiliki Senjata Ampuh, yaitu Divisi A yang berada dalam kantong Surabaya.
Undur AD dalam divisi ini terdiri dari Batalyon-batalyon sukarelawan yang
berpengalaman dari Brigade X. sementara bagian lainnya Brigade Marinir didikan
AS yang agresif.
2) Pertempuran
Di Sumatera
Kolonel P. Scholten, komandan
Brigade Z yang terpusat di Medan, melancarkan serangannya pada tanggal 21 Juli
pagi dengan gerakan peningkaran. Hal ini berawal di kota Pelabuhan Labuhan dan
diarahkan ke Binjai, pertahanan Divisi Gajah II pasukan Republik. Diatas peta
letak Binjai hanya 25 kilometer dari Medan, dan jalannya bagus, tetapi kedua
batalyon KNIL. Mengambil jalan memutar lewat utara. Terhadap Labuhan saja
mereka segera terbentur pada perlawanan kuat bagitu mereka melintasi garis
Demarkasi. Dekat desa terjut sudah terjadi pertempuran dengan KNIL berjam-jam,
yang sedang berlangsung di sela-sela permohonan semak-semak, dan padang
ilalang. Rasanya seperti KNIL 6 dan KNIL 4 tidak dapat menembus, tetapi sekitar
siang hari mereka akhirnya menerobos Sore kendaraan berlapis baja mereka sempat
mencapai jembatan di atas Sei Belawan (Sei-Sungai).
KESIMPULAN
1. Sejak
persekutuan dagang Belanda VOC (Verenigde Oostindische Companie) bangrut
(1602-1799) dan digantikan oleh pemerintah hindia Belanda. Gubernur jebderal
pemerintah Hindia Belanda mengeluarkan suatu kebijakan baru tentang pengaturan
sistem militernya. Kebijakan baru tersebut dikeluarkan pada tahun 1830 yaitu
dengan membentuk satuan militer yang berasal dari putra-putra daerah yang
direkrut dari pel bagai pelosok di tanah air. Nama dari satuan itu yaitu KNIL (Het
Koninklijke Nederlandsche Indisvhe Leger) adapun tugas utama kesatuan tentara
ini adalah menumpas pemberontakan dalam upaya membantu pemerintah Hindia
Belanda memperluas wilayah kekuasaannya di nusantara. Sebelum KNIL berdiri
resmi dengan tugas sebagai tentara Hindia Belanda di Indonesia, peperangan di
Nusantara ditumpas oleh prajurit Belanda sendiri. Adapun dasar dari perekrutan
tentara dari pribumi yaitu untuk mengurangi resiko banyak tentara Belanda yang
tewas dalam pertempuran. Secara resmi KNIL berada di Nusantara dari tahun 1830
sampai dengan 1950. Kesatuan ini dibentuk untuk mengurangi didatangkannya
pasukan Hindia Belanda dari negeri Belanda. KNIL adalah tentara yang dipakai
Belanda dalam menguasai dan mengatur Nusantara. Dalam perkembangannya pasukan
ini bertambah besar karena kurangnya rasa nasionalisme akibat dampak dari
strategi politik pemerintah Hindia Belanda yang menekankan politik “Devide et
impera” pecah belah. Strategi perang yang umunya digunakan dengan memutuskan
hubungan dengan kerajaan sekitar dan memberikan penghargaan terhadap kerajaan
yang membantunya.
2. Daerah
asal pasukan KNIL ditinjau berdasarkan tingkat kesuburan tanah yang sangat
rendah dan tingkat kesetiaan terhadap pemerintah Belanda dan pasukan ini
bertambah besar karena kurangnya rasa Nasionalisme akibat politik pecah belah.
Kesatuan ini hilang setelah Jepang menguasai Indonesia 1942-1945. Perang
tentara KNIL setelah Indonesia merdeka, tentara KNIL kembali bertugas untuk
mengacaukan situasi negara yang dikenal dengan pada massa perang kemerdekaan
1945-1949. Kesatuan ini menciptakan tentara yang bertindak cepat dan lugas
dalam menangani pemberontakan di berbagai daerah di Nusantara. Tentara ini
bersifat tetap dan berasal dari berbagai daerah di Nusantara. Dalam
melaksanakan tugasnya KNIL menggunakan strategi devide et impera yang dimulai
dari dalam pasukan KNIL itu sendiri, selain itu metode yang digunakan untuk
memenangkan peperangan, KNIL menyerang dengan membawa pasukan dua kali lebih
banyak dari lawannya. Sistem organisasi pasukan yang digunakan KNIL sudah terorganisir
dari jabatan sampai pembangian barat pun sudah diatur sebagai organisasi yang
modern”
“Pemuda yang dipanggil adalah mereka yang sehat jiwa
raga, terutama mantan PETA, Heiho, KNIL, Kaigun, Seinendan, dan lain-lain, baik
yang sudah meupun yang belum mendapat latihan militer. Dengan dibentuknya TKR,
maka berakhirlah secara diam-diam BKR yang dibentuk tanggal 20 Agustus 1945,
tanpa pembubaran,”
Menurut
Willard A et.al. 1996:253
“Pemimpin
“Republik Maluku Selatan” adalah orang-orang terpelajar merupakan elite
intelektual. Para pejuangnya bekas tentara kolonial Belanda. Beberapa
pemimpinnya melarikan diri ke negeri Belanda di mana mereka mendirikan
“pemerintahan dalam pembuangan”. Pendukung utama negara bayangan Republik
Maluku Selatan adalah orang-orang Ambon anggota tentara kolonial Belanda yang
tidak dimobilisasi di Ambon tetapi di negeri Belanda” tahun 1950 berakhirlah
tentara KNIL dengan Tentara pemberontakan RSC Republik Maluku Selatan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar