Selasa, 03 September 2013

TENTARA HET KONINKLIJKE NEDERLANDSCHE INDISCHE LEGER (KNIL) DI NUSANTARA 1830-1950 (TESIS)

BAB I
PENDAHULUAN
A.  Latar Belakang masalah
Nusantara memiliki kekayaan alam yang melimpah ruah dengan kesuburan tanahnya pel bagai tumbuhan dapat hidup dan berkembang dari Sabang sampai Marauke. Namun karena kekayaan itulah banyak negara yang berusaha menduduki guna menikmati kekayaan nusantara.
Awal abad ke-6 kekuasaan asing mulai masuk ke tanah air kita. Secara beruturut-turut di tanah air kita masuk bangsa-bangsa Portugis, Spanyol, Inggris, Belanda kemudian Jepang. Kita berhadapan dengan bermacam corak imperialisme. Khususnya imperialisme Portugis, Belanda, Inggris dan Jepang walaupun masa penjajahan Inggris itu masa kekuasaannya singkat saja. Yang dihitung berdasarkan perhitungan waktu masa pendudukan pemerintah kolonial, Belanda merupakan urutan paling lama menduduki bangsa ini.
Kalau ditinjau berdasarkan Geografis, Belanda merupakan negara kecil, yang berpenduduk jauh lebih sedikit dibangdingkan penduduk nusantara tetapi mengapa bangsa Belanda mampu menancapkan kukunya dalam sehingga mampu bertahan selama 350 tahun, apa yang terjadi pada negeri ini? Strategi apa yang dijalankan Belanda sehingga mampu menguasai bangsa ini ? Apakah Belanda didukung oleh tentara yang kuat ataukah sistem yang mengatur akan semua ini?
Sejak persekutuan dagang Belanda VOC (Verenigde Oostindische Companie) bangkrut dan digantikan oleh pemerintah Hindia Belanda. Gubernur Jenderal Pemerintah Hindia Belanda mengeluarkan suatu kebijakan baru tentang pengaturan sistem militernya. Kebijakan baru tersebut sikeluarkan pada tahun 1830 yaitu dengan membentuk satuan militer yang berasal dari putra-putra daerah yang di rekrut dari pel bagai pelosok di tanah air. Nama dari satuan itu yaitu KNIL (het Koninklijke Nederlandsche Indische Leger) adapun tugas utama kesatuan tentara ini adalah merampas pemberontakan dalam upaya membantu pemerintah Hindia Belanda, memperluas wilayah kekuasaannya di nusantara.
“Untuk menambah kekuatan pasukannya, Belanda akan mengambil putra-putra daerah.wilayah yang sering direkrut penduduknya adalah, Ambon, Kepulauan Aru, dan Madura. Ketika menumpas pemberontakan di Bali, Belanda mengambil barisan orang Ambon, Jawa dan Belanda, (Suyono, 2003: 321).
Hal ini menjelaskan bahwa Daerah perekrutan tentara KNIL yaitu dari Ambon, Kepulauan Aru, dan Madura, Jawa dan Manado. Tidak kemungkinan daerah-daerah lain sebagai pemasok tentara KNIL tetapi sangat disayangkan data-data belum mengarah ke arah sana. Mengapa daerah seperti Ambon, Manado, Kepulauan Aru, Jawa dan Madura sebagai pemasok tentara ? tawaran gaji yang tinggi ataukah karena mata pencaharian penduduk yang sangat minim. 
B.  Pembatasan Masalah
Luasnya materi situasi dengan judul penelitian maka perlu dibatasi “Tentara Het Koninklijke Nederlansche Leger (KNIL) di Indonesia 1830-1950
C.  Perumusan Masalah
1.      Apakah latar belakang pembentukan Tentara KNIL di Indonesia
2.      Apakah peran Tentara KNIL setelah proklamasi kemerdekaan Indonesia 17 Agustus 1945
D.  Tujuan Penelitian
1.      Untuk mendeskripsikan latar belakang pembentukan Tentara KNIL di Indonesia
2.      Untuk mendeskripsikan peran Tentara KNIL setelah proklamasi kemerdekaan Indonesia 17 Agustus 1945
E.  Metodelogi Penelitian
Yang dimaksud dengan metode penelitian adalah (Wagiono, 1994:30) “urutan langkah-langkah untuk melaksanakan penelitian berikut penjelasan tentang alat-alat yang digunakan untuk melaksanakan langkah-langkah tersebut”.
Langkah-langkah yang dilaksanakan harus logis dan sistematis, sehingga siapapun yang melaksanakan penelitian dengan mengulang metode yang sama akan memperoleh hasil yang sama atau dengan tingkat kesalahan yang dapat diperhitungkan.
Metode penelitian yang digunakan dalam peneletian ini adalah metode penelitian yang bersifat deskriptif, yang menurut Melly G. Tan (Koentjaraningrat, 1995:42) adalah “Bertujuan untuk menggambarkan secara sifat-sifat suatu individu, keadaan, gejala, kelompok tertentu atau frekuensi adanmya hubungan tertentu antara suatu gejala dengan lain dalam masyarakat”.
1.    Metode Penelitian Data
Untuk memperoleh data-data yang diperlukan dalam penelitian ini maka, digunakan beberapa metode pengumpulan data sebagai berikut :
a.       Mencari dokumentasi atau resmi tertentu pada obyek penelitian , dengan tujuan untuk memperoleh data yang akurat dalam pelaksanaan penelitian.
b.      Membaca literatur, ertikel, atau buku-buku catatan sejarah yang berkaitan dengan obyek penelitian yang sedang diamati keberadaannya.
2.    Jenis Data
Data-data yang digunakan dalam penelitian ini adalah merupakan data sekunder yang dikumpulkan dari studi kepustakaan terhadap sejumlah pendapat para ahli sejarah  dalam dan luar negeri. Artikel maupun literatur-literatur yang menurut keterangan berkaitan dengan obyek penelitian yang sedang diamati.
F.   Tehnik Analisis Data
Tehnik analisis yang digunakan dalam penelitian ini adalah tehnik analisis deskriptif yang bermaksud untuk menguraikan dengan fenomena sosial tertentu dengan menghimpun fakta-fakta, tetapi tidak melakukan pengujian hipotesis. Dengan demikian, maka tehnik analisis deskriptif dalam penelitian ini diarahkan pada penggambaran profil antara konsep, yang dalam hal ini adalah kondisi peranan tentara KNIL di Nusantara.


BAB II
HASIL PENELITIAN
A.      Deskripsi Informasi Penelitian
1.      Kekuasaan Hindia Belanda di Indonesia 1800
Sampai sekitar tahun 1800 sebagian besar wilayah yang sekarang ini meliputi Republik Indonesia telah jatuh di bawah kekuasaan Belanda. Gubernur Jenderal Van den Bosch (1830-1833) menanamkan keuntungan sebagai prinsip utama pemerintah, dan merasa yakin bahwa oleh karenanya Belanda harus membatasi perhatian mereka hanya terhadap Jawa, Sumatera, seterusnya keterlibatan Belanda di seluruh wilayah luar  Jawa semakin meningkat. Mengenai hal ini ada banyak alasannya. Sering kali para pejabat daerah yang berkebangsaan Belanda melakukan campur tangan karena adanya ambisi untuk kemuliaan atau kenaikan pangkat. Walaupun dengan demikian mereka melawan kebijakan resmi Batavia yang sebenarnya adalah menghindari perluasan kekuasaan Belanda. Ada dua pertimbangan umum yang terdapar di mana-mana. Pertama, untuk menjaga keamanan daerah-daerah yang sudah berhasil dikuasai maka Belanda merasa terpaksa menaklukan daerah-daerah lain yang munkin akan mendukung atau membangkitkan gerakan perlawanan. Kedua, ketika perjuangan bangsa Eropa untuk memperoleh daerah-daerah jajahan mencapai puncaknya pada akhir abad XIX, pihak Belanda merasa wajib untuk menetapkan hak mereka terhadap daerah-daerah di luar Jawa dalam rangkan mencegah campur tangan kekuatan Barat lainnya di sana, juga di tempat-tempat yang pada mulanya tidak diminati oleh pihak Belanda.
Pada perempat terakhir abad XIX perimbangan kekuatan militer berubah secara menentukan terhadap negara-negara Indonesia yang masih merdeka, dan inilah yang memungkinkan berlangsungnya tahap terakhir perluasan kekuasaan Belanda.  Pada zaman kapal layar yang terbuat dari bidang teknologi militer antara bangsa Indonesia dan Eropa tidaklah menggunakan senapan yang diisi peluru di bagian belakang, Mauser, kapal perang bertenaga uap, dan hasil-hasil militer lain dari suatu perekonomian melawan dengan tekad dan senjata-senjata api yang kuno. Beberapa penguasa yang masih merdeka berusaha memperbaiki perimbangan itu dengan jalan membeli persenjataan modern, tetapi mereka jarang sekali dapat menyamai kekuatan militer angkatan perang penjajah untuk waktu yang lama.
a.      Pembubaran VOC 31 Desember 1799
Pada tahun 1598 sebanyak 22 kapal milik perorangan dan perserikatan dagang berlayar dari Belanda menuju Nusantara. Bahkan, pada tahun 1602, sebelum VOC berdiri, sebanyak 65 kapal pedagang-pedagang Belanda mengangkut hasil-hasil bumi, terutama rempah-rempah dari Nusantara. Karena banyaknya perserikatan dagang Belanda yang ikut mengirim kapal ke Indonesia, persaingan di antara mereka tidak dapat di hindarkan. Akibatnya, harga rempah-rempah di Indonesia naik, sedangkan di Eropa turun. Sehingga banyak perserikatan dagang menderita kerugian. Untuk menghindari persaingan yang tidak sehat itu. Atas anjuran seorang pembesar Belanda, Johan van Olddebarnevelt, beberapa perserikatan dagang tersebut dilebur menjadi satu perserikatan dagang yang besar dengan nama Verenogde Oost Indische Compagnie (VOC) pada tahun 1602 dalam menjalankan kegiatan politik dan perdagangannya VOC menggunakan hak-hak istimewa antara lain :
a.       Hak mengadakan perjanjian dengan negara lain tanpa melalui persetujuan Raja/Ratu Belanda.
b.      Hak membuat dan mengedarkan uang sendiri.
c.       Hak menyususn dan memiliki angkatan laut dan angkatan darat sendiri yang dapat bertindak tanpa harus tunduk kepada kerajaan Belanda.
d.      Hak menyatakan perang dengan negara atau kerajaan lain tanpa harus meminta persetujuan Ratu/Raja Belanda.
Perdagangan yang dijalankan oleh VOC tidak dalam pengertian transaksi biasa, tetapi dengan cara-cara monopoli dan pemaksaan. Politik perdagangan seperti itu dapat dilakukan karena didukung oleh kekuatan bersenjata. Sebagai badan yang memiliki hak sebagai sebuah negara, VOC melakukan politik intervensi atas kerajaan-kerajaan di Nusantara. Cara-cara berdagang seperti itulah yang menjadi faktor penyebab timbulnya perlawanan dari sejumlah kerajaan di Indonesia.
Bagaimanapun hebatnya, ternyata VOC pada akhirnya harus mengalami kehancuran dan kemudian dibubarkan pada tahun 1799, kehancuran VOC disebabkan oleh perbuatan-perbuatan korupsi yang dilakukan oleh para pedagang, para pelaut, dan prajurit-prajurt yang beroperasi di Indonesia. Para pelaut membawa rempah-rempah milik pribadi dengan menggunakan kapal VOC untuk dijual di Eropa bahkan sebelum tiba di tempat tujuan di jual di tengah laut.
 Hak-hak  istimewa yang dimiliki VOC memberi peluang kepada organisasi ini tidak hanya menguasai perdagangan (terutama) rempah-rempah dengan sistem monopoli yang disertai dengan kekerasan dan pemaksaan, tetapi juga sebagai lembaga politik karena selalu mencampuri bahkan ingin menghancurkan kekuasaan dari kerajaan-kerajaan local di Nusantara. Tomnulnya persaingan di antara kerajaan-kerajaan local Nusantara memberi kesempatan kepada VOC melakukan politik “Adu Domba” dan mengintervensi urusan politik kerajaan local yang mendapat dukungan VOC itu .
Berdirinya loji-loji dan kentor-kantor dagang VOC, selain untuk memperlancar kegiatan pencaharian keuntungan ekonomi yang besar, juga sudah merupakan tanda-tanda awal dimulainya penjajahan dan pengaruh politik atas kekuasaan kerajaan-kerajaan setempat. Melalui loji-loji dan kantor-kantor dagang itu VOC merentangkan bukan hanya wilayah perdagangan, melainkan juga kekuasaan local di seluruh Nusantara. Sebelum mengalami kehancuran pada akhir abad ke-18, VOC berhasil mebentuk satu wilayah kekuasaan politik yang oleh pemerintah Belanda dipandang perlu dilestarikan. Sekalipun VOC kemudian bubar, ini tidak berarti bahwa “cengkraman” Belanda di Nusantara berakhir. Bahkan, Belanda secara resmi menjadikan kepulauan Nusantara sebagai daerah jajahan dengan membentuk sebuah lembaga pemerintahan di wilayah ini dengan nama “Pemerintah Hindia-Belanda” di mana wilayah-wilayah yang pernag di kuasi VOC termasuk berbagai infrastruktur dilanjutkan dan dimasukkan ke dalam kekuasaan pemerintahan yang baru itu.
b.   Awal Pemerintahan Hindia Belanda di Indonesia 1800-1811
Indonesia yang oleh Multatuli sebagai “Untaian Jamrud di Khatulistiwa” dan merupakan sebuah negara kepulauan yang subur dengan latar belakang kebudayaan yang kaya. Kini sedang terlihat di dalam suatu upaya besar untuk memodernisasi ekonomi. Pada awal abad ke-16. Para pencari rempah-rempah bangsa Belanda secara bertahap menanamkan kekuasaannya atas wilayah ini dan kemudian menjadikannya jajahan mereka, terkenal dengan nama Hindia Belanda.
c.    Kekuasaan Inggris 1811-1816
Masa penjajahan Inggris berlangsung antara tahun 1811-1816. Sebagai puncak pemimpin penjajahan Inggris di Indonesia ialah Raffles. Ia berpangkat Gubernur Jenderal di bawah komando Gubernur Jenderal Lord Minto di India. Pada zaman kekuasaan Inggris, diberlakukan prinsip-prinsip liberal. Secara idealnya, Inggris menghendaki penduduk koloni hidup makmur karena hal itu akan menguntungkan negara Induk yaitu Inggris, di antara tindakannya yang terkenal adalah dilaksanakannya Landrente. Landrente dilaksanakan berdasar pokok pemikiran bahwa semua tanah dikenakan kewajiban bayar sewa pemakaian tanah. Tanah itu boleh dibayar dengan uang atau natura. Kehidupan rakyat petani. Sistem perpajakan ini gagal mencapai sasaran. Sebabnya adalah sistem dilaksanakan Inggris, kecurangan-kecurangan pegawai pelaksana, belum adanya kadaster serta penentuan luas tanah yang tidak akurat.
Beberapa daerah menolak kekuasaan Inggris di antaranya Palembang di bawah Sultan Baharuddin. Inggris dapat pula memaksakan kekuasaanya dengan kekerasan pada tahun 1812. Banjarmasin ditundukan pula dengan kekuatan militer pada tahun 1815. Terhadap Surakarta dan Yogyakarta yang dianggap bersekongkol menentang Inggris, Raffles bertindak keras.
Untuk menangi berbagai persoalan di tanah jajahan, oleh pemerintah di negeri Belanda dikirim sebuah komisi yang terdiri atas tiga orang, yaitu Cornelis Th. Elout (sebagai ketua), A.A. Buyekes dan Van der Capellen (sebagai anggota), komisi ini dihadapkan kepada dua alternatif : melaksanakan sistem lama (kolot) mencontoh kompeni atau melanjutkan sistem yang dilakukan Inggris (leberal) mencontoh Raffles. Pada tahun 1819 komisi ini dibubarkan, dan Van de Capellen di angkat menjadi Gubernur Jenderal (1819-1926). Sesungguhnya Elout menegaskan pendiriannya, bahwa tanah jajahan jangan melupaka kesejahteraan penduduk. Ternyata Van der Capellen tidak mau melaksanakan sistem atau cara-cara leberal seperti yang dikehendaki Elout. Penguasaan tanah-tanah oleh partikelir dolarangnya. Ia juga mengeluarkan larangan persewaan tanah kepada orang Eropa di daerah Yogyakarta dan Surakarta. Karena peraturan itu datang setelah para penyewa membayarkan uang sewanya, maka banyak para pemilik tanah (bangunan) terpaksa harus mengembalikan uang sewa yang terlanjur telah diterimanya. Mereka merasa dirugikan. Mereka mememndam terhadap pemeriontah jajahan.
Semakin lama semakin jelas arah politik kolonial Belanda setelah mereka menerima tanah jajahan dari Inggris. Mereka semakin cenderung ke arah monopolistik kembali. Du Bus de Gisiegnies yang mengusahakan perbaikan nasib rakyat yang sudah sangat miskin itu dengan jalan membuka usaha baru, membuka danmemperluas tanah-tanah usaha baru, mengembangkan sistem kerja upah kepada rakyat. Untuk itu diperlukan modal. Hal ini pun tak dapat dilaksanakan karena petani di Jawa belum terbiasa dengan sistem kerja upah demikian, lagi pula pada waktu itu belum ada undang-undang Agraria. (Hasan. 1991:448).
Untuk mengambil alih kembalinya koloninya, Belanda mengirimkan tiga orang utusan yang disebut Commissarisen General. Ditunjuk sebagai Gubernur Jenderal yang baru adalah Van Der Capellen. Dua anggotanya adalaj Elout dan Buyskens.
Banyak kesukaran yang ditemui pemerintah Belanda pada awal kedatangan mereka ke Nusantara. Karena pemerintahan Inggris yang jauh lebih manusiawi menorehkan kesan baik di hati orang-orang di Nusantara. Kesukaran tersebut terasa sekali di Sumatera. Meskipun Belanda berhasil mengambil Palembang tahun 1817, mereka harus menunggu hingga tahun 1818 untuk daerah-daerah di Sumatera bagian Barat, penyebabnya Raffles lalu melarang Belanda mengambil wilayah itu karena masih dianggap sebagai kekuasaan Inggris.
Raffles baru mau menyerahkan setelah diperintah oleh atasannya, yaitu Gubernur Jenderal India. Kepada atasan Raffles ini, pemerintah Hindia Belanda menyampaikan keluhan atas sikap Raffles, sebelum akhirnya turun perintah tersebut. Karena ia melakukannya dengan terpaksa, ia tetap mencari seribu satu jalan dalam menghalangi Belanda, di antaranya dengan menancapkan bendera Inggris di Teluk Semangka, Sumatera Selatan. Juga ditematkannya sepasukan Inggris berjumlah ratusan orang dipimpin seorang perwira untuk bergerak dari Bengkulu ke Palembang, demikian pesannya, harus dinaikan bendera Ingggris  di atas puncak tiang bendera keraton Sultan Palembang.
Tak Pelak lagi tindakan tersebut membuat Belanda tersinggung. Karena sudah dipandang keterlaluan, komisaris kerajaan Belanda yang ada di Palembang, Mutinghe, di perintahkan untuk menangkap para serdadu Inggris. Bendera Inggris lalu diturunkan. Para serdadu ditangkap, lalu dikirim kembali ke Batavia melalui Bengkulu.
2.      Kekuasaan Hindia Belanda 1816
a.      Upaya Hindia Belanda dalam pertahanan dan keamanan
Sejak persekutuan dagang Belanda VOC (Verenigde Oostindische Companie) bangkrut dan digantikan oleh pemerintah Hindia Belanda. Gubernur Jenderal pemerintah Hindia Belanda mengeluarkan suatu kebijakan baru tentang pengaturan sistem militernya. Kebijakan baru tersebut dikeluarkan pada tahun 1830 yaitu dengan membentuk satuan militer yang berasal dari putra-putra daerah yang direkrut dari pel bagai pelosok ditanah air, nama dari satuan itu yaitu KNIL (het Koninklijke Nederlandsche Indische Leger) adapun tujuan utama dari pembentukan kesatuan tentara ini adalah menumpas pemberontakan dalam upaya membantu pemerintah Hindia Belanda memperluas wilayah kekuasaannya di Nusantara.
Menurut Capt. Suyono dalam bukunya yang berjudul Peperangan Kerajaan Di Nusantara yang diterbitkan oleh Grasindo tahun 2003 mengatakan bahwa :
“Untuk menambah kekuatan pasukannya, Belanda akan mengambil putra-putra daerah. Wilayah yang sering direkrut penduduknya adalah Ambon, Kepulauan Aru, dan Madura. Ketika menumpas pemberontakan di Bali, Belanda mengambil barisan orang Ambon, Jawa dan Belanda”(Suyono, 2003:)
Rekrutmen tentara dari kalangan pribumi mulai dilakukan. Hal ini juga dimaksudkan untuk mengurangi risiko banyaknya tentara Belanda yang tewas dalam pertempuran. Pada masa itu, angka kematian serdadu cukup tinggi, karena selain mati diterjang peluru atau luka dalam peperangan, mereka juga diancam berbagai pepenyakit, seperti kolera.
Di samping itu, mendatangkan prajurit dari Belanda akan menanamkan biaya mahal.prajurit pribumi jauh lebih murah. Kelebihan lain adalah orang-orang pribumi ini relatif lebih tahan terhadap penyakit tropis. Pada abad ke-19, wilayah kekuasaanya pemerintah kolonial Belanda di Nusantara masih terhitung kecil. Mereka hanya berada dibeberapa pulau saja, masih belum menyebar luas. Sementara itu, negara-negara Eropa lain sudah mulai berdatangan mendekati Nusantara Inggris , musalnya, mengambil Singapura. Di khawatirkan, negara Eropa lain akan mencaplok wilayah sekitar sebagiamana yang dilakukan Inggris.
Keberadaan KNIL juga akan membantu kenaikan wibawa pemerintah Belanda, semenjak mereka mengambil nusantara dari VOC. Pemerintah Hindia Belanda sudah mulai campur tangan dalam pemerintahan lokal, terutama bila ada perebutan kekuasaan regional. Karena pada umumnya, Belanda dapat mengambil untung dari perselisihan itu. Strategi devide et Impera sangat tepat penggunaannya di daerah Aceh. Khasanah lama masyarakat Aceh menampilkan adat-adat dan agama sebagai dua unsur yang dominan dan mengendalikan gerak hidup rakyat yang berdiam di ujung utara pulau Sumateraitu. Demikianlah, di dalam lapisan atas masyarakat tersebut di satu pihak, Sultan dan Ulebalang merupakan dua pilar utama yang mendukung kehidupan adat. Lebih dari itu, Sultan dan para Ulebalang bahkan menjadi simbol keberadaan dan peranan adat di dalam masyarakat Aceh. Di lain pihak, dalam lapisan yang sama, ulama masyarakat Aceh. Di lain pihak, dalam lapisan yang sama, Ulama muncul msebagai pilar utama tang mendukung serta memperjuangkan keberadaan dan peraan agama.
Akan tetapi pemerintah kolonial Belanda selama hampir empat puluh tahun sebelum pecahnya Perang Dunia II telah merusak suasana harmonis antara ketiga kekuatan utama sosial politik Aceh itu, dan meninggalkan dampak masih terasa hingga berpuluh tahun kemudian. Ada dud tindakan Belanda secara bersama dalam usahanya untuk menguasai Aceh. Pertama ia menghapuskan kesultanan, sehingga tinggalah para Ulebalang dan para ulama sebagai pilar. Pilar kekuasaan tradisional rakyat Aceh. Kedua, Belanda mempertentangkan antara para Ulebalang dengan Sultan, dan hal ini dilakukannya dengan jalan yang menarik para Ulebalang ke pihaknya sendiri. Pertentangan ini memberikan keuntungan lain kepada Belanda. Dalan hal ini, kaum ulama memandang para Ulebalang sebagai telah mengkhianati Sultan.
Demikianlah, setelah kesultanan Aceh dihapuskan secara payah Belanda menciptakan suatu sistem keseimbangan dalam kepolitikan Aceh masa itu. Di satu pihak, Belanda tetap mempertahankan kehadiran kedua pilar, kedua pilar kekuatan politik tradisional Aceh, dan sama sekali tidak memberi kesempatan bagi munculnya kembali pilar yang pertama, yakni Sultan. Di lain pihak, ia menjadikan dirinya sebagai teraji yang menyeimbangkan kedua kekuatan tradisional yang masih tersisa itu. Untuk dapat memelihara keseimbangan tersebut, dengan liciknya Belanda selalu mempertentangkan kaum bangsawan dengan kaum Ulama. Hal ini dicapainya dengan menanamkan perasaan saling curiga antara keduanya. Sehingga tumbuhlah suasana konflik yang tak ternodai di dalam sejarah tersebut. Dengan berbagai cara Belanda senantiasa berusaha mencegah dan mematahkan setiap upaya rekonsiliasi yang dilakukan oleh kedua kekuatan pribumi itu.
Dalam bukunya Sjamsudin Nazaruddin, Revolusi si Serambi Mekah. Perjuangan kemerdekaan dan pertarungan politik di Aceh 1945-1949. Secara politis, ketiga pilar itu, Sultan, Ulebelang, dan Ulama saling berkaitan atau saling mempengaruhi. Di dalam mejalankan kekuasaannya Sultan memerlukan kedua pilar lainnya sebagai pemghubung antara dirinya yang bermukim di puncak struktur dengan rakyat biasa yang berada di struktur bawah. Oleh sebab itu, Sultan terus bertindak sedemikian rupa, sehingga ia mampu mengharmoniskan hubungan serta pengaruh para Ulebalang dan Ulama dalam masyarakat. Sekaligus untuk mengendalikan pengaruh tersebut terhadap dirinya sendiri.
Strategi lainnya yang dilakukan bangsa Belanda dalam melemahkan kekuatan raja-raja daerah yaitu dengan candu. Banyak yang tidak  mengetahui bahwa candu telah lama dilegalisasi di Nusantara oleh pemerintah Hindia Belanda. Bahwa, candu adalah penyebab peperangan antara kerajaan Lombok dengan Hindia Belanda. Karena kerajaan Lombok pada waktu itu juga memperdagangkan candu di Nusantara. Hasil penjualan candu, jugaa dipakai oleh pemerintah Hindia Belanda untuk pengeluaran-pengeluaran tidak resmi, yaitu untuk menyogok para raja dan penguasa pribumi, dan juga sebagian untuk ongkos operasi peperangan yang tidak dimasukan dalam neraca pendapatan dan pengeluaran Hindia Belanda.
Di pulau Jawa, berdasarkan ketentuan hukum yang dikeluarkan oleh pemerintah Hindia Belanda, terdapat tiga golongan penduduk di Nusantara, yaitu golongan Orang Barat, Inlander atau orang Pribumi, dan Vreende Oosterlingen. Sedangkan yang dimaksud dengan Vreende Oosterlingen adalah orang-orang Arab, Cina , Hindia, dan golongan lainnya yang tidak termasuk orang Pribumi. Golongan penduduk itu sangat menentukan, apalagi berkaitan dengan masalah pengadilan. Kepastian etnik suku sangat menentukan jenis pakaian mana yang boleh dipakai oleh penduduk Hindia Belanda waktu itu di muka umum. Di Jawa, berdasarkan Staatsblad 1872, Nomor 111 misalnya, adalah tindakan hukum jika berpakaian cara lain selain dari yang biasanya dilakukan oleh etnik Jawa. Jadi, orang Jawa tidak boleh berpakaian seperti orang Eropa, atau orang Cina tidak diperbolehkan memotong buntut kuncinya.
Scandu tidak diekspor ke Eropa, karena itu dimuat dalam neraca perdagangan . sehingga seolah-olah tampak bahwa keuntungan pemerintahan Hindia Belanda hanya didapat langsung dari hasil penjualan produk-produk Nusantara seperti kopi, gula, timah, dan lainnya ke Negeri Belanda. Dalam neraca, hasilnya akan kelihatan seolah-olah Pemerintah Hindia Belanda telah mengalami kekuarangan dalam neraca Pembayaran. Seperti dalam kurun waktu tahun 1848-1866, pengeluaran di Nusantara, Pemerintah Hindia Belanda telah melebihi 315 juta gulden dari penerimaan. Kekurangan ini akan menjadi 156 juta gulden lebih tinggi, tanpa keuntungan Hindia Belanda dari penjualan candu adalah 155,9 juta gulden. Hal ini berarti hasil candu merupakan 8,2% dari penerimaan pemerintahan Kolonial, atau 12,5% dari hasil jasa para pegawainya. Penerimaan dari Pemerintahan Hindia Belanda.
Keuntungan dari Pemerintahan kolonial, senagian besar berada di Negeri Belanda. Sedangkan pengeluaran biaya operasinya, untuk memperolehnya ada di puncak pemerintah Hindia Belanda. Oleh karena itu seolah-olah kelihatan bahwa Pemerintah Hindia Belanda secara perlahan. Keuntungan dari penjualan candu sangat meringankan cah flow dari pemerintahan di Batavia. Misalnya antara tahun 1860-1915, keuntungan dari candu adalah 15 % dari seluruh penerimaan Hindia Belanda. Bagaimana hasil yang demikian besarnya dapat hilang begitu saja dalam sejarah Pemerintahan Hindia Belanda, telah menjadi suatu teka-teki sampai sekarang.
Pada tahun 1894, di Pulau Madura telah dilakukan upaya percobaan dengan cara opium regie atau pajak candu. Dengan cara ini, candu-candu dalam bentuk kasar oleh Pemerintah telah dibuat menjadi “candu hisap”, dan dijual oleh para pegawai yang ditentukan. Para pegawai itu, tingkatannya sama dengan pegawai pos. dengan cara ini, maka para perantara penjual candu dari golongan Cina tidak dipakai lagi sejak tahun 1894, opium regie dikembangkan oleh secara berangsur-angsur untuk seluruh pulau Jawa dan kepulauan sekitarnya.
Candu yang digunakan ternyata sangat efektif dalam penerapan strategi melemahkan lawan, banyak menggunakan menimbulkan rasa ketergantungan bagi para penggunanya. Efek lain dari penangkapan dan pembodohan rakyat menggunakan cara ini.
b.      Strategi Operasional KNIL
Dalam pasukan KNIL yang paling mendapatkan keistimewaan adalah tentara Ambon. Fasilitas mereka lebih baik daripada yang lainnya. Mereka akan mendapat tambahan gaji lebih besar daripada serdadu lain bila mendapat kendali atau anda jasa lainnya. Bila mendapat medali kuningan yang disebut Voor Moed en trouw (untuk keberanian dan kesetiaan), seorang prajurit Ambon akan mendapat f10, 19 gulden. Sementara itu, prajurit Jawa san Sunda harus cukup puas dengan f6, 39 saja, diskriminasi itu berlaku untuk semua jenis pendapatan, baik gaji, uang saku, makanan, uang pensiun, uang perjalanan, serta tingkat kelas bila bepergian, termasuk juga bantuan kesehatan. Orang Ambon, dan Manado akan mendapat jumlah yang lebih tinggi dibansingkan yang lain.
Namun, terhadap prajurit Eropa, apa yang diapat oleh orang Ambon dan Manado itu terhitung lebih rendah Prajurit Jawa, pada mulanya tidak boleh memakai sepatu. Mereka sengaja direndahkan karena kesetiaan prajurit Jawa itu sering diragukan. Disebutkan pula bahwa keunggulan berperang prajurit Jawa dibandingkan prajurit Ambon dan Manado sebagai serdadu KNIL sering dipertanyakan.
Barulah pada tahun 1905 mereka mulai bersepatu, sama seperti prajurit suku lain yang sudah bersepatu terlabih dahulu. Izin menggunakan sepatu pada prajurit Jawa keluar setelah ada protes dari perwira-perwira KNIL yang membela mereka. Dalam menjajah militer Bayoney yang terbit tahun 1913, terdapat tulisan “Bila dikatakan kepada seorang prajurit Ambon tiap hari bahwa dia jauh lebih rendah dari pada Kromo, si prajurit Jawa, maka akhirnya ia akan merasa demikian”.
Salah seorang yang membela prajurit Jawa adalah J Van der Weijden, menantu Jenderal van Heutsz. Dalam majalah ketentaraan KNIL tahun 1915/1916, ia menulis “Prajurit Jawa tidak rendah kualitasnya, tetapi direndahkan oleh kita sendiri , orang-orang Belanda.
Apakah kita tidak belajar dari sejarah perang Jawa, di mana orang-orang Jawa dapat berperang dengan gagah berani serta nekad, meskipun melawan kita, orang Belanda, yang jumlahnya lebih banyak, karena ia tahu berperang untuk kepentingan dan tujuan mulia.s
Kita juga tidak boleh melupakan bahwa orang Jawa setelah orang Aceh adalah lawan kita yang paling tangguh dan berani” (Suyono. 2003:328).
Di dalam buku KMA atau Koniklijke Militaire Academie di Breda, terdapat tulisan mengenai prajurit di bumi nusantara. Sebagai berikut : “Mempertimbangkan nilai  keprajuritan para prajurit pribumi di Nusantara, kami berpendapat bahwa pengikatan cinta terhadap tanah air dan nasionalisme tidak terdapat pada mereka. Mereka hanyalah merupakan serdadu-serdadu yang disewa saja dan menganggap menjadi prajurit adalah sebagai suatu pekerjaan yang harus dibayar”.
Akhirnya, sesuai keputusan Pemerintah Hindia Belanda, 1 Maret 1921, segala doskriminasi terhadap prajurit itu dihapuskan. Mereka diperlakukan sama sarana dan prasarana KNIL.
1)   Seragam KNIL
Berkali-kali KNIL berganti seragam. Hingga tahun 1894, seragam KNIL dinamakan syako dengan topi helm dari gabus. Baru pada tahun 1910, topi sesungguhnya dibuat bagi mereka. Terbuat dari bambu yang enteng. Pada tahun 1915, KNIL mendapat seragam yang tebal dan susah dicuci. Perubahan radikal terjadi ketika KNIL berada di Aceh, dari bahan yang berat mereka mendapat seragam baru dari bahan Linen dengan celana yang tipis. Sesudah tahun 1936, seragam KNIL adalah kain hijau yang dinamakan tenunan Garut. Topi tetap topi bambu.
2)   Bintang Jasa
Dekorasi atau bintang jasa diberikan kepada serdadu KNIL yang dianggap berjasa. Bintang jasa ini dinamakan Militaire Wllemsorde. Terdapat beberapa kelas bintang jasa.
Militaire Wllemsorde kelas IV bintang jasa untuk keberanian tempur di Aceh. Terbuat dari tembaga. Pada bintang jasa itu, terdapat tulisan Voor Moed en Trouw, karena dianggap prajurit pribumi tidak mempunyai bakat kepemimpinan. Bintang jasa diberikan di medan pertempuran, dihadapan para prajurit lainnya. Komandan tertinggi bertugas menganugrahkannya dalam upacara itu. Penghargaan disampaikan dalam dua bahasa, Belanda dan Melayu sesungguhnya sang  komandan akan berpidato.
Bagi tanda jasa yang tertinggi, akan disusul dengan defile pasukan KNIL yang hadir, sedangkan bagi prajurit Belanda, bintang jasanya adalah Voor Moed, Beleid entrouw, Beleid artinya memimpin. Arti lengkapnya adalah keberanian, pemimpin , dan kesetiaan.
3)   Barak
Inilah tempat para militer KNIL hidup. Tidak peduli bujangga atau sudah berkeluarga, semua berkumpul di tangsi. Biasanya, tangsi berkolasi di tengah kota. Pintu masuk tangsi selalu dijaga 24 jam dalam sehari. Jam dinas militer di dalam tangsi adalah pukul 06.15 hingga 11.30 terkadang hingga pukul 16.00.
Mereka yang sudah berpangkat Sersan diizinkan berpakaian sipil di dalam  tangsi. Bawahannya harus tetap berpakaian dinas. Pada waktu apel malam, semua sudah harus masuk ke tangsi, terutama pada tangsi yang berada di luar Jawa, sesudah lampu dimatikan, suasana sunyi senyap akan langsung menyergap tangsi.
Serdadu yang masih bujangga, tidur dibarak dengan tempat tidur yang berjajar, sedangkan mereka yang sudah berkeluarga, baraknya disekat-sekat dengan ukuran 3x4 meter. Hanya cukup untuk satu tempat tidur. Dari sanalah istilah anak kolong berasal. Kamar mandi dan kakus dipakai bersama. Tentu saja, dipisahkan antara lelakai dan perempuan. Memasak dilakukan di dapur umum, bagi keluarga prajurit rendahan.
Bagi perwira Bintara, disediakan perumahan di luar tangsi bila keadaan memang memungkinkan. Untuk menempatinya, mereka akan dikenakan biaya 12% dari gaji. Dengan demikian, mereka lenih bebas untuk menjalankan kehidupan rumah tangga sehari-hari. Uang makan yang dibagikan KNIL bervariasi jumlahnya. Tergantung dari jumlah keluarga, bangsa, dan suku. Dapat digambarkan sebagai berikut:
1.    Serdadu Eropa mendapat jumlah terbesar, karena beberapa kali dalam seminggu mereka mendapat makanan Eropa. Mereka juga mendapat rodi untuk makan pagi dan malam.
2.    Golongan Ambon dan Manado mendapat hak istimewa berupa selingan makanan Eropa, yaitu roti dan kentang.
3.    Golongan yang terendah adalah serdadu Jawa. Mereka hanya mendapat nasi. Untuk sarapan, mereka mendapat ketan dan sesuatu yang manis.
4.    Diskriminasi oleh Belanda itu membuat prajurit tak pernah akur. Satu golongan merasa lebih tinggi dari pada yang lain. Mereka mendapat gaji secara mengguan.
c.       Keberadaan KNIL di Nusantara
KNIL adalah tentara yang dipakai Belanda dalam menguasai dan mengatur nusantara. Namun demikian, kehebatan KNIL tidak lagi terlalu berarti ketika Belanda ingin kembali menjajah Indonesia sesudah Perang Dunia II, pada tahun 1946 hingga 1950. Kerena pada saat itu, Indonesia sudah mulai merasa perlu bersatu. Keseluruhan Nusantara telah berwujud dalam Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).
Secara resmi, KNIL berada di Nusantara dari tahun 1830 sampai dengan 1950. Kesatuan ini hilang seiring dengan perginya Belanda dari Indnonesia. Sebelum KNIL berdiri resmi dengan tugas sebagai tentara Hindia Belanda di Indonesia, peperangan di Nusantara ditumpas oleh prajurit Belanda sendiri. Untuk menambahkan kekuatan pasukannya, Belanda akan mengambil putra-putra daerah. Wilayah yang sering direkrut penduduknya adalah Ambon, Kepulauan Aru, dan Madura. Ketika menumpas pemberontakan di Bali, Belanda mengambil berusan orang-orang Ambon, Jawa, dan Manado.
Pemberontakan yang terjadi di Nusantara mulai gencar ketika Inggris meninggalkan nusantara. Sebagaimana diketahui, Inggris sempat memegang kendali jajahan Belanda sepanjang tahun 1811-1916. Pemerintahan Inggris yang lebih menusiawi membuat banyak daerah memberontak ketika Belanda datang lagi.
Dapat disebut beberapa pemberontakan, misalnya pemberontakan Patimura, pemberontakan Kerajaan Palembang, dan lainnya. Belanda memerlukan kesatuan tentara yang dapat bertindak cepat dan lugas dalam menangani pemberontakan itu. Ketentraman itu haruslah bersifat tetap dan diambil dari pel bagai daerah di Nusantara. Karena berbagai pemberontakan tersebut menjadi pelajaran berharga yang memberikan kesimpulan kepada Belanda bahwa Hindia Belanda harus membentuk pasukan tersendiri. Oleh karena itu, pada tahun 1831, KNIL resmi dibentuk.
Dalam upayanya kembali menjajah nusantara yang telah menjadi Republik Indonesia, Belanda mencoba menerapkan kemampuannya memecah belah bangsa ini. Sebagaimana yang dahulu mereka lakukan karena itu, didorongnya semangatprimordialisme putra daerah dengan membentuk negara kedaerahan. Misalnya Negara Indonesia Timur, Republik Maluku Selatan, dan lain-lain.
Politik Belanda itu dikenal dengan Divide et Impera, membagi dahulu baru kemudian memerintah.
Van Huetsz menjadi Gubernur Jenderal (1904-1909) dan dalam jabatan ini dia bertanggungjawab atas penaklukan-penaklukan terakhir di seluruh Indonesia. Daerah kekuasaan Belanda di Nusantara bagian Barat disempurnakan dengan pendudukan militer atas kepulauan Mentawai dari sekitar tahun 1905, walaupun ada perlawanan lokal yang berlangsung lama. Pada sekitar tahun 1910 perbatasan negara Indonesia yang sekarang ini telah ditentukan secara kurang lebih oleh angkatan bersenjata kolonial dengan banyak korban jiwa, uang , kerusakan, kepaduan sosial, dan martabat serta kebebasan manusia. Akan tetapi, perasaan benci terhadap penaklukan dan eksploitasi kolonial tidak akan membuat seorang buta akan akibat-akibat yang lebih positif dari perluasan kekuasaan Belanda. Sistem-sistem politik feodal, perbudakan, pembakaran janda, peperangan-peperangan saudara, pengayauan kepada kanibalisme, perampokan , dan praktek-praktek lain yang tidak dapat diterima di hapuskan di bawah kekuasaan Belanda. Tentu saja bentuk-bentuk kejahatan yang baru dan lebih modern mengantikan praktek-praktek tersebut ketika pihak baru dan lebih modern menggantikan praktek-prektek tersebut ketika pihak penjajah yang hidup dalam alam industrialisasi mulai mengeksploitasi rakyat yang dijajahnya. Akan tetapi, dalam hal-hal yang penting banyak orang Indonesia telah  dipaksa memasuki zaman yang lebih modern. Dasar-dasar telah diletakan bagi pembentukan suatu bangsa harus yang dsatukan oleh tradisi-tradisi budaya dan politik selama berabad-abad dan oleh pengalaman terakhir dari penaklukan dan pemerintah Belanda. Belanda tidak menciptakan Indonesia, tetapi mereka telah menciptakan luas wilayahnya dan menciptakan suatu lingkungan yang dimana kekuatan-kekuatan kaum nasionalis akhirnya dapat tumbuh dan berkembang.
Bagaimanapun juga, memang bijaksana apa;agi kita memperhatikan cara-cara yang diselenggarakan untuk membangun neara jajahan baru ini. Karena rakyat Indonesia masih terpecah-pecah, maka mereka tidak saja dapat ditaklukan oleh kekuatan penjajah yang relatif kecil tetapi juga secara aktif ikut serta dalam penaklukan satau sama lain. Pada tahun 1905 penduduk asli Indonesia diperkirakan berjumlah sekitar 37 juta jiwa. Orang-orang Eropa yang bertugas di dalam angkatan darat dan angkatan laut kolonial di Indonesia pada waktu itu seluruhnya hanya berjumlaj 15.866 orang perwira dan prajurit. Akan tetapi , orang Indonesia yang dalam angkatan darat (24.522) dan 68% di antaranya adalah orang Jawa, 21% orang Ambon, dan sisanya adalah orang-orang sunda , Madura, Bugis, dan Melayu (kebanyakan) dari ti,or
. perasaan tentang identitas Indonesia atau tujuan-tujuan bersama belum ada. Sebagian besar orang Jawa, misalnya, tidak mengatahui maupun tidak memperduikan apa yang terjadi di Aceh, kecuali mereka yang bertempur di pihak Belanda untuk menghancurkan kemerdekaannya. Tumbuhnya suatu identitas Indonesia yang menjadi milik bersama harus mengunggu terjadinya peristiwa-peristiwa yang menggemparkan pada abad XX.
d.      Pola kekuatan dan Komposisi TentaraKNIL
Kalau ditelusuri bahwa perwira-perwira Belanda adalah tamatan KMA Breda, sebuah akademi militer ternama di negeri itu. Tetapi, serdadu mereka di abad ke-19 itu adalah bintara dan tamtama yang direkrut sebagai sukarelawan. Atau paling tidak mereka dibujuk untuk menjadi serdadu Kompeni. Jumlah mereka seluruhnya mencapai 109.000 orang. Jadi, selama masa kekuasaan pemerintahan Hidia Belanda , telah dikirim sekitar 1.500 sampai 1600 orang tiap tahun dengan kapal/ jumlah itu masih kurang karena yang dibutuhkan adalah 2000 orang per tahun.
Tidak semua serdadu yang dikirim itu orang-orang Belanda. Bila dihitung orang-orang Belanda hanya mencapai 61% saja. Dari 39% sisanya adaalh orang Belgia (30%), orang Jerman (30%), orang Swiss (20%), dan orang Perancis 12%. Mereka diambil di Harderwijk dengan segala bujukan dan pemberian uang panjan karena itu, agar mereka tidak lari, pengawalan akan dilakukan dengan ketat hingga mereka naik ke kapal yang akan membawa mereka.
Belanda juga mengambil serdadu dari koloni mereka di Afrika Barat (sekarang dikenal sebagai Ghana). Belanda melakukan itu samapai dengan tahun 1967. Karena berkulit hitam, mereka di Sebut Belanda Hitam atau Mardjikers.
Orang-orang Indo berkulit hitam di tanah air, boleh jadi berasal dari keturunan mereka. Peranakan Indo-Belanda di Indonesia, banyak juga yang diambil menjadi seradadu. Jumlah mereka mencapai 14% pada mulanya. Tetapi kemudian meningkat hingga 25% terutama yang diambil adalah anak-anak yang lahir di tangsi. Pendaftaran menjadi prajurit Hindia Belanda sebagian besar dilakukan di Pulau Jawa, Sulawesi Utara, dan Kepulauan Maluku, terutama Ambon. Sementara itu, rekrutan pemuda pribumi lainnya dilakukan bekerja sama dengan kepala desa atau lurah setempat.
Salah satu daerah yang menyediakan serdadu-serdadu VOC yaitu Savu, Nusa Tenggara. Sifat budaya oleh perluasan kekuasaan Belanda. Savu relatif terkecil sebelum abad XIX, menolak Islam maupun Kristen, walaupun telah terjadi perpindahan penduduk Savu ke Sunda. Mulai sekitar tahun 1860 Savu dipaksa membuka diri bagi dunia luar. Salah satu di antara akibat-akibatnya yang pertama adalah berjangkitnya wabah cacaar yang menewaskan antara sepertiga samapai separuh penduduk Savu pada tahun 1869, juga mulai beroperasi misionaris Kristen di sana. Orang-orang yang masuk agama Kristen ditolak oleh masyarakat Savu, yang sangat berbeda dengan keadaan di Roti, dan orang-orang Savu yang beragama Kristen tersebut kinmi mendapat dorongan dari pihak Belanda untuk menetap di Sumba dalam jumlah yang lebih besar dalam rangka untuk menghambat penyebaran agama Islam di sana, dan Timor (tetapi dalam jumlah yang lebih kecil). Pada waktu yang bersamaan orang-orang Roti yang beragama Kristen mendapat dorongan untuk menetap di Timor. Dengan demikian, ekonomi penyadapan lotar orang-orang Roti dan Savu dipindahkan ke Sumba dan Timor. Di kedua pulau tersebut kaum pendatang membentuk suatu elite yang terpercaya dan terpelajar yang oleh pihak Belanda dilingdungi dari serangan penduduk setempat. Paa abad XX orang-orang Roti dan Savu yang beragama Kristen itu mendominasi dinas pemerintahan maupun gerakan-gerakan anti penjajah di Timor. Perubahan-perubahan yang penring juga menyertai pengenalan ternak Bali di Timor mulai sekitar 1910, perkembangan-perkembangan itu dianalisis secara rinci oleh Fox.
Bial lulus dan menjadi serdadu, kepada mereka akan diberikan langsung uang panjar. Mereka yang direkrut dari luar Jawa akan langsung dinaikan ke kapal untuk dibawa ke Jawa. Pada tahun 1916, jumlah prajurit di aknil terdiri dari 17.854 orang Jawa, 1.792 orang Sunda, 151 Madura, 36 Orang Bugis, dan 1.066 orang Melayu. Terdapat juga 3.519 orang Ambon, 5.925 orang Manado, dan 59 orang Arafuru. Jumlah tersebut masih dilengkapi lagi dengan 8.649 orang Eropa. Sebanyak 6.061 di antaranya didatangkan langsung dari Belanda. Sisanya 1815 orang berasal dari Hidia Belanda.
Jumlah ini kemudian meningkat. Pada tahun 1929, serdadu KNIL sudah mencapai jumlah 37.000 orang yang terdiri dari beragam ras. Sebanyak 18% adalah orang Eropa. Sisanya terdiri dari orang pribumi dari berbagai suku (Jawa, Sunda, Manado, Ambon, Timor).
Bila pun ada suku lain di luar itu, jumlahnya tak signifikasi. Hanya sekitar hampir 1% mereka adalah orang Melayu, Aceh, batak, Madura, dan Bugis. Persentase terbanyak adalah orang jawa, mencapai 45% dengan 5% orang Sunda. Komposisi orang Jawa pada umumnya mencapai 50%. Menuerut Belanda, orang jawa akan lebih menonjol sebagai militer bila mereka dicampur dengan suku-suku lain. Hal ini terbukti pada Brigade Marsose di Aceh. Dalam satu Kompi Marsose, 20 Orang serdadunya terdiri orang Ambon, Manado, dan Jawa.
Orang-orang Manado mengambil porsi 15% di KNIL, sedangkan orang Ambon, di luar perkiraan umum, hanya mencapai 12% saja. Sekitar 4% adalah orang Timor yang berasal dari pulau Savu dan Rote. Kesatuan KNIL membagi organisasi dalam berperang sesuai dengan sifat dan karakter masing-masing suku. Pada sebuah batalion infanteri empat barisan perang.
Kompi pertama adalah orang Ambon atau Timor. Kompi ketiga dan keempat adalah Sunda dan Jawa. Setiap kompi mempunyai tugas masing-masing. Kompi pertama berhadapan langsung dengan musuh, menyerang, menembak, kemudian membuat lubang perlingdungan. Bila mungkin harus berusaha berada di belakang musuh untuk menghitung kekuatan mereka.
Kompi kedua merupakan pasukan pengembur, bertugas melibas musuh, tetapi, harus segera di tarik kembali sebelum membuat semuanya hancur kompi ketiga dan keempat bertugas melakukan pendudukan dan menciptakan perdamaian. Ini karena orang Jawa dan Sunda dipandang mempunyai sifat tenang dan mampu menahan diri.
Dalam sistem pengajian, Belanda melakukan diskriminasi. Ini selaras dengan politik divide et impera yang dijalankan Belanda. Yang paling terkena diskriminasi adalah orang Jawa. Mungkin karena mereka cenderung nrimo, diam saja dan tidak banyak protes.
3.      Peranan tenyata KNIL dalam penumpasan pemberontakan di Indonesia
Dalam pelaksanaan tugasnya tentara KNIL banyak berjasa terhadap pemerintah Hindia Belanda. KNIL di Jawa melakukan operasi secara terpencar, sesuai pola peperangan modern untuk menghindari kekalahan yang besar namun, di luar Jawa, mereka beroperasi dengan sistem patroli. Pola operasi itu sangat spesifik, tergantung kebutuhan tiap daerah. Pada daerah yang dikuasai oleh pemerintah Hindia Belanda, ditempatkan sebuah detasemen atau garnisum. Besar garnisum atau biasa juga disebut tangsi akan disesuaikan dengan luas wilayah yang dikuasai. Sebuah garnisum akan terdiri dari beberapa brigade infanteri. Pada mulanya, satu brigade terdiri dari 20 orang tetapi, dengan alasan penghematan, jumlah itu kemudian diciutkan menjadi 15 orang garnisum terkecil dipimpin ole seseorang letnan satu.
Bebagai ekspedisi dijalankan oleh tentara KNIL yang pada intinya hanya untuk menggerogoti daerah sendiri. Pada tahun 1816, kekuatan KNIL berjumlah 12.600 orang. Sebanyak 6.000 di antaranya adalah prajurit Belanda atau Eropa. Dalam Perang Diponegoro, kekuatan pasukan ini ditambah dengan 19.500 orang lagi, namun usia perang jumlah pasukan hanya tinggal 13.555 orang saja terlihat jelas, betapa besar kerugian yang ditimbulkan di pahak Belanda. Lebih dari 15.000 prajuritnya tewas. Sebanyak 8.000 di antaranya adalah pribumi. Tetapi, lawan KNIL, yaitu orang Jawa, tewas dengan angka yang lebih fantastis, yaitu 200.000 orang.
a.    Ekspedisi-ekspedisi KNIL di Indonesia 1930-1941
1)      Ekspedisi Puputan Bali
Pada bulan September 1906 belanda menjalankan kebijakan politiknya yang baru tahun 1893 dilaksanakan terhadap daerah-daerh diluar pulau Jawa. Yaitu mengirimkan pasukan tentara di pantai SanurBali dengan alasan, Raja Badung di Bali tidak bersedia membayar kerugian atas perampokan sebuah kapal milik orang Cina yang kandas di pantai Bali. Sebelumnya, tentara kolonial atau KNIL dikirim hanya untuk memadamkan pemberontakan di daerah luar pulau Jawa. Menurut Sejarawan Inggris yaitu M.C.Ricklefs dalam bukunya Sejarah Indonesia Modern.
“pada akhir 1840 ada dua faktor yang menyakinkan pihak Belanda bahwa Bali harus ditempatkan di bawah pengaruh mereka, yaitu perampokan dan perampasan yang dilakukan oleh orang-orang Bali terhadap kapal-kapal yang terdampar dan adanya kemungkinan kekuatan Eropa lainnya akan menguasai Bali”(Ricklefs, 1991:203).
Keterangan  Ricklefs memberikan gambaran bahwa Bali memiliki suatu peranan yang besar di mata bangsa Eropa. Protes pelaksanaan ekspedisi terhadap Bali dapat dilihat dari sebuah laporan resmi KNIL mengungkapkan ,bahwa artileri menempatkan diri di perempatan pada waktu puputan dilakukan oleh Raja beserta keluarga Kerajaan Pamecutan
“pukul 7 pagi serdadu berangkat dari Puri Kesiman akan menyerang Denpasar di kali Ungu dijaga oleh beberapa rakyat Badung yang bersenjata tombak dan keris, diantaranya ada juga bersenjata bedil, soldadu tidak berhentinya membuang pelor sampai-sampai banyak pasukan Badung mendapat kematian luka-luka, sedang dari pihak Kompeni seorang Kompeni seorang luka kena tembak. Pukul 11 tengah hari soldadu masuk di Taen Siat berperang Cuma 1.30 jam lamanya, lalu musuh mundur sampai dimana jalanan muka Pura Satria di mana Raja Badung tinggal menunggu duduk di atas joli (tandu) yang dipikul orang serta diiring oleh beribu orang lelaki perempuan dengan senjata tombak dan keris, soldadu tidak berkeputusan membuang pelornya sehingga rakyat Badung mati bertumpuk-tumpuk karena mapuputan” (Creese 2006:118).
Peristiwa yang terjadi beberapa jam sebelumnya terulang kembali , dengan perbedaan bahwa jarak antara pasukan Belanda dan para orang-orang Bali lebih jauh, di aman kebanyakan dari orang Bali dengan sembunyi dan memulai tembok ke Belanda.hanya beberapa orang Bali dengan sembunyi dan melalui tembok ke tembok mencoba mendekat, meskipun akhirnya ditewaskan oleh infanteri Belanda. Di sini mereka juga tidak ingin menyerah. Mereka yang terluka dibunuh oleh orang-orang Bali sendiri sedang keris-keris mereka. Sedangkan kebanyakan dari mereka bunuh diri dengan menikamkan keris ke ke dirinya
Laporan dari arteri KNIL mencatat, bahwa setelah kelompok yang berada pada jarak 250 meter dari meriam-meriam Belanda sebagian besar telah ditewaskan. Akhirnya menarik diri. Kemudian, tembakan diarahkan kepada kelompok-kelompok yang berbaris rapat yang pada jarak 600 meter dari meriam-meriam Belanda. Mereka ada yang berhenti berjalan, dan ada juga yang secara perlahan-lahan maju ke arah artileri sebanyak 101 kali, semua musuh dapat ditewaskan di antaranya Raja Pamecutan.
Seorang perwira Belanda bernama Van Kol, yang kemudian menjadi anggota parlemen Belanda, menceritakan bahwa serdadu-serdadu Belanda, veteran-veteran perang peperangan kolonial, dan yang sudah sering mengalami pertempuran berdarah dan kejam di beberapa daerah, pada saata kemenangan di Bali tidak ada yang meneriakkan sorak kemenangan. Banyak di antaranya berwajah pucat, mengucurkan air mata, dan mereka mengakui bahwa karena keadaanlah yang memaksa, mereka harus melakukan tugasnya. Meskipun yang tewas adalah musuh Tentara Hindia Belanda, namun atas nama Parlemen Belanda ia menyampaikan hrmat dan penghargaan atas sifat kepahlawanan yang mereka perlihatkan di perlihatkan di saat menghadapi kematian.
Sedangkan dalam sebuah laporan resmi dikatakan, bahwa pada saat menyerah dan menduduki Denpasar (Badung), telah meninggal seorang Belanda berpangkat Sersan, dan tiga prajurit. Sedangkan dari pihak Bali, yang tewas adalah Raja Denpasar dan Raja Pamecutan bersama keluarga intinya, juga para penggawa, wanita-wanita, dan beberapa anak, jumlah keseluruhan yang meninggal diperkirakan berjumlah 600 orang. Dalam peristiwa puputan Peranan KNIL/Kompeni menggunakan Batalion 11,12,13.
2)      Ekspedisi Aceh
Ekspedisi terbesar yang dilakukan oleh pemerintah Hindia Belanda yaitu penaklukan Aceh, hal ini berdasarkan M.C. Rcklefs dalam bukunya yang berjudul sejarah Indonesia Modern yang diterbitkan oleh Gadjah Mada University press tahun 1991 yang mengatakan.
“ekspedisi Belanda yang kedua dikirim pada akhir tahun 1873. Ekspedisi ini adalah yang terbesar di antara ekspedisi-ekspedisi yang pernah mereka himpun di Indonesia: 8500 orang serdadu, 4300 orang pelayan dan kuli, dengan pasukan cadangan berjumlah 1500 orang serdadu yang segera ditambahkan” ( Ricklefs, 1991:220).
Ketegangan antara Aceh dengan Belanda mulai timbul pada tahun 1858, antara Aceh dengan Belanda mulai timbul pada tahun 1858, ketika Belanda mengadakan perjanjian dengan Sultan Siak yang berisi ketentuan bahwa Siak menyerahkan daerah-daerah Deli, Serdang, Langkat, dan Asahan kepada Belanda. Aceh menganggap bahwa daerah-daerah tersebut adalah wilayah Aceh sejak pemerintahan  Sultan Iskandar Muda.
Pada tahun 18871 antara Inggris dan Belanda diadakan perjanjian yang terkenal dengan nama Traktat Sumatera. Dari Isi traktat itu yang dirasakan mengamcam Aceh, ada ketentuan bahwa Inggris memberi kebebasan kepada Belanda untuk mengadakan perluasan di Sumatera, termasuk didaerah Aceh. Aceh merasa terancam, dan karenanya segera kerajaan ini memperkuat diri. Dengan luar negeri diantaranya menjalin hubungan dengan Turki, Amerika Serikat dan Italia, pembicaraan itu dilakukan Di Aceh.
Ternyata Belanda sudah siap melakukan serangan. Mereka bertindak sepat. Pada tahun 1873 Belanda mengirimkan pasukan yang berjumlah lebih dari 3000 prajurit, di bawah pimpinan J.H.R. Kohler. Pertempuran berkobar disekitar Masjid Raya dapat direbut Belanda, tetapi hal ini dapat ditebus dengan tewasnya jiwa Jenderal Kohler disekitar masjid raya tersebut. Serangan gagal menundukkan Aceh, Belanda melancarkan Blokade.
Ekspedisi kedua datang di bawah Jenderal Van Switeen dengan 8000 pasukan. Belanda berhasil merebut Istana. Rakyat Aceh melawan Belanda dipimpinoleh panglima Polem. Perlawanan rakyat bergeser ke luar Kota Belanda menemui kesulitan untuk mendudukan rakyat Aceh disebabkan banyak faktor diantaranya sistem ketatanegaraan Aceh yang berbeda dengan daerah lain di Indonesia seringkali menyesatkan operasi-operasi militer Belanda. Perlawanan tidak tergantung kepada figure pemimpin. Rakyat berjuang dengan perang Sabil. Luasnya medan perang serta daerah yang berhutan lebat mengulitkan gerak maju pasukan Belanda.
Untuk mengetahui rahasia perjuangan rakyat Aceh belanda mengirimkan Dr. Snouck Hurgronje. Ia datang di Aceh perpura-pura menjadi muslim yang taat. Dari penelitiannya dapat diketahui bahwa sebenarnya Sultan Aceh tidak mempunyai apa-apa tanpa sepertujuan kepada wilayah di bawahnya. Pengaruh Ulama diwilayahnya sangat besar. Saran Hurgronje kepada pemerintahan jajahan adalah bahwa pemerintahan jajahan harus menggunakan untuk taktik memecah belah kekuatan, kaum ulama harus dihadapi dengan kekuatan Militer, sementara itu keluarga kaum bangsawan harus didekati, dengan diberikan jabatan di pamong praja di lingkungan pemerintahan Belanda.
Untuk mempercepat penaklukan daerah Aceh kembali Belanda melaksanakan tindakan-tindakan licik. Selain melaksanakan saran Snouck Hurgronje seperti termuat dalam bukunya De Atjehers, Belanda menyarankan keluarga Sultan dan para pejuang Isteri Sultan,Isteri anak-anak dan ibu Panglima Polem diculik memaksa Sultan dan Panglima Polim menyerah. Harus diakui bahwa perlawanan Aceh pada abad ke-19 merupakan perlawanan paling berat yang dialami Belanda. Lebih dari 30 tahun Belanda terlibat dalam perang yang sangat berat, setelah perlawanan surut, Belanda memaksakan penandatanganan perjanjian Singkat (Korte Verklaring) kepada kepala-kepala wilayah Aceh. Perlawanan baru terhenti pada awal abad ke-20.
3)      Ekspedisi Tanah Batak
Sejak pertengahan abad ke-19 Belanda melancarkan ekspedisi-ekspedisi perluasan daerah kekuasaan di Jantung Tanah Batak (tanah batak melalui  Madailing dan Angkola). Ekspedisi ini dimaksudkan untuk membulatkan kekuasaan Belanda atas daerah-daerah di pulau Sumatera. Pada tahun1867 Si Singamangaraja XI meningggal dan digantikan oleh Patuan Bosar. Ompu Pulo Batu yang terkenal dengan nama Si Singamangaraja XII. Pada waktu ia menggantikan kedudukan ayahnya, Belanda sudah mempunyai pos, Militer di Sibolga. Dari Sibolga Belanda berusaha memperluas daerah kekuasaannya ke daerah Silindung. Sisingamangaraja XII mencoba mencari jalan dmai, diharapkan agar Belanda tidak mengganggu kemerdekaan Tano Batak. Tetapi tawaran damai ditolak Belanda walaupun upaya tersebut melalui perantara pendeta terkemuka bernama Ludwing von Nommense. Sikap keras Belanda dibalas Sisingamangaraja XII dengan mengadakan kempanye mengobarkan semangat perlawanan. Rakyat siap membantu pemimpinnya yang di cintai itu.
Perlawanan rakyat Batak tetap mampu menahan gempuran Belanda. Kemudian Belanda bersiasat lain. Dianturnya taktik serangan langsung ke pusat kedudukan Si Singamangaraja XII di Bakkara. Dilirimkan pasukan kuat dipimpin oleh Letnan Kerchner, Letnan Schmidt dan Letnan Reest van Limburg. Tugas utamanya adalah menangkap Si Singamangaraja XII hidup atau mati. Benteng Bakkara dapat di tembus, tetapi Si Singamangaraja XII telah mengingkir ke Parnginan dan mengadakan serangan balik.
Sampai tahun 1889 pertempuran besar tejadi di daerah Silindung. Humbang dan Tobe Holbung (di mana terdapat Balige, Tambunan , Laguboti dan Porseas). Sejak tahun 1900 Si Singamangaraja mengambil sikap bertahan, karena banyak prajuritnya yang gugur dalam perang. Ia menyingkir ke arah Pakrak-Pairai. Pada tahun 1904 kedudukan Si Singamangaraja XII semakin terjepit dipimpin oleh kapten Hans Christoffel, bawahan van Daelen berhasil mengurung ruang gerak Si Singamangaraja XII. Si Singamangaraja XII. Dalam usaha memaksa Si Singamangaraja XII keluar dari tempat pertahanannya, pasukan Chritoffel menembak putri SI Singamangaraja XII, bernama Lopian. Pada waktu itulah ia keluar dari pertahanannya dan berhasil ditembak Belanda. Beliau gugur pada 17 Juni 1907.
4)      Ekspedisi Bone, Sulawesi Selatan
Pada tahun 1905, menurut catatan pemerintah Hindia Belanda, tentara Belanda mengadakan ekspedisi lagi ke Bone, Sulawesi Selatan, sebab Raja dari daerah Bone, yaitu Lapawawooy, oleh Belanda di anggap kurang memperdulikan kekuasaan Belanda. Karena itu pemerintah Belanda bermaksud untuk menghukumnya. Pada tanggal 28 Juli 1905, pasukan Belanda mendarat di pantai Sulawesi Selatan. Sebelum mendarat, kapal-kapal perang Belanda melakukan tembakan-tembakan meriam dengan gencar ke pantai , yang ternyata tidak dibalas.
Menurut berbagai sumber, ketika benteng diserang, para prajurit Bone hanya duduk termenung dan memandang tanpa ekspedisi ke depan. Pada tanggal 18 Oktober 1905, pasukan Belanda menemukan tempat Raja Lapawawooy susah berjalan, dan harus di gendong. Rochussen, untuk selanjutnya diasingkan ke Bandung, dengan demikian.Sulawesi Selatan telah diduduki secara keseluruhan oleh Belanda .(Suyono, 2005:93).
5)      Ekspedisi Sulawesi Tengah
Pada tahun 1850 Belanda mengirimkan ekspedidi Militer ke Sulawesi Tengah di pimpin Kapten C Van den Hart, terdiri atas dua buah kapal bernama Argo dan Bromo. Ekspedisi ini memaksakan pemandangan pengakuan raja Para Iskandar Abd Muhammad. Kemudian Gubernur di Makasar juga memaksa raja Kaili (Banawa, Palu, dan Tawaeli) mengakui kekuasaan Belanda atas daerahnya walaupun sudah menandatangani pengakuian tersebut, pada umumnya raja-rajaj Sulawesi Tengah tak mau mematuhinya
Oleh karena itu pada tahun 1888 Gubernur Belanda di Makasar datang membawa pasukan dengan tiga buah kapal perang pecah di pantai kayumalue. Akan tetapi perlawanan rakyat Sulawesi Tengah di daerah ini tak mampu mengimbani kekuatan militer Belanda yang datang dengan pasukan dan persenjataan kuat. Satu persatu raja-raja di daerah ini terpaksa harus menandatangani pengakuan Kekuasaan Belanda atas wilayah kkerajaan-kerajaan si Sulawesi Tengah.
6)      Ekspedisi Kalimantan
Seperti halnya di daerah-daerah laninya, Belanda selalu memaksakan campur tangannya dalam urusan pebggantian Sultan, setelah mereka mempunyai kedudukan kuat. Di Banjarmasin pemerintah Sultan Adam (182-1857, sementara itu putranya yang tertua , Pangeran Abdurrahman diangkat menjadi Sultan Muda. Pada tahun 1851 Belanda mengangkat Pangeran Tamjidilah sehingga menjadi Mangkubumi. Ia seorang pangeran yang sangat menyenangkan Belanda. Banyak memberikan bantuan bagi kelancaran perdagangan Belanda. Tamjidilah memberikan harapan baik bagi Belanda jika pada suatu ia diangkat menjadi Sulta. Pada tahun 1852 Pangeran Abdurrahman meninggal dunia. Belanda kemudian mengangkat Tamjidilah menjadi Sultan Muda, terhadap tindakan Belanda ini timbul reaksi keras, baik Sultan Adam sendirir maupun dari rakyat yang tidak mengakui Tamjidilah yang memihak Belanda. Rakyat menuntut agar Pangeran Hidayat, cucu Sultan Adam, diangkat menjadi Sultan Muda, dan Pamannnya Prabu Anom diangkat menjadi Mangkubumi. Ternyata Belanda bertindalk lai. Belanda mengangkat Tamjidilah sebagai Sultan Muda. Belanda setuju mangangkat Pangeran Hidayat sebagai Mangkubumi. Ketika pada tahun 1857 Sultan Adam meninggal, maka Belanda melantik Tamjidilah sebagai Anom, pamannya yang selama ini dikenal anti-Belanda dan Tamjidilah.perlakuan Belanda yang tidak adil ini menimbulkan perlawanan rakyat. Pangeran Hidayat memihak rakyat.
Pada tahun 1858 Prabu Anom diasingkan ke Bandung, perlawanan rakyat menentang Tamjidilah dan Belanda berkobar pada tahun 1859 di pimppin oleh pangeran Antasari, tokoh-tokoh perlawanan lainnya adalah Kyai Demang Leman, Haji Nasrun, Haji Bayusin dan Kyai Langlang. Pangeran Hidayat juga aktif memimpin pasukan melawan Belanda. Akibatnya Belanda memecatnya sebagai Mangkubumi. Pada tahun 1860 jabatan Sultan Kosong. Tamjidilah tidak mampu lagi memerintah dan menyerahkan kekuasaan urusan pemerintah kepada Belanda, yang kemudian dikirim ke Batavia. Kerajaan Banjar dihapuskan oleh Belanda dan langsung diperintah pemerintah Belanda. Perlawanan berlangsung terus. Akan tetapi karena kekuatan militer Belanda jauh lebih kuat, maka satu demi satu pemimpin perlawanan dapat di tangkap, diasingkan . Pada tahun 1862 Pangeran Hidayat di tangkap, dibuang ke Jawa. Pangeran Antasari berjuang terus sampai meninggal, namun, teman-teman seperjuangannya masih berjuang melawan Belanda, seperti Gusti Matseman, Gusti Acil, Gusti Arsat dan Antung, Durakhman. Perlawanan kecil-kecilan terus berlangsung sampai abad 20.
7)      Ekspedisi Palembang
Pada tahun 1818 suatu ekspedisi Belanda dikirim ke Palembang dan Najaruddin diasingkan ke Batavia. Karena tindakan ini tidak dapat mengakhiri kemerdekaan Palembang, maka dikirim lagi suatu ekspedisi pada tahun 1819, tetapi ekspedisi tersebut dikalahkan oleh Badaruddin. Pada tahun 1821 pihak Belanda menghimpun suatu pasukan yang besar yang terdiri lebih dari 4.000 orang serdadu, yang dapat dipukul mundur dalam serangan pertamanya. Serangan yang kedua berhasil, dan Badaruddin diasingkan ke Ternate. Palembang kini mendekati akhir kemerdekaannya. Putra sulung Najamuddin (1821-1823) Belanda menempatkan Palembang di bawah kekuasaan langsung mereka, dan Sultan dipensiunkan.dia dan pengikut-pengikutnya di istana mereka tidak puas. Pertama-tama mereka mencoba meracun garnisun Belanda pada tahun 1824, dan serangan mereka berikutnya terhadap garnisun tersebut dapat dipukul mundur dengan mudah. Sultan melarikan diri namun menyerah pada tahun 1824 dan diasingkan ke Bandarm kemudian dia dipindahkan ke Manado pada tahun 1841. Pemberontakan yang terakhir meletus pada tahun 1849 yang dapat ditumpas pihak Belanda.
8)      Ekspedisi Jambi
Jambi telah menjalin hubungan dengan VOC sejak abab XVII , tetapi pada tahun 1724 VOC di sana telah ditinggalkan. Belanda mulai dilibatkan diri lagi pada tahun 1833 ketika Sultan Muhammad Fakhuddin (1833-1841) meminta dan mendapat bantuan Belanda dalam melawan para bajak laut, tetapi sesudah itu dia menyerang wilayah-wilayah Palembang. Dia dipukul mundur oleh pasukan Palembang, dan pihak Belanda memanfaatkan kesempatan ini untuk memaksa Sultan menandatangani suatu perjanjian yang mengakui kedaulatan Belanda (1834). Suatu garnisun kolonial didirikan di muara sungai di Muara Kumpe. Pada tahun 1855 Sultan Abdul Rahman Nasiruddin (1841-1855) digantikan oleh ratu Taha Saifuddin (1855-1858) yang tidak mau menandatangani perjanjian dan dengan demikian mengakibatkan kelancarannya suatu serangan oleh Belanda pada tahun 1858. Taha melarikan diri ke wilayah pedalaman dengan membawa serta tanda kebesaran kerajaan yang paling penting. Para pengantinya. Yang mendapat dukungan Belanda, mengakui kedaulatan Belanda, tetapi Taha dan para pendukungnya menguasai sebagian besar wilayah pedalaman dan membangkitkan pelawanan selama beberapa dawarsa. Dia akhirnya terbunuh oleh suatu patroli pemerintah di wilayah pedalaman pada tahun 1904. Pada tahun 1899 Sultan terakhir yang diakui oleh Belanda, Ahmad Zainuddin (1885-1899), mengundurkan diri. Oleh karena pihak Belanda dan kalangan elite Jambi tidak dapat mencapai kesempatan mengaenai penggantinya, maka Presiden Belanda di Palembang diserahi kekuasaan atas Jambi pada tahun 1901. Meletuslah perlawanan baru yang tidak dapat ditumpas oleh ekspedisi-ekspedisi militer yang dikirim ke daerah-daerah pedalaman Jambi samapai tahun 1907.
9)      Ekspedisi Nusa Tenggara
Lebih jauh ke Timur pulau-pulau Nusa Tenggara lainnya (kepulauan Sunda Kecil), suatu istilah yang mengcangkup Lombok. Baru berhasil diletakkan di bawah  kekuasaan Belanda yang efektif pada dasawarsa pertama abad XX. Pulau-pulau yang penting adalah Sumbawa, Flores, Sumba, Savu, Roti, Timor, serta gugusan-gugusan Pulau Solor dan Alor.
Dalam bukunya MC.Ricklefs sejarah Indonesia Modern. Daerah Flores merupakan sasaran utama kegiatan Belanda pada abad XIX. Perdagangan budak dan perampasan terhadap kapal-kapal yang terdampar di kawasan ini mengakibatkan datangnya ekspedisi-ekspedisi ke Flores pada tahun 1838 dan 1946. Orang-orang Portugis masih tetap menguasai Timor-Timor dan mengajukan tuntutan atas wilayah-wilayah lainnya, tetapi pada tahun 1859 mereka mengakui tuntutan Belanda atas Flores. Pada tahun 1890 suatu ekspedisi militer Belanda lebih lanjut dikirim ke sana untuk melindungi suatu misi eksplorasi timah. Suatu pemberontakan yang meletus pada tahun 1907 menyebabkan bergeraknya suatu pasukan ekspedisi kolonial yang menyapu bersih seluruh Flores pada tahun 1907-1908 dan berhasil menumpas perlawanan disemua tempat, tetapi tentu saja tidak menghapuskan perasaan dendam penduduk di daerah itu terhadap kekuasaan Belanda. Daerah-daerah Nusa Tenggara lainnya juga dapat ditundukkan dibawah kekuasaan Belanda secara definitif pada tahun 1905-1907, akan tetapi pihal Portugis tetap menguasai Timor-timur.
b.         KNIL pada perang kemerdekaan 1945-1949
Selama masa perang kemerdekaan tahun 1945-1949, perjuangan bangsa Indonesia masih lebih banyak di tandai oleh perjuangan fisik untuk mempertahankan kemerdekaannya terhadap bahaya dari luar. Bahaya ini terutama datang dari Jepang, Inggris dan Belanda. Namun, selain itu perjuangan melalui ajang diplomasi pun memiliki andil yang cukup menegakkan kedaulatan negara.
Negara-negara sekutu yang menang terhadap Jepang bermaksud kembali ke daerah bekas jajahannya. Mereka membentuk Southest Asia Command (Komando Asia Tenggara) di bawah laksamana Lord Luis Mountbatten. Komando khusus untuk di Indonesia bernama Allied Forces Netherlands East Indies (AFNEI) di bawah Letjen Sir Philips Christison. Tugasnya adalah menerima penyerahan dari tangan Jepang, membebaskan tawanan perang dan Interniran sekutu, menegakkan dan mempertahankan keadaan damai untuk kemudian diserahkan kepada pemerintah sipil dan menghimpun keterangan tentang penjahat perang serta menuntutnya ke depan pengadilan sekutu.
Tentara Hindia Belanda menggunakan taktik penyerangan terhadap Indonesia secara bertahap. Tahap pertama adalah tehap penghancuran (Istilah Clausewitz: Niederwerfungs), dengan menyerang, merebut, menduduki dan mendayagunakan segala keunggulan daya tembak, daya gerak dan keunggulan udaranya.tahap kedua adalah tahap pasifikasi, tahap pembersihan daerah, di mana pasukan-pasukan disebar di daerah yang telah dikuasai dan gerakan pembersihan dilakukan dengan tehnik yang pernah diterapkan tentara Kolonial Hindia Belanda (KNIL), yang dikenal dengan taktik dan tehnik VPTL (Voorschrift voor de uitoefening van de politiek-politionele Taak van het Leger “buku Petunjuk kepolisian bagi tentara”), sebelum perang Dunia II di Hindia Belanda” (Soetanto 2006:365)
Pasukan sekutu mendarat di Tanjung Priok dengan kapal Cumberland di bawah laksamana Muda Patterson. Kedatangan mereka diterima oleh bangsa Indonesia tanpa rasa curiga dan bermusuhan. Akan tetapi, setelah diketahui Belanda membonceng, sikap bangsa Indonesia berubah terhadap mereka. NICA merupakan badan pemerintahan yang akan menegakkan kembali penjajahan di Indonesia. NICA dipersenjatai kembali KNIL yang telah dilepaskan dari tawanan.
Kedatanga pasukan-pasukan serikat itu disambut dengan sikap netral oleh pihak Indonesia. Akan tetapi setelah bahwa pasukan serikat Inggris itu datang membawa orang-orang NICA (Netherland Indies Civil Administratio) yang dengan terang-terangan hendak menegakkan kembali kekuasaan Hindia Belanda, sikap Indonesia berubah menjadi minimal curiga, maksimal bermusuhan, situasi keamanan dengan cepat merosot menjadi buruk sekali. Sejak NICA mempersenjatai kembali orang-orang NICA dan KNIL di Jakarta, Bandung, dan kota-kota lain kemudian memancing kerusuhan dengan cara mengadakan provokasi-provokasi bersenjata. (Poesponegoro 1993:122).
KNIL juga telah menyediakan pasukan yang sementara itu sudah berteriak untuk Belanda di Indonesia. Mereka dari militer yang dibebaskan dari Kamp tawanan perang dan kondisi fisiknya masih cukup baik, tetapi juga ada orang-orang pribumi dari suku Ambon, yang sejak dulu memang sudah direkrut KNIL. Batalyon-batalyon KNIL inilah yang dimanfaatkan Belanda antara November 1945 dan Maret 1946 untuk serangan pertama, yaitu menduduki pulau We 9 di ujung Utara Pulau Sumatera. Pulau bangka, Pulau Bali, dan Pulau Lombok. (Heijboer 1998:24).
Adapun ekspedisi-ekspedisi setelah kemerdekaan 1945-1949
1)   Pendaratan di Pantai Timur Jawa
Ujung timur Pulau jawa yang sepi, berkedudkan sangat religius, dan berabad-abad berkehidupan, tentang turun-menurun sebagai petani dan nelayan. Di balik ketenangan itu ia menyimpan segudang kepentingan ekonomis yang tercantum dalam rencana Operasi “produk” yang dilaksanakan pada tanggal 30 Juni 1947.
Demi merebut sawah dan perkebunan gula serta kopi yang sangat berharga di eilayah ini, pimpinan militer Belanda memiliki Senjata Ampuh, yaitu Divisi A yang berada dalam kantong Surabaya. Undur AD dalam divisi ini terdiri dari Batalyon-batalyon sukarelawan yang berpengalaman dari Brigade X. sementara bagian lainnya Brigade Marinir didikan AS yang agresif.
2)   Pertempuran Di Sumatera
Kolonel P. Scholten, komandan Brigade Z yang terpusat di Medan, melancarkan serangannya pada tanggal 21 Juli pagi dengan gerakan peningkaran. Hal ini berawal di kota Pelabuhan Labuhan dan diarahkan ke Binjai, pertahanan Divisi Gajah II pasukan Republik. Diatas peta letak Binjai hanya 25 kilometer dari Medan, dan jalannya bagus, tetapi kedua batalyon KNIL. Mengambil jalan memutar lewat utara. Terhadap Labuhan saja mereka segera terbentur pada perlawanan kuat bagitu mereka melintasi garis Demarkasi. Dekat desa terjut sudah terjadi pertempuran dengan KNIL berjam-jam, yang sedang berlangsung di sela-sela permohonan semak-semak, dan padang ilalang. Rasanya seperti KNIL 6 dan KNIL 4 tidak dapat menembus, tetapi sekitar siang hari mereka akhirnya menerobos Sore kendaraan berlapis baja mereka sempat mencapai jembatan di atas Sei Belawan (Sei-Sungai).
  

KESIMPULAN

1.    Sejak persekutuan dagang Belanda VOC (Verenigde Oostindische Companie) bangrut (1602-1799) dan digantikan oleh pemerintah hindia Belanda. Gubernur jebderal pemerintah Hindia Belanda mengeluarkan suatu kebijakan baru tentang pengaturan sistem militernya. Kebijakan baru tersebut dikeluarkan pada tahun 1830 yaitu dengan membentuk satuan militer yang berasal dari putra-putra daerah yang direkrut dari pel bagai pelosok di tanah air. Nama dari satuan itu yaitu KNIL (Het Koninklijke Nederlandsche Indisvhe Leger) adapun tugas utama kesatuan tentara ini adalah menumpas pemberontakan dalam upaya membantu pemerintah Hindia Belanda memperluas wilayah kekuasaannya di nusantara. Sebelum KNIL berdiri resmi dengan tugas sebagai tentara Hindia Belanda di Indonesia, peperangan di Nusantara ditumpas oleh prajurit Belanda sendiri. Adapun dasar dari perekrutan tentara dari pribumi yaitu untuk mengurangi resiko banyak tentara Belanda yang tewas dalam pertempuran. Secara resmi KNIL berada di Nusantara dari tahun 1830 sampai dengan 1950. Kesatuan ini dibentuk untuk mengurangi didatangkannya pasukan Hindia Belanda dari negeri Belanda. KNIL adalah tentara yang dipakai Belanda dalam menguasai dan mengatur Nusantara. Dalam perkembangannya pasukan ini bertambah besar karena kurangnya rasa nasionalisme akibat dampak dari strategi politik pemerintah Hindia Belanda yang menekankan politik “Devide et impera” pecah belah. Strategi perang yang umunya digunakan dengan memutuskan hubungan dengan kerajaan sekitar dan memberikan penghargaan terhadap kerajaan yang membantunya.
2.    Daerah asal pasukan KNIL ditinjau berdasarkan tingkat kesuburan tanah yang sangat rendah dan tingkat kesetiaan terhadap pemerintah Belanda dan pasukan ini bertambah besar karena kurangnya rasa Nasionalisme akibat politik pecah belah. Kesatuan ini hilang setelah Jepang menguasai Indonesia 1942-1945. Perang tentara KNIL setelah Indonesia merdeka, tentara KNIL kembali bertugas untuk mengacaukan situasi negara yang dikenal dengan pada massa perang kemerdekaan 1945-1949. Kesatuan ini menciptakan tentara yang bertindak cepat dan lugas dalam menangani pemberontakan di berbagai daerah di Nusantara. Tentara ini bersifat tetap dan berasal dari berbagai daerah di Nusantara. Dalam melaksanakan tugasnya KNIL menggunakan strategi devide et impera yang dimulai dari dalam pasukan KNIL itu sendiri, selain itu metode yang digunakan untuk memenangkan peperangan, KNIL menyerang dengan membawa pasukan dua kali lebih banyak dari lawannya. Sistem organisasi pasukan yang digunakan KNIL sudah terorganisir dari jabatan sampai pembangian barat pun sudah diatur sebagai organisasi yang modern”
“Pemuda yang dipanggil adalah mereka yang sehat jiwa raga, terutama mantan PETA, Heiho, KNIL, Kaigun, Seinendan, dan lain-lain, baik yang sudah meupun yang belum mendapat latihan militer. Dengan dibentuknya TKR, maka berakhirlah secara diam-diam BKR yang dibentuk tanggal 20 Agustus 1945, tanpa pembubaran,”
Menurut Willard A et.al. 1996:253

Pemimpin “Republik Maluku Selatan” adalah orang-orang terpelajar merupakan elite intelektual. Para pejuangnya bekas tentara kolonial Belanda. Beberapa pemimpinnya melarikan diri ke negeri Belanda di mana mereka mendirikan “pemerintahan dalam pembuangan”. Pendukung utama negara bayangan Republik Maluku Selatan adalah orang-orang Ambon anggota tentara kolonial Belanda yang tidak dimobilisasi di Ambon tetapi di negeri Belanda” tahun 1950 berakhirlah tentara KNIL dengan Tentara pemberontakan RSC Republik Maluku Selatan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar